Langkah Tepat BNI Akuisisi Bank Mayora

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. resmi mengumumkan rencana pengambilalihan saham PT Bank Mayora. Aksi ini cukup strategis bagi BNI. Lagi pula, secara umum kinerja keuangan Bank Mayora cukup baik untuk mendukung BNI.

Rika Anggreini
Jan 24, 2022 - 10:11 AM
A-
A+
Langkah Tepat BNI Akuisisi Bank Mayora

Gedung BNI/Istimewa

Bisnis, JAKARTA — Teka-teki rencana akuisisi bank kecil oleh bank BUMN PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. akhirnya terungkap. Seiring dengan itu, langkah BNI untuk meramaikan persaingan di industri bank digital pun kini makin mantap.

Bank yang akhirnya diakuisisi oleh BNI yakni PT Bank Mayora, yakni bank yang terafiliasi dengan emiten produsen barang konsumsi makanan ringan, yakni PT Marota Indah Tbk. (MYOR). Emiten ini saat ini jangkauan pasarnya sudah sangat luas, mencakup wilayah Asia dan Eropa.

BNI akan mengambil alih 63,92 persen saham Bank Mayora, sehingga menjadikan bank itu akan terkonsolidasi ke dalam kinerja BNI.

Sebagaimana diketahui, aksi korporasi kalangan BUMN cukup sensitif, apalagi ketika mengakuisisi perusahaan swasta. Hal ini tidak mengherankan, sebab statusnya sebagai BUMN merefleksikan banyaknya kepentingan di dalamnya dan berhubungan erat dengan aset negara.

Oleh karena itu, menarik untuk mengetahui profil Bank Mayora sendiri. Seberapa kuat kinerja keuangan bank ini dan seberapa prospektif bisnisnya di masa mendatang seiring dengan masuknya BNI sebagai pengendali baru?

Berdasarkan ringkasan rancangan pengambilalihan yang dirilis melalui Harian Bisnis Indonesia edisi Sabtu (22/1), BNI berencana mengambil alih Bank Mayora melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 1,03 miliar saham baru.

Jumlah tersebut mewakili 54,90 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor dalam Bank Mayora. Selain itu, BNI juga akan membeli sebanyak 169 juta saham yang dimiliki IFC (International Finance Corporation).

Dalam ringkasan tersebut, ditegaskan bahwa tujuan pengambilalihan ini adalah dalam rangka menjadikan Bank Mayora sebagai lengan bank digital BNI.

Strategi BNI ini tampaknya serupa seperti yang dijalankan oleh PT Bank Central Asia Tbk. yang setelah mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia dan mengubahnya menjadi bank digital, yakni PT Bank Digital BCA dengan platformnya yakni blu.

“Bank Mayora akan menghadirkan solusi digital berbasis ekosistem, khususnya untuk membantu UKM dalam mengakomodir kebutuhan layanan perbankan dan bisnis UKM,” tulis manajemen BNI dalam ringkasan rancangan pengambilalihan, dikutip Senin (24/1).

Jika menilik dari laporan keuangan hingga September 2021, Bank Mayora membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp32,7 miliar. Laba Bank Mayora naik 234 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dari laba periode yang sama tahun lalu senilai Rp9,8 miliar.

Sementara itu, pendapatan bunga turun 8 persen YoY atau Rp3,7 miliar dan beban bunga ikut menyusut 13 persen YoY menjadi Rp1,7 miliar pada September 2021. Dari sana, pendapatan bunga bersih susut 3 persen YoY menjadi Rp1,9 miliar.

Selain itu, Bank Mayora telah menyalurkan kredit sebesar 3,7 triliun hingga September 2021. Angka ini turun 12 persen dari pembiayaan pada Desember 2020 sebesar Rp4,3 triliun (year-to-date/ YtD).

Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), Bank Mayora tumbuh 15 persen YtD menjadi Rp7,34 triliun. Pertumbuhan tersebut berasal dari dana murah berupa giro dan tabungan (CASA) yang tumbuh sebesar 42 persen YtD, dari Rp2,09 triliun menjadi Rp2,96 triliun.

