Langkah Gesit Bank Besar Perkuat Ekosistem Perbankan Digital

Kalangan bank-bank papan atas terlihat makin agresif dalam upaya pengembangan ekosistem perbankan digitalnya guna tetap menjaga daya saingnya di tengah tantangan kehadiran bank-bank digital baru dengan ekosistem yang kuat.

Emanuel Berkah Caesario
May 23, 2022 - 11:06 AM
A-
A+
Langkah Gesit Bank Besar Perkuat Ekosistem Perbankan Digital

Pegawai beraktivitas di salah satu cabang digital Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (23/12/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA — Bank-bank besar berlomba memperkuat infrastruktur dan jenis layanan yang dihadirkan dalam aplikasi digital banking masing-masing guna meningkatkan pengalaman pengguna dan menjaring lebih banyak nasabah baru ke dalam ekosistem masing-masing bank.

Peta persaingan di industri perbankan digital akhir-akhir ini makin sengit, terutama seiring dengan makin menjamurnya bank-bank kecil yang bertransformasi menjadi bank digital setelah mendapatkan suntikan modal dari investor-investor strategis baru.

Di tengah kondisi ini, bank-bank besar yang selama ini merajai pangsa pasar industri perbankan domestik tampaknya tak ingin posisinya tergeser begitu saja. Sejumlah terobosan pun ditempuh guna meningkatkan daya saing di ranah digital.

Bank-bank besar sejatinya sudah lama merambah lini digital untuk memperkuat layanannya kepada nasabah. Namun, selama bertahun-tahun, layanan yang diberikan melalui aplikasi mobile banking mereka umumnya relatif terbatas.

Ketika bank-bank digital berdatangan di dunia, berbagai inovasi dan peluang baru pun seakan terbuka. Ada begitu banyak potensi layanan yang ternyata bisa dihadirkan melalui pengembangan teknologi perbankan digital. Di dalam negeri, tidak kalah banyak juga inovasi baru yang bermunculan.

Dengan kondisi ini, para pemain lama di industri perbankan mau tidak mau harus menyingsingkan lengan dan menciptakan inovasi layanan yang tidak kalah menariknya jika ingin tetap mempertahankan dominasinya di industri.

Salah satu bank papan atas yang cukup serius dalam mengembangkan teknologi perbankan digital adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Emiten bank BUMN berkode BMRI ini memilih strategi untuk mengembangkan sendiri layanan bank digital sebagai bentuk transformasi atas bisnis perusahaan.

Ini berbeda dibanding strategi bank besar lain yang memilih mengembangkan anak usaha khusus untuk dijadikan bank digital, baik melalui transformasi atas anak usaha yang sudah ada, maupun melalui akuisisi bank kecil baru untuk ditransformasi menjadi bank digital.

Seiring dengan itu, perseroan telah melakukan rebranding atas aplikasi mobile banking perseroan dengan nama Livin’ by Mandiri. Terbaru, perseroan menghadirkan fitur terbaru yang menawarkan kemudahan investasi reksa dana bagi pengguna dengan lebih cepat dan aman bertajuk Livin’ Investasi.


Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Alexandra Askandar, mengatakan Bank Mandiri terus melengkapi kebutuhan layanan digital bagi nasabah, salah satunya melalui pengembangan fitur investasi pada super app Livin' by Mandiri.

Alexandra menjelaskan untuk menikmati fitur ini, nasabah hanya perlu melakukan pendaftaran dengan mengakses menu Livin’ Investasi pada aplikasi Livin’ by Mandiri berlogo kuning serta mengisi kuesioner profil risiko untuk mengetahui produk reksa dana yang sesuai.

“Kehadiran Livin’ Investasi merupakan bentuk komitmen Bank Mandiri untuk menyajikan solusi finansial bagi nasabah yang lengkap dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era digital,” ujar Alexandra dalam peluncuran Livin’ Investasi di Jakarta, Senin (23/5).

Alexandra menambahkan, nasabah juga tidak perlu mengeluarkan modal besar, dengan fitur Livin’ Investasi nasabah dapat melakukan pembelian reksa dana mulai dari Rp100.000. Nasabah juga dapat memantau portofolio yang dimiliki kapan saja dan di mana saja dengan lebih praktis di dalam satu aplikasi,

Alexandra menyatakan bahwa fitur ini akan sangat menarik bagi nasabah, terutama bagi generasi milenial yang berminat untuk mengalokasikan dananya ke dalam instrumen investasi, di mana instrumen investasi reksa dana merupakan telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Fitur Livin’ Investasi memberikan beragam kemudahan bagi nasabah. Salah satunya, nasabah dapat menentukan jenis portofolio yang sesuai dengan profil risiko termasuk besaran investasi. Artinya, nasabah tidak perlu pindah-pindah aplikasi untuk melakukan pembelian ataupun pembayaran, semua bisa langsung terpenuhi di Livin' by Mandiri,” jelasnya.

