Melirik Prospek Molek Investasi Startup Social Commerce

Para modal ventura memilih untuk melakukan pendanaan pada perusahaan dagang-el dengan model bisnis social commerce, terutama untuk melakukan penetrasi pasar di daerah lapis dua dan tiga.

Redaksi

3 Nov 2021 - 16.04
A-
A+
Melirik Prospek Molek Investasi Startup Social Commerce

Ilustrasi belanja online. - istimewa

Bisnis, JAKARTA — Model bisnis social commerce dalam industri dagang-el diprediksi menjadi primadona di kalangan investor perusahaan rintisan, sehubungan dengan potensi pasarnya yang sangat menjanjikan di wilayah-wilayah lapis dua dan tiga.

Sekadar catatan, social commerce merupakan aktivitas promosi dan transaksi perdagangan melalui platform media sosial alih-alih lokapasar (marketplace).

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menyebut penetrasi pasar yang dilakukan oleh perusahaan lokapasar selama ini cenderung menyasar konsumen di wilayah lapis (tier) satu.

Sebaliknya, penetrasi lokapasar di deareh tingkat dua ke bawah masih kecil yaitu hanya 20 persen.

"Masyarakat di sana terbukti lebih sering mengakses media sosial untuk berbelanja," ujarnya saat dihubungi, Selasa (2/11/2021).

Menurut Edward, fenomena tersebut dipicu masalah kepercayaan di masyarakat di wilayah tier dua dan tiga yang belum teebiasa mengakses platform lokapasar sehingga masyarakat lebih memilih media sosial sebagai sarana belanja.

Edward mengatakan, dengan melihat tren tersebut, para modal ventura memilih untuk melakukan pendanaan pada perusahaan dagang-el dengan model bisnis social commerce, terutama untuk melakukan penetrasi pasar di daerah lapis dua dan tiga.

Dia berpendapat masyarakat di wilayah lapis dua dan tiga lebih terbiasa melakukan pencarian barang melalui media sosial sebelum membelinya.

Pola tersebut berbeda dengan konsumen lokapasar di wilayah lapis satu yang masuk ke dalam aplikasi karena telah siap untuk membeli barang yang spesifik.

Walaupun demikian, menurut Edward, bisnis social commerce juga banyak menarik konsumen di daerah tingkat satu. Hal itu dibuktikan dengan capaian penetrasi yang meyentuh angka 30 persen.

"Ke depan social commerce akan membantu dan memfasilitasi para pedagang tingkat nasional, terutama pedagang di lingkup daerah lapis dua dan tiga," ungkapnya. 

Terkait dengan tren pendanaan, Edward menyebut saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan investasi pada perintis di ranah social commerce. Menurutnya, tren pendanaan tersebut diperkirakan bertahan dua hingga 5 tahun ke depan.

Menurut Edward, ke depan social commerce dipeediksi justru akan melakukan konsolodasi atau kolaborasi dengan lokapasar besar maupun melebur sebagai bagian dari fitur media sosial.

Kecenderungan tersebut dapat terjadi karena para investor social commerce juga merupakan pengucur dana untuk para pelaku lokapasar. 

Sementara itu, peneliti ekonomi digital Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai model bisnis social commerce lebih sesuai digunakan untuk merambah kota-kota kecil dengan sasaran konsumen akar rumput. 

Dia menyebut perbedaan mendasar platform lokapasar dan social commerce terdapat dalam fokus produk dan pelayanan pembeliannya. 

"Social commerce lebih banyak menyediakan barang kebutuhan sehari-hari [fast moving consumer goods/FMCG] dan bisa membentuk kelompok pembelian dengan menggunakan platform media sosial," ujar Huda.

Dia menambahkan model bisnis social commerce mirip seperti kemitraan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan ke toko kelontong. Biasanya, kemitraan tersebut dalam bentuk reseller ataupun agen perorangan yang dapat membentuk sebuah kelompok belanja.

Huda mengatakan model bisnis seperti itu dianggap lebih cocok di kalangan akar rumput. Hal tersebut dikarenakan konsumen berasal dari lingkungan terdekat penjual. 

Menurut Huda, investor melirik social commerce karena berpotensi melibatkan warga sekitar atau sharing economy. Namun, demikian industri lokapasar dipandang akan tetap lebih besar dibandingkan dengan social commerce karena penetrasi pasarnya telah terbentuk sejak lama.

Huda menyebut proyeksi ke depan, model social commerce akan dilirik oleh pelaku lokapasar besar dalam bentuk kemitraan dengan pedagang. 

"Sudah mulai banyak juga mitra Bukalapak, Shopee, Tokopedia yang sudah exist. Begitu juga dengan Gojek dengan program GoShop-nya," ungkapnya. 

Menurut prediksi Huda ke depan akan banyak perusahaan teknologi yang merambah sektor tersebut. Kolaborasi juga diperkirakan akan terjadi  dengan penyedia platform media sosial.

Namun, lanjutnya, kolaborasi lebih condong ke arah e-commerce atau perusahaan digital turunannya.

Bagi Huda, untuk bisa menyaingi bisnis lokapasar, para pelaku social commerce membutuhkan strategi perluasan jaringan di lapangan. Selain itu juga memperbanyak konsumen akhir (end user) dan fokus di kota-kota kecil yang potensial. (Thovