Main Aman Eksplorasi Migas Pertamina

Pertamina menyiapkan belanja modal US$400 juta untuk kegiatan sumur minyak dan gas baru tahun ini.

Jaffry Prabu Prakoso

24 Feb 2023 - 10.30
A-
A+
Main Aman Eksplorasi Migas Pertamina

Fasilitas produksi Blok Rokan yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia, Minas, Riau.Dok SKK Migas.

Bisnis, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) berencana untuk melakukan eksplorasi terhadap 32 sumur minyak dan gas (migas) baru tahun ini. Dana besar disiapkan untuk aksi korporasi tersebut.

Perusahaan migas pelat merah itu menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai US$400 juta atau setara dengan Rp6,07 triliun (asumsi kurs Rp15.178 per US$).

“Kecil kelihatannya dari sisi bujetnya ini hampir US$400 juta. Hampir Rp7 triliun yang kita alokasikan untuk eksplorasi. Syukur-syukur ketemu,” kata SVP Strategy & Investment Pertamina Daniel S. Purba dalam Energy & Mining Outlook 2023 di Jakarta, Kamis (23/2/2023). 


Daniel mengatakan, perseroan belakangan memutuskan untuk kembali berfokus pada eksplorasi lapangan migas yang memiliki risiko relatif rendah tahun ini.

Padahal sebelumnya, subholding hulu migas Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sempat berkomitmen untuk menggarap 22 persen lapangan high risk dari keseluruhan rencana eksplorasi pada 2023.

“Kami eksplorasi yang relatif rendah. Yang risiko tinggi sekarang kami sedang lakukan studinya,” kata Daniel.

Di sisi lain, dia juga mendorong pemerintah untuk dapat kembali melakukan penyederhanaan perizinan pada kegiatan hulu migas untuk mempercepat penemuan sumur baru.

Baca juga: Pertamina Siapkan Armada Menjangkar Bisnis Angkutan Migas

Di sisi lain, perseroan juga masih menunggu sejumlah insentif yang dapat ditawarkan pemerintah untuk menjaga keekonomian pengembangan lapangan saat ini. 

“Keekonomiannya akan kita kaji secara transparan seperti apa ongkos-ongkos yang diperlukan untuk investasi bagaimana kesempatannya cost recovery dan seperti apa pengembalian modalnya,” kata dia. 

Seperti diketahui, PHE melaporkan sejumlah lapangan tua yang saat ini dikelola Pertamina mengalami penurunan produksi alamiah atau declined rate lebih dari 50 persen. 

Sejumlah blok migas yang tercatat mengalami penurunan produksi signifikan itu di antaranya Rokan, Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Kendati demikian, PHE melaporkan sejumlah lapangan yang berhasil menorehkan produksi melebihi target berasal dari WK Offshore North West Java (1,7 Mbopd), PEP Jatibarang (0,9 Mbopd), PT Pertamina Hulu Mahakam (1,3 Mbopd & 30 MMcfd), JOB Tomori (22 MMcfd) dan Corridor (6 MMcfd). 

Baca juga: Menyoal Daya Dukung Pemerintah untuk CCS/CCUS di Industri Migas

Sebelumnya, PHE menganggarkan capex sebesar US$5,7 miliar atau setara dengan Rp86,26 triliun (asumsi kurs Rp15.134 per US$) pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini. 

Besaran belanja modal itu naik 78,12 persen dari realisasi anggaran sepanjang 2022 yang berada di angka US$3,2 miliar atau setara dengan Rp48,47 triliun.  

Adapun, porsi alokasi belanja modal untuk rencana merger dan akuisisi PHE tercatat naik signifikan ke level US$1,5 miliar atau setara dengan Rp22,7 triliun pada tahun ini. Padahal, realisasi anggaran yang digunakan untuk merger dan akuisisi pada 2021 dan 2022 hanya berada di angka masing-masing US$41 juta dan US$27 juta.  

Kawasan hulu minyak dan gas bumi di Tanah Air. Salah satu upaya yang dapat diterapkan dalam dekarbonisasi di sektor migas, adalah dengan Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) atau sistem penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan CO2. Dok. SKK Migas 

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan melonjaknya alokasi belanja modal itu diarahkan sebagian untuk biaya akuisisi hak partisipasi Shell di proyek LNG Abadi Blok Masela. 

Kendati demikian, Nicke enggan menerangkan lebih lanjut ihwal alokasi investasi yang diarahkan untuk pengambilan 35 persen hak pengelolaan yang ingin dilepas Shell di salah satu proyek migas termahal di dunia saat ini.

“Belum ada yang bisa disampaikan, tidak boleh, kita terikat non-disclosure agreement (NDA),” kata Nicke selepas rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (7/2/2023). (Nyoman Ary Wahyudi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.