LRT Karya Lokal yang Belum Sempurna

Beroperasi lebih dari sepekan, sejumlah keluhan disampaikan para penggunanya, mulai dari pintu tidak menutup sempurna hingga jadwal yang belum tepat waktu. Walau bagaimana pun LRT merupakan proyek kebanggaan karya anak bangsa.

Rinaldi Azka

5 Sep 2023 - 19.46
A-
A+
LRT Karya Lokal yang Belum Sempurna

Rangkaian kereta LRT Jabodebek berada di area Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (12/7/2023)./BISNIS/Arief Hermawan

Bisnis, JAKARTA - Light Rail Transit Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (LRT Jabodebek) menjadi lompatan teknologi pengembangan sektor transportasi di Indonesia, yang mulai beroperasi sejak Senin (28/8/2023). Kendati menjadi salah satu produk transportasi termutakhir, masih banyak kekurangan yang disampaikan pengguna.

Sejatinya, LRT Jabodebek semakin melengkapi moda transportasi publik di DKI Jakarta dan sekitarnya, seperti MRT (Moda Raya Terpadu), KRL (Kereta Rel Listrik), TransJakarta, dan kereta bandara. Kehadiran LRT Jabodebek diharapkan dapat menarik masyarakat menggunakan moda transportasi publik untuk mengurangi tingkat kemacetan dan polusi yang kerap menjadi persoalan di kawasan ibu kota.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir buka suara soal keluhan masyarakat seiring dengan mulai beroperasinya kereta light rail transit (LRT) Jabodebek.

Pasalnya, banyak masyarakat yang mengeluhkan sejumlah masalah yang dijumpainya saat menggunakan LRT mulai dari proses pengereman yang dinilai tidak halus hingga permasalahan pintu macet. 

"Tidak mungkin kita membangun sesuatu itu menghindari keamanan. Itu kan prosesnya bertahap," jelasnya di Kantor Kementerian BUMN, dikutip Selasa (5/8/2023).

Erick juga memastikan, proses perbaikan terhadap sejumlah masalah yang dikeluhkan akan tetap dijalankan seiring dengan proses operasional.

Lebih lanjut, Erick juga meminta masyarakat untuk tidak membuat polemik. Terlebih, permasalahan yang muncul dinilai tidak membahayakan penumpang.

"Percayalah itu aman. Kan cuma pintu doang dari kemarin. Kita jangan buat polemik," tegasnya.

Terlebih lagi, di tengah fenomena polusi udara yang belakangan merebak, kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan transportasi publik dinilai penting untuk menjadi perhatian.

"Salah satu dari tekanan polusi itu adalah kendaraan yang kita pakai sendiri, sampai 44 persen. Kalau kita tidak migrasi ke fasilitas publik seperti LRT dan MRT dengan segala kelebihan dan kekurangannya, akhirnya apa, kita memanjakan diri dan tidak mendorong yang namanya perbaikan polusi yang hari ini terjadi," pungkasnya.

Baca Juga : Menyelisik Misi Pertamina di Balik Wacana Penghapusan Pertalite 

Produk Dalam Negeri

Mayoritas komponen dari moda transportasi LRT Jabodebek diklaim merupakan karya anak bangsa. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan, sekitar 90 persen dari total komponen LRT Jabodebek merupakan buatan anak bangsa. Adapun, LRT Jabodebek memiliki total 31 rangkaian kereta (trainset) yang seluruhnya dibuat oleh PT Industri Kereta Api (Persero) atau Inka. 

"Kita harus bangga karena 90 persen ini [LRT] adalah produk anak bangsa," kata Budi Karya. 

Dia melanjutkan, LRT Jabodebek dirancang dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan secara saksama. Selain itu, aspek pelayanan yang prima juga menjadi prioritas pemerintah agar mobilitas masyarakat semakin optimal. 

Seiring dengan hal tersebut, Budi Karya mengatakan, pengoperasian LRT Jabodebek ke depannya juga akan dilakukan secara konservatif. 

"Kami juga sudah laporan ke Pak Presiden bahwa LRT ini dioperasikan dengan hati-hati dan konservatif," jelasnya. 

Baca Juga : Jokowi Semringah, Berbagi Proyek di KTT Asean

Adapun, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi ini telah meresmikan LRT Jabodebek untuk dapat beroperasi sejak hari ini, Senin (28/8/2023).

Kepala Negara mengatakan bahwa kehadiran moda transportasi kereta ringan tersebut sudah siap untuk digunakan oleh masyarakat.

“LRT ini sudah dipersiapkan dengan baik yang dari Harjamukti di Cibubur dan dan dari Bekasi ke Jakarta, [total panjang lintasan] sepanjang 41,2 km dengan menghabiskan Rp32,6 triliun,” ujarnya.

Orang nomor satu di Indonesia itu pun berharap masyarakat berbondong-bondong beralih ke LRT sehingga kemacetan bisa terhindari dan polusi bisa dikurangi.

Apalagi, dia menyebut bahwa selama ini DKI jakarta selalu masuk ke dalam 10 kota dengan predikat termacet di dunia.

Untuk memastikan terjaganya kekuatan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG, mendedikasikan produk betonnya guna mendukung ketahanan konstruksi LRT canggih tersebut.

Corporate Secretary Semen Indonesia Vita Mahreyni mengatakan SMGR turut berkontribusi dalam pembangunan PSN seperti LRT Jabodebek dan LRT Kelapa Gading yang mendukung konektivitas kota-kota penyangga Jakarta dan memastikan mobilitas masyarakat yang lebih lancar, cepat, nyaman, dan tanpa polusi.

“Untuk mewujudkan konstruksi yang kokoh dan dapat diandalkan dalam jangka panjang, SIG memasok beton performa tinggi pada pembangunan LRT Cawang – Dukuh Atas. Sebelumnya, SIG juga sudah terlibat memasok beton untuk proyek LRT Kelapa Gading. Ini adalah wujud dukungan kami terhadap program pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mempercepat pemerataan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraaan masyarakat,” kata Vita.

Lebih lanjut, Vita menjelaskan bahwa produk beton yang dipasok dari batching plant SMGR di Pulogadung Jakarta Timur, Kuningan Jakarta Selatan, dan Sentul Bogor di antaranya CastoCrete, solusi beton untuk produksi beton pra cetak (precast) atau pra tekan yang umumnya membutuhkan kuat tekan awal yang tinggi. Kemudian PileCrete, solusi beton berperforma tinggi untuk struktur pondasi tiang (bore pile). Pada proyek LRT Cawang - Dukuh Atas, produk beton SIG digunakan pada jenis pekerjaan pondasi tiang (bore pile) LRT, tiang pancang LRT, jalur LRT, lantai kerja LRT, dan girder (penopang) jembatan. 

Baca Juga : Target Penjualan Motor Listrik 

Selain memasok beton di proyek LRT, SMGR juga memasok agregat kasar (material campuran beton) jenis batu split berukuran 10 – 20 mm yang dikirim ke pabrik precast di Plant Sentul dan Plant Gatot Subroto untuk proyek pembangunan LRT Cibubur - Cawang - Dukuh Atas. 

Produk agregat dari SMGR tersebut telah memenuhi standar ASTM (American Standard Testing and Material), sebuah organisasi dunia yang mengembangkan standardisasi teknik untuk material, produk, sistem dan jasa. Selain itu, produk agregat yang berasal dari area penambangan di Maloko, Rumpin, Bogor, tersebut, juga memiliki sejumlah keunggulan, baik dari sisi kualitas ukuran (gradasi), berat jenis batu (density), kebersihan batu (washing lost), dan berbagai aspek teknis lainnya, serta dari sisi kuantitas dengan komitmen terjaminannya pasokan material ke proyek.

Ukuran produk agregat yang dipasok sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan yaitu 10 – 20 mm. Agregat juga berbentuk kubikal (kotak) sehingga lebih masif dan kuat saat bercampur dengan semen untuk pembuatan beton precast. Kombinasi keduanya memberikan kekuatan yang pada akhirnya mempengaruhi stabilitas dalam campuran karena masing-masing partikel agregat kasar saling mengunci. Dari sisi berat jenis, produk agregat SMGR berada pada kisaran 2,59 yang membuat beton memiliki kuat tekan yang lebih baik.

“SMGR memiliki portofolio produk dan layanan yang lengkap, mulai dari hulu hingga hilir, untuk memberikan kemudahan dan keleluasaan bagi pelanggan dalam memenuhi kebutuhan akan bahan bangunan sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan,” kata Vita.(Alifian Asmaaysi, Lorenzo Anugrah Mahardhika)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.