Dengan demikian, total aset Bank Mayora naik 12 persen YtD. Total aset perseroan per Desember 2020 sebesar Rp8,01 triliun naik menjadi Rp9 triliun per September 2021.

Selain itu, Bank Mayora juga tercatat mendapatkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di level 3,21 persen secara gross dan 2,09 persen secara net pada September 2021.

Untuk NIM dan BOPO, perseroan mencatatkan rasio masing-masing sebesar 3,33 persen dan 91,69 persen pada September 2021. Adapun, rasio pengembalian aset (return on asset/ROA) dan rasio pengembalian modal (return on equity/ROE) menjadi 0,52 persen dan 3,62 persen pada periode yang sama.

Jika melihat rasio-rasio keuangan ini, dapat disimpulkan bahwa secara umum kinerja keuangan Bank Mayora cukup baik. Artinya, BNI tidak memiliki pekerjaan rumah yang terlalu berat untuk terlebih dahulu membenahi kinerja keuangan bank ini.

 

EKOSISTEM KUAT

Sebagai bagian dari konglomerasi bisnis Grup Mayora, Bank Mayora sendiri sejatinya sudah memiliki dukungan ekosistem yang cukup kuat sebelum diakuisisi BNI. Hal ini menjadikan secara umum prospek bisnis bank ini memang cukup menjanjikan.

Adapun, MYOR sendiri selama ini sudah memiliki produk yang cukup dikenal masyarakat seperti permen Kopiko, Choki-Choki, Beng-Beng, Tora Bika, dan Energen. MYOR memiliki pangsa pasar hingga ke luar negeri lewat entitas anaknya, Mayora Nederland BV yang berkedudukan di Belanda.

MYOR juga memiliki perusahaan afiliasi yang beroperasi di Shanghai (China), Hong Kong, Malaysia, Thailand, hingga India. Sampai dengan September 2021, MYOR memiliki aset senilai Rp20,13 triliun dan berhasil menghimpun laba senilai Rp1 triliun.

Saat ini pemegang saham Bank Mayora terdiri dari PT Mayora Inti Utama dengan porsi 80% dan IFC sebesar 20%.

Pada kelompok bank dengan modal inti kurang dari Rp2 triliun, Bank Mayora dapat disandingkan dengan PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC) yang memiliki price to book value (PBV) sebesar 0,6 kali, PT Bank Capital Indonesia Tbk. (BACA) dengan PBV sebesar 0,94 kali, dan PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) dengan PBV 1,61 kali.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menyatakan strategi mengambi alih bank untuk dibangun sebagai bank digital sudah banyak dilakukan oleh kelompok bank besar.

“Sekarang ini waktu yang tepat bagi bank-bank besar untuk mengakuisisi bank BUKU 2 [bank umum kegiatan usaha] untuk dijadikan bank digital,” katanya.

Dalam klasifikasi sebelumnya, BUKU 2 merupakan bank dengan modal inti di kisaran Rp1 triliun—Rp5 triliun.

Amin menilai ada lima alasan strategis langkah BNI cukup tepat dalam proses akuisisi itu. Pertama, rencana akuisisi sudah dimasukan sejak tahun lalu dan dapat terealisasi pada kuartal I/2022.

Kedua, nilai kapitalisasi beberapa bank digital saat ini sedang tinggi. Akan tetapi, lanjut Amin, belum tentu bank digital yang dikembangkan akan didorong untuk melantai ke bursa.

Ketiga, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank masuk ke pembiayaan UMKM dan menaikkan porsi pinjaman UMKM sebesar 30% hingga 2024. Artinya, peningkatan itu akan menjadikan bank memberi perhatian pada sektor UMKM untuk mendapatkan pembiayaan.

Keempat, euforia akuisisi dan bank digital yang sedang marak di Tanah Air. Hampir semua rencana pengembangan bank digital melibatkan institusi keuangan, termasuk pelaku bisnis teknologi finansial (tekfin).

Kelima, menurut Amin, bank BUKU 2 butuh suntikan modal untuk memenuhi ketentuan regulator. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan kemitraan strategis. Tahun ini bank-bank diwajibkan dapat memenuhi ketentuan modal inti minimal Rp3 triliun.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar