Macan (Tak) Ompong Menghadapi Bjorka

Bjorka bahkan terang-terangan mengejek Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan sebutan tunagrahita.

Rio Sandy Pradana

22 Sep 2022 - 07.00
A-
A+
Macan (Tak) Ompong Menghadapi Bjorka

Bisnis, JAKARTA - Sejak awal September 2022, kata kunci Bjorka atau hacker rutin menghiasi lini masa media daring atau sosial media masyarakat hingga saat ini.

Masyarakat disuguhi sepak terjang aksi peretas misterius ini dalam ‘membobol’ berbagai macam data. Mulai dari pelanggan IndiHome, data kartu SIM, hingga data kependudukan milik Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tak cuma itu, data pribadi sejumlah pejabat publik juga tak lupa disenggolnya melalui akun Twitter @bjorkanism. Sebut saja Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Ketua DPR Puan Maharani, Menteri BUMN Erick Thohir, sampai data Badan Intelijen Negara yang ditujukan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bjorka bahkan terang-terangan mengejek Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan sebutan tunagrahita. Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan justru memohon kepada peretas agar jangan menyerang, alih-alih bersikap tegas.

Memang, berdasarkan National Cyber Security Index, Indonesia menduduki peringkat 83, dengan skor 38,96, dari total 160 negara di dunia. Padahal, skor Digital Development Level sebesar 46,84. Peringkat Indonesia tersebut, bila dibandingkan dengan negara tetangga di Asean, ternyata masih di bawah Brunei Darussalam (80), Filipina (43), Thailand (40), Singa-pura (29), dan Malaysia (19). 

Tak tinggal diam, Presiden Jokowi telah membentuk Satgas Perlindungan Data untuk menangkal aksi Bjorka. Tim tersebut terdiri atas Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kemenkominfo, Polri, hingga Badan Intelijen Negara (BIN).

Dalam sebuah konferensi pers, BSSN mengakui adanya beberapa data yang dibocorkan Bjorka yang valid atau benar.

Kendati demikian, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD justru bersikap lebih kalem. Masyarakat diimbau untuk tenang karena manuver Bjorka belum sampai mengusik rahasia negara. 

Selang beberapa hari, Polri menetapkan satu tersangka dengan inisial MAH yang ternyata dianggap sebagai komplotan, bukan dalang utamanya.

Terlepas dari upaya pemerintah untuk memerangi serangan siber, Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) menilai pengesahan UU Perlindungan Data Pribadi bisa menjadi solusi.

Melalui beleid tersebut, bukan hanya lembaga swasta yang menjadi target, melainkan lembaga negara juga bisa diawasi apabila terbukti ada kelalaian yang menyebabkan suatu data rahasia bocor ke publik.

Penulis percaya kementerian/lembaga yang dimiliki oleh pemerintah, terutama Satgas Perlindungan Data, bukanlah macan ompong. 

Mereka tentu memiliki infrastruktur dan SDM digital yang mumpuni untuk segera mengungkap peretas sekelas Bjorka.Terlebih ada peribahasa yang mengatakan, “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.”


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.