Luka

Tak hanya pada Pilkada 2017, pemanfaatan politik identitas itu masih nyata dalam Pemilu 2019 dan Pilkada 2020. Badan Pengawas Pemilu pun mengakui bahwa politik identitas masih kerap terjadi pada Pilkada 2020.

Oktaviano Donald Baptista

5 Nov 2021 - 06.03
A-
A+
Luka

Ada ketakutan yang menyeruak di benak saya terkait penyelenggaraan serentak Pemilu dan Pilkada pada 2024. Kekalutan itu datang dari ‘luka lama’ yang belum juga sembuh akibat eksploitasi identitas dalam kontestasi politik.

Tentu masih segar dalam ingatan ihwal dinamika Pilkada DKI Jakarta pada 2017 yang menjadi ladang subur praktik politik identitas. Isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) begitu mudah diobral untuk mengaduk rasa dan meraih simpati pemilih.

Informasi dan disinformasi (hoaks) dengan tawaran klaim kebenaran ‘alternatif’ bertebaran di ruang diskusi riil dan virtual. Semua informasi itu membanjiri ruang komunikasi publik dari pagi, siang hingga malam.

Nahas, seringkali diskursus di berbagai kanal komunikasi itu berujung pada keretakan relasi. Tak jarang ditemui antartetangga tak lagi saling menyapa, rekan kerja saling abai, anggota keluarga enggan bertatap muka akibat debat bertensi tinggi di ruang aplikasi pesan instan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti*
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.