Manufaktur Bergeliat, SSIA Genjot Penjualan Lahan Industri

PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) berupaya menggenjot penjualan lahan kawasan industri seiring dengan menggeliatnya industri manufaktur di dalam negeri.

Afiffah Rahmah Nurdifa

5 Des 2023 - 18.39
A-
A+
Manufaktur Bergeliat, SSIA Genjot Penjualan Lahan Industri

Subang Smartpolitan SSIA. - SSIA

Bisnis, JAKARTA - PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) berupaya menggenjot penjualan lahan kawasan industri seiring dengan menggeliatnya industri manufaktur di dalam negeri.

VP Head of Investor Relations Surya Semesta Internusa Erlin Budiman mengatakan meski penjualan lahan belum terserap baik, pihaknya optismistis pertumbuhan industri manufaktur sebagai peluang positif dan akan tetap fokus pada bisnis kawasan industri, terutama menggenjot penjualan lahan di Subang Smartpolitan.

"Kalau untuk Subang, saat ini inquires dari berbagai sektor seperti autoparts, medical tool, steel & metal, heavy machinery, consumer goods, hingga electric vehicle," kata Erlin kepada Bisnis, Selasa (5/12/2023).

Unit usaha yang mengelola kawasan industri SSIA, yakni PT Suryacipta Swadaya (SCS) melaporkan pendapatan sebesar Rp275,1 miliar pada kuartal III/2023 atau turun 6,3% dari Rp293,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut disebabkan terkoreksinya penjualan lahan sebesar 29,6% yang tercatat dalam laporan sebesar Rp56 miliar. Sedangkan, tahun lalu penjualan lahan SCS mencpaai Rp79,6 miliar.

Sepanjang triwulan III/2023, marketing sales SCS tercatat senilai Rp394,4 miliar dengan penjualan lahan seluas 21,1 hektare. Lahan kawasan industri yang masih kuat yakni di Karawang sebesar Rp18,2 hektare dengan nilai Rp359,8 miliar.

Sementara itu, lahan kawasan industri di Subang Smartpolitan sebanyak 2 hektare senilai Rp31 miliar. Secara keseluruhan, SCS memiliki backlog seluas 20,6 hektare senilai Rp398,7 miliar.

Adapun, unit properti SSIA yang terdiri atas kawasan industri, biaya pemeliharaan, sewa komersial, dan hunian menghasilkan pendapatan sebesar Rp413,8 miliar hingga kuartal III/2023 atau meningkat 13% dari periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, S&P Global mencatat Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia menguat ke level 51,7 pada November 2023, atau meningkat 0,2 poin dari 51,5 pada Oktober 2023. Kondisi PMI di atas 50 menunjukkan kondisi manufaktur yang masih ekspansi.

Terlebih, sektor industri pengolahan RI semakin meningkat kinerjanya pada triwulan III/2023. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan industri tumbuh 5,20% (year-on-year/yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi yang sebesar 4,94 persen pada periode yang sama.


LANJUTKAN EKSPANSI

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis aktivitas industri manufakturdi Tanah Air semakin bergeliat di tengah kondisi tekanan ekonomi global yang belum stabil.

Hal ini seiring dengan capaian Purchasing Manager’s Index atau Pmi Manufaktur Indonesia pada November 2023 berdasarkan laporan S&P Global. PMI Indonesia menguat ke level 51,7 atau meningkat 0,2 poin dari Oktober 2023 yang berada di posisi 51,5.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan level PMI Indonesia terus bertahan di fase ekspansi sepanjang 2023. Adapun, capaian positif PMI telah bertahan hingga 27 bulan berturut-turut.

"Hal ini juga menandakan bahwa tingkat kepercayaan diri dari para pelaku industri kita masih tinggi,” kata Agus, dikutip Minggu (3/12/2023).

Kondisi ekspansi dipicu oleh produksi yang meningkat lantaran naiknya pesanan dan tenaga kerja. Pemenuhan permintaan baru meningkatkan aktivitas pembelian oleh perusahaan manufaktur.

Perusahaan secara umum optimis bahwa output pada 12 bulan mendatang akan naik, di tengah harapan terhadap kondisi pasar yang menguat dan harga yang lebih stabil.

PMI manufaktur Indonesia pada November 2023 mampu melampaui PMI manufaktur ASEAN (50,0), PMI China (50,7), Zona Eropa (43,8), Jerman (42,3), Jepang (48,3), Belanda (44,9), Korea Selatan (50,0), Taiwan (48,3), Inggris (46,7), dan Amerika Serikat (49,4).

Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan, menerangkan, data PMI November 2023 menunjukkan bahwa sektor manufaktur Indonesia terus berekspansi.

“Pesanan baru yang akan datang untuk barang produksi Indonesia kembali naik pada November 2023. Hal ini didukung oleh perbaikan kondisi permintaan dan ekspansi basis pelanggan,” kata Pan.

Adapun Bank Indonesia menyampaikan bahwa pada triwulan IV 2023, kinerja LU Industri Pengolahan yang tecermin dari PMI-BI diprakirakan tetap kuat dengan indeks 52,25% dan masih berada pada fase ekspansi.

Berdasarkan komponen pembentuknya, mayoritas komponen diprakirakan berada pada fase ekspansi dengan indeks tertinggi pada komponen volume produksi, diikuti volume persediaan barang jadi dan volume total pesanan.

Mayoritas SubLU juga diprakirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, diikuti industri alat angkutan dan industri barang galian bukan logam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.