Bukan hanya itu, lanjut Alexandra, salah satu kemudahan lainnya yang dapat dinikmati dalam fitur investasi.

“Pengguna tidak perlu repot top-up untuk berinvestasi secara rutin, karena fitur ini dilengkapi dengan fitur investasi berkala melalui autodebet dari rekening tabungan Bank Mandiri,” imbuhnya.

Dia menambahkan Bank Mandiri tidak hanya fokus pada penyediaan layanan finansial saja, melainkan juga mengedepankan pemberian advisory yang tepat kepada nasabah.

“Kami berharap, adaptasi bisnis melalui digitalisasi transaksi produk-produk investasi ini dapat memperluas segmentasi target dan pengelolaan dana nasabah yang lebih terintegrasi," terangnya.


Bank lain yang tak kalah gesit adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Perseroan akuisisi PT Bank Mayora untuk dijadikan bank digital. BNI resmi mengambil alih 63,92 persen dari saham yang ditempatkan dan disetor di Bank Mayora dan pembelian saham lama milik International Finance Corporation (IFC).  

Selain itu, perseroan juga menggandeng Sea Limited sebagai mitra untuk pengembangan teknologi bank digital perseroan. Sea Limited adalah perusahaan internet konsumen global yang didirikan di Singapura. Sea Ltd mengoperasikan tiga bisnis inti yaitu hiburan digital (Garena), e-commerce (Shopee), serta pembayaran digital dan layanan keuangan (Sea Money).

Direktur IT dan Operasi BNI, YB. Hariantono, mengatakan bahwa kunci sukses bank digital ada tiga, yaitu kapabilitas perbankan seperti pendanaan dan pengelolaan risiko, kapabilitas teknologi, dan ekosistem customers.

BNI unggul dalam kapasitas perbankan, sedangkan Sea Group unggul dalam hal teknologi. Selain memiliki kemampuan teknologi, kata Hariantono, Sea Ltd juga memiliki ekosistem e-commerce yang di dalamnya terdapat UMKM yang menjadi fokus bank digital yang sedang dikembangkan perseroan.

Sementara itu, Grup Mayora sudah dikenal baik di Indonesia sebagai salah satu perusahaan fast moving consumer goods terbesar di Indonesia untuk ke segmen UMKM.

Melalui kolaborasi yang terjalin antara BNI, Bank Mayora, dan Sea Ltd, ketiga hal tersebut diprediksi meningkat pesat mengingat masing-masing entitas memiliki keunggulan.

“BNI, Mayora, dan Sea Limited adalah leaders di bidang masing-masing dan saling melengkapi kompetensi yang diperlukan,” kata Hariantono.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. juga tidak ketinggalan. Pada tahun ini, BRI akan memperkuat fitur dan ekosistem BRImo dengan berkolaborasi bersama perusahaan financial technology atau fintech terkemuka di Indonesia.

Direktur Bisnis Konsumer BRI, Handayani, menuturkan bahwa upaya tersebut merupakan langkah lanjutan dari tahun lalu, di mana BRImo telah merilis lebih dari 100 fitur yang terhubung ke berbagai aggregator atau biller guna memenuhi kebutuhan nasabah.

“Di tahun 2022 ini, BRI telah menyiapkan fitur-fitur menarik. Beberapa ekosistem akan diintegrasikan ke aplikasi BRImo dengan berkolaborasi beberapa fintech besar di Indonesia,” tutur Handayani dalam keterangan tertulis, Minggu (15/5).

Dia melanjutkan fitur ekosistem tersebut akan menambah daya tarik baru pengguna BRImo untuk meningkatkan transaksi. Beberapa bisnis yang menjadi perhatian BRImo ke depan adalah peningkatan use case, transaksi kebutuhan sehari-hari, dan juga memberikan dampak sosial.

Lebih lanjut, BRImo akan terus dikembangkan menjadi financial supermarket. Aplikasi ini, kata Handayani, dapat menawarkan solusi holistik bagi nasabah dengan menghadirkan fasilitas ticketing, voucer permainan, dan layanan lainnya.

“Selain itu kami akan terus meningkatkan engagement melalui peningkatan pengalaman nasabah yang lebih baik dengan melakukan integrated payment dan kemitraan,” pungkasnya.

Handayani mengatakan untuk menunjang inovasi digital, emiten bank dengan kode saham BBRI ini telah menyiapkan capital expenditure (capex) IT sebesar Rp4,5 triliun pada 2022. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan 2021 yang sebesar Rp3,5 triliun.

Hingga kuartal I/2022, pengguna BRImo telah mencapai 16,1 juta dengan volume transaksi Rp471 triliun atau tumbuh 175,2 persen secara tahunan. Pesatnya pertumbuhan transaksi di BRImo tidak lepas dari upaya BRI untuk terus memperkaya fitur dan inovasi.

Menurut Handayani, fitur BRImo yang selama ini menjadi andalan nasabah adalah digital saving, registrasi BRImo, fast menu, tarik tunai tanpa kartu dan personal financial management.


 

TAK MAU KALAH

Dominasi oleh bank-bank besar ini perlahan mendapatkan tantangan dari kalangan bank-bank kecil yang bertransformasi menjadi bank digital. Akhir-akhir ini, sudah cukup banyak bank digital baru yang menghadirkan layanan yang tidak kalah menariknya.

Sebut saja misalnya PT Bank Jago Tbk. (ARTO), PT Sea Bank, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), PT Bank BCA Digital atau Blu, dan PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI).

Terbaru, Allo Bank baru saja meluncurkan aplikasi digital banking mereka. Bank ini sudah lama memperkenalkan dirinya ke publik sebagai bank digital setelah diakuisisi oleh PT Mega Corpora milik Chairul Tanjung, tetapi baru awal tahun ini meluncurkan aplikasinya.

Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, atau yang akrab disapa CT menilai perbankan pada masa depan akan mengelola hidup nasabah mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, mulai dari lahir hingga meninggal. Allo Bank dalam jalur untuk menjadi bank masa depan.

CT berambisi membuat Allo Bank menjadi super aplikasi yang memiliki banyak fitur dan membantu kehidupan para nasabah dalam setiap aktivitas mulai dari memperoleh informasi, berbelanja hingga bepergian.   

“Jadi, Allo Bank akan bertransformasi dari sebuah perbankan digital menjadi sebuah super aplikasi,” kata Chairul di Jakarta, Kamis (19/5).

Chairul menambahkan proses transformasi dan integrasi tersebut membutuhkan waktu, sehingga masyarakat perlu sedikit bersabar agar nantinya Allo Bank dapat terhubung ke seluruh ekosistem. Dia berharap proses integrasi ke seluruh ekosistem CT Corp dapat selesai dalam 3 tahun.

“Kami berharap dalam 3 tahun ke depan semua cita-cita yang kami harapkan tadi itu semuanya sudah berada di dalam satu genggaman,” kata Chairul.

Chairul menuturkan saat ini beberapa perusahaan CT Corp telah terhubung dengan Allo Bank. Integrasi tersebut membuat pengalaman nasabah dalam bertransaksi makin menarik karena terdapat sejumlah potongan harga untuk produk-produk tertentu.

Sebagai contoh, untuk membayar parkir di sejumlah mal milik CT Corp, nasabah cukup membayar Rp1 rupiah saja di Allo Prime. Belanja di Transmart mendapat potongan harga sebesar 10 persen dan 15 persen jika menggunakan paylater di Allo Bank.

Tidak hanya itu, belanja makanan dan minuman di perusahan-perusahaan CT Corp akan mendapat potongan harga hingga Rp35 persen.

“Semua ekosistem CT Corp di manapun Anda temukan, semuanya pasti dapat diskon spesial dan jika pakai paylater akan mendapatkan cashback,” kata Chairul.

Strategi integrasi dengan ekosistem ini juga saat ini sedang ditempuh oleh Bank Jago. Selain itu, SeaBank juga tidak ketinggalan melalui integrasi dengan aplikasi Shopee. Strategi integrasi dengan ekosistem besar ini menjadikan bank-bank digital yang kini masih terlihat kecil ini bakal menjadi penantang yang berat bagi bank-bank besar yang kini masih merajai pasar perbankan Tanah Air.

 

(Reporter: Rika Anggraeni, Leo Dwi Jatmiko, Dionisio Damara)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Langkah Gesit Bank Besar Perkuat Ekosistem Perbankan Digital

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