Lo Kheng Hong : Trading Hanya Hasilkan Uang Receh, Lakukan Ini!

Lo Kheng Hong memiliki prinsip yang kuat dalam berinvestasi saham, yakni value investing. Meskipun prinsip ini menuntut kesabaran, menurutnya ini adalah kunci utama untuk sukses di dunia investasi.

Emanuel Berkah Caesario

25 Apr 2022 - 15.23
A-
A+
Lo Kheng Hong : Trading Hanya Hasilkan Uang Receh, Lakukan Ini!

Layar menampilkan Investor senior Lo Kheng Hong memberikan pemaparan dalam Bisnis Indonesia Business Challenges 2022 di Jakarta, Rabu (15/12/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA — Aktivitas trading harian tidak pernah menarik minat investor kawakan, Lo Kheng Hong. Baginya, aktivitas trading hanya akan menghasilkan ‘duit receh’. Alih-alih trading, Pak Lo lebih memilih setia menjadi value investor di pasar modal.

Dunia investasi saham tidak asing dengan sosok Lo Kheng Hong. Ia telah malang melintang di dunia investasi dan mengecap asam garam 32 tahun dalam investasi pasar modal, melewati berbagai kondisi ekonomi tanah air.

Baginya, berinvestasi itu mudah dan sederhana bagi mereka yang punya tujuan dan sabar. Dengan prinsip ini, menurutnya aktivitas trading yang mengejar momentum yang cepat justru tidak sejalan.

Sebagai sosok yang menginspirasi banyak anak muda untuk berinvestasi di pasar modal, sosoknya tak pernah pelit membagikan tips sukses berinvestasi di pasar modal. Tak bosan-bosan dirinya mengingatkan agar investor muda berinvestasi pada sesuatu yang dipahami.

"Saya dari dulu sudah jadi value investor, tidak trading. Karena kalau kita trading, yang kita dapat uang receh. Tetapi, kalau kita beli dan simpan, kita hold, akan dapat uang besar," katanya dalam acara launching buku dan talkshow dengan Lo Kheng Hong, Sabtu (23/4).

Menurutnya, aksi membeli dan menyimpan saham akan membuat investor kaya. Sebaliknya, aksi trading, apalagi scalping, hanya akan memperkaya pihak sekuritas.

Tentang suka duka bermain di pasar modal, ia mengaku mulai berinvestasi saham pada tahun 1989 dan mengaku tidak pernah mendapatkan keuntungan selama 3 tahun. Saham yang ia beli rugi dan belum kembali pada harga yang layak untuk di jual.

Saat memulai berinvestasi itu, Pak Lo menghadapi tantangan kebijakan pengetatan moneter atau tight money policy 30 tahun lalu yang membuat harga-harga saham turun. Namun, dirinya tidak berputus asa. Baru pada tahun 1993 dia mulai berhasil mencecap keuntungan.

"Akhirnya tahun 1993 tight money policy itu dilepas, dilonggarkan, harga-harga saham naik dan saya mendapatkan keuntungan besar," ucapnya.

Dengan prinsip value investing, Pak Lo kerap memburu saham yang ‘salah harga’. Artinya, saham tersebut memiliki fundamental yang kuat dan prospek yang menjanjikan, tetapi harganya justru sedang sangat terdiskon di pasar.

Lo Kheng Hong berpose di depan dinding berisi kutipan Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo./istimewa

Sementara itu, saat ini pasar sedang dalam tren bullish dengan keberhasilan IHSG mencetak rekor baru terus-menerus. Di tengah kondisi ini, banyak saham yang sebelumnya murah telah terangkat harganya menjadi cukup tinggi. Masih adakah saham-saham yang masuk kategori salah harga ala Pak Lo?

Investor yang kerap dijuluki Warren Buffet-nya Indonesia ini mengatakan bahwa akan selalu ada saham-saham seperti ‘Mercedes-Benz’ atau Mercy yang dijual di harga ‘bajaj’.

"Kalau kita membelinya di harga pandemi, itu Mercy yang dijual di harga bajaj itu banyak sekali. Kalau sekarang IHSG kita lagi all time high, sangat sedikit sekali, tapi tetap masih ada," ujar Pak Lo.

Investor berusia 63 tahun ini menuturkan pengalaman pertamanya ‘membeli Mercy di harga bajaj’ terjadi pada dekade 1990-an silam. Saat itu, krisis moneter 1998 membuat harga saham-saham di pasar modal turun.

Saat itu, Pak Lo mencermati ada salah satu saham, yakni PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang telah turun di harga yang cukup murah, yakni Rp250 per saham. Lo Kheng Hong pun membeli saham UNTR pada 1998, yang menurutnya seperti membeli Mercy di harga bajaj.

"Saat itu harga sahamnya Rp250, ini Mercy yang dijual di harga bajaj," tuturnya.

Menurut Pak Lo, UNTR adalah perusahaan yang bagus. Dia menilai perusahaan memang banyak memiliki utang, tetapi jika dilihat laba usahanya yang begitu besar, sehingga tentu UNTR mampu melunasi utangnya.

Pak Lo pun akhirnya menjual kembali saham "Mercy harga bajaj" tersebut ketika harganya sudah kembali ke harga Mercy.

 

TIPS INVESTASI

Dalam kesempatan terpisah, investor yang juga kerap disapa LKH ini membagikan tips berinvestasi saham yang baik. Dia menyebut terdapat 5 hal utama yang mesti diperhatikan investor dari perusahaan yang dibeli sahamnya.

Berikut tips sukses berinvestasi di pasar modal dari Lo Kheng Hong:

Pertama, baca laporan keuangan

Menurutnya, tidak ada alasan investor atau trader tak membaca laporan keuangan. Sebab kunci untuk memilih emiten itu justru dari laporan keuangan. Investor bisa mulai membaca laporan keuangan dari sisi capaian laba, penjualan, modal, utangnya, dan utangnya lancar atau macet.

Kedua, sabar menanti hasil yang terbaik

Tidak ada yang instan untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Ini dibuktikan Lo Kheng Hong ketika pertama kali terjun berinvestasi. Bukannya untung tapi malah rugi, karena memulainya dengan cara yang salah yakni membeli saham IPO dengan harga murah, lalu menjualnya ketika listing dengan harapan mendapatkan keuntungan. Padahal untuk mendapatkan hasil terbaik, berinvestasi perlu waktu.

Ketiga, beli saham emiten dari bidang usaha yang baik

Memilih emiten sebenarnya tidak sulit, investor hanya perlu mencari industri yang dapat bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi. Setelah menentukan industrinya, sortir perusahaan yang masih memiliki valuasi bagus, misalnya price to book value atau PBV kecil tapi asetnya banyak dan utangnya kecil.  

Keempat, pilih perusahaan yang untung

Dengan gamblang Pak Lo mengatakan bahwa dirinya anti membeli perusahaan yang rugi. Karena dirinya selalu mencari perusahaan yang bisa menjadi mesin uang buatnya. Sehingga ia sama sekali tidak tertarik pada perusahaan yang dari awal telah mengalami kerugian.

Kelima, track record pimpinan perusahaan yang baik

Setiap menentukan saham yang hendak dibeli, selalu cari tahu pimpinan perusahaan itu, terutama direksi dan komisarisnya. Pastikan bahwa selama berkarier di industri, mereka adalah pribadi yang berintegritas, jujur, dan memiliki reputasi yang baik.

 

(Reporter: Annisa Saumi & Rinaldi M. Azka)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.