Makin Parah, Inflasi Sri Lanka Tembus 70 Persen

Sri Lanka mencatatkan lonjakan inflasi mencapai 70,2 persen pada Agustus akibat kenaikan harga makanan. Kondisi ini diyakini masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Nindya Aldila

23 Sep 2022 - 12.54
A-
A+
Makin Parah, Inflasi Sri Lanka Tembus 70 Persen

Bisnis, JAKARTA - Sri Lanka mencatatkan lonjakan inflasi mencapai 70,2 persen pada Agustus akibat kenaikan harga makanan. Kondisi ini diyakini masih akan berlanjut hingga tahun depan. 

National Consumer Price Index (NCPI) mencatat kenaikan ini didorong oleh harga pangan yang melesat hingga 84,6 persen dan harga barang non makanan sebesar 57,1 persen, seperti dilaporkan oleh Channel News Asia pada Jumat (23/9/2022).

Angka ini masih di atas perkiraan Central Bank of Sri Lanka (CBSL) yang memprediksi bahwa inflasi pada Agustus akan mereda sekitar 70 persen setelah mencapai puncaknya seiring dengan perlambatan ekonomi. 

Sementara itu, Colombo Consumer Price Index yang dirilis setiap akhir bulan menunjukkan indeks harga konsumen naik 64,3 persen pada Agustus. Indeks ini berperan sebagai indikator utama terhadap harga dan mencerminkan inflasi di Ibu Kota. 

Baca juga: Membandingkan Skala Ekonomi Indonesia dan Sri Lanka

Perekonomian Sri Lanka telah melorot hingga 8,4 persen pada kuartal II/2022 dibandingkan dengan tahun lalu, penurunan tertajam di tengah kelangkaan pupuk dan bahan bakar.

"Inflasi diperkirakan akan menurun mulai September. Bagaimanapun, inflasi cenderung mengalami moderasi dan mencapai satu digit pada paruh kedua tahun 2023," kata Kepala Penelitian Perusahaan Investasi First Capital yang berbasis di Kolombo, Dimantha Mathew.

Sebelum pandemi, Sri Lanka sangat bergantung dengan pariwisata untuk menghimpun mata uang asing, termasuk dolar AS. Namun, ditutupnya perbatasan telah membuat sektor ini terpukul dan menghancurkan perekonomian.

Selain itu, akibat pengelolaan keuangan yang salah, negara ini akhirnya terlilit utang dan gagal bayar alias default pada awal tahun ini. 

Di samping itu, kekacauan politik belum membaik selama beberapa bulan terakhir yang ditandai dengan Presiden Gotabaya Rajapaksa yang memilih kabur sebelum mengundurkan diri pada Juli. 

Ratusan ribu orang turun ke jalanan untuk melakukan aksi protes dan bahkan berujung kepada kekerasan akibat menuntut penurunan harga makanan dan bahan bakar. 

Baca juga: Akhir Memalukan Dinasti Rajapaksa di Sri Lanka

"Para ahli telah memperingatkan bahwa kenaikan harga makanan berarti bahwa kesengsaraan ekonomi bagi Sri Lanka akan berlanjut untuk beberapa waktu mendatang," kata koresponden bisnis India dari BBC, Arunoday Mukharji.

Sri Lanka telah mencapai kesepakatan awal dengan International Monetary Fund (IMF) untuk pinjaman senilai US$2,9 miliar. Namun, kesepakatan bergantung pada negara yang juga menerima dana dari kreditur swasta.

Pada Selasa, India mengatakan telah memulai pembicaraan dengan Sri Lanka terkait dengan restrukturisasi utangnya dan juga akan menawarkan investasi jangka panjang. India sebelumnya memberikan hampir US$4 miliar bantuan keuangan kepada negara tetangganya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.