Makin Berkilau, Kinerja Bank Permata Lampaui Kondisi Prapandemi

Kinerja keuangan PT Bank Permata pada semester I/2022 sangat memuaskan. Bank Permata berhasil cetak laba bersih Rp1,4 triliun pada semester I/2022 berkat strategi yang tepat dari manajemen untuk memperbaiki kondisi pascapandemi.

Emanuel Berkah Caesario

30 Agt 2022 - 19.30
A-
A+
Makin Berkilau, Kinerja Bank Permata Lampaui Kondisi Prapandemi

Nasabah bertransaksi di banking hall Bank Permata, di Jakarta, Kamis (27/6/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Bisnis, JAKARTA — PT Bank Permata Tbk. (BNLI) sukses mencetak kenaikan laba bersih fantastis sepanjang semester I/2022, yakni mencapai 123,7 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp1,4 triliun, seiring dengan efektifnya strategi pemulihan bisnis yang dijalankan perseroan.

Pertumbuhan tersebut diperoleh jika membandingkan antara nilai laba bersih individual pada semester I/2022 dengan laba bersih konsolidasian pada periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp638,8 miliar.

Pada paruh pertama tahun ini, perseroan tidak lagi membukukan kinerja konsolidasian, sebab perseroan telah melakukan divestasi dan tidak lagi memiliki anak usaha untuk dikonsolidasikan. Dengan kata lain, kinerja konsolidasian perseroan pada semester I/2022 ini disamakan dengan kinerja individualnya.

Adapun, jika laba bersih individual tersebut dibandingkan dengan laba bersih individual pada periode yang sama tahun lalu, hasilnya laba BNLI tercatat tumbuh 71,5 persen YoY, sebab laba bersih individual pada semester I/2022 adalah Rp833,4 miliar.

Laba bersih yang dicapai perseroan pada paruh pertama tahun ini sudah melampaui capaian laba pada akhir 2021 lalu yang senilai Rp1,23 triliun. Laba bersih ini juga sudah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi.


Direktur Utama PermataBank, Meliza M. Rusli, mengatakan bahwa pertumbuhan laba bersih konsolidasian itu dikontribusi oleh pendapatan operasional sebesar Rp5,6 triliun atau tumbuh sebesar 13,6 persen YoY. Selain itu, pendapatan bunga bersih meningkat 6,7 persen YoY menjadi Rp4,3 triliun.

Menurutnya, capaian kinerja sepanjang semester I/2022 itu merupakan hasil dari usaha perseroan dalam memperkuat inovasi produk dan jasa perbankan digital, memperdalam kemitraan strategis, dan menjadi bagian dari keseharian nasabah dalam melakukan transaksi keuangan.

“Ke depannya kami akan terus menjaga pertumbuhan dan profitabilitas berkelanjutan melalui pertumbuhan kredit sehat serta manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian yang baik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (29/8).

Di sisi lain, emiten bank bersandi saham BNLI ini mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 7,9 persen YoY menjadi Rp230 triliun. Adapun penyaluran kredit perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini mencapai Rp134,7 triliun atau naik 11,4 persen YoY.

Kenaikan kredit tersebut didorong oleh pertumbuhan di segmen korporasi dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), yang masing-masing sebesar 14,2 persen dan 19,5 persen.

Peningkatan kredit tersebut diikuti dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) secara gross di level 3,1 persen, membaik dibandingkan Desember 2021 sebesar 3,2 persen. Sementara itu, NPL net juga turun dari 0,7 persen pada Desember 2021 menjadi 0,5 persen.

“Rasio NPL coverage terjaga baik di kisaran 230 persen atau meningkat dibandingkan 218 persen di periode yang sama tahun lalu. Bank terus mengupayakan penyelesaian kredit bermasalah melalui upaya restrukturisasi, litigasi, dan penjualan aset,” tutur Meliza.

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah tumbuh sebesar 10,3 persen YoY terutama dikontribusi dari kenaikan giro sebesar 37,7 persen dan tabungan 11,2 persen. Hal ini sesuai dengan strategi BNLI yang fokus pada pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA).

Sampai dengan Juni 2022, rasio CASA perseroan mengalami peningkatan sebesar 58,7 persen atau lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Desember 2021 yang sebesar 54,0 persen.

“Dengan demikian posisi likuiditas Bank terjaga dengan baik untuk mendukung penyaluran kredit dengan suku bunga yang lebih kompetitif dalam jangka panjang,” kata Meliza.


 

UNIT USAHA SYARIAH

Sementara itu, bisnis perbankan syariah perseroan berkinerja relatif terbatas, tecermin dari raihan laba yang menyusut.

Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Permata mencatatkan penurunan laba bersih tahun berjalan sebesar 73,8 persen YoY dari Rp268,62 miliar menjadi Rp70,37 miliar pada akhir Juni 2022.

Pendapatan dari penyaluran dana sebenarnya masih tumbuh 4,8 persen YoY dari Rp699,55 miliar menjadi Rp733,01 miliar, tetapi bagi hasil untuk pemilik dana investasi menyusut 9,5 persen YoY, dari Rp221,2 miliar menjadi Rp242,26 miliar.

Pendapatan setelah distribusi bagi hasil UUS Bank Permata juga tumbuh 2,6 persen YoY menjadi Rp490,75 miliar, dari semula Rp478,35 miliar. Namun, perseroan menyisihkan kerugian penurunan nilai aset keuangan atau impaitment senilai Rp197,97 miliar, naik 272,3 persen.

Alhasil, laba operasionalnya hanya Rp70,68 miliar, turun 73,7 persen YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp268,6 miliar. Setelah dikurangi pajak, laba bersih pun berkurang dengan proporsi yang sama.

Adapun, dari sisi rasio keuangan berupa nonperforming financing (NPF) berada di level 1,48 persen (gross) dan 0,99 persen (nett), turun dari masing-masing 1,95 persen dan 1,67 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, untuk return on asset (ROA) turun dari 2,11 persen menjadi 0,50 persen, serta rasio financing to deposit ratio (FDR) naik menjadi 73,68 persen pada 30 Juni 2022.

UUS BNLI mencatatkan kenaikan total aset sebesar Rp29,83 triliun hingga 30 Juni 2022, naik 14,8 persen YoY dari Rp25,97 triliun pada periode yang sama tahun lalu, dan naik 5,2 persen year-to-date (YtD) dibanding posisi akhir tahun 2021 yang senilai Rp28,36 triliun.

Kenaikan total aset UUS Bank Permata terjadi di beberapa pos perseroan, di antaranya yakni pada pos pembiayaan bagi hasil yang tercatat naik 16 persen YoY dari Rp12,29 triliun menjadi Rp14,23 triliun, dan pos pembiayaan sewa yang juga tumbuh 4,1 persen YoY menjadi Rp2,71 triliun dari Rp2,6 triliun.

Kemudian, ada juga pos aset produktif lainnya yang melesat 2.880,6 persen YoY dari Rp14,07 miliar menjadi Rp419,51 miliar pada akhir Juni 2022.

Naiknya aset seiring dengan pertumbuhan pada pos liabilitas. Dana simpanan wadiah tercatat Rp1,35 triliun, tumbuh 31 persen YoY dari sebelumnya bernilai Rp1,03 triliun. Senada, pos dana investasi non-profit juga naik 9,2 persen YoY dari Rp20,44 triliun menjadi Rp22,33 triliun.

Dengan demikian, total liabilitas yang dimiliki UUS Bank Permata menjadi Rp29,83 triliun, atau tumbuh 14,8 persen YoY dari Rp25,97 triliun pada Juni 2021.

(Reporter: Dionisio Damara & Rika Anggraeni)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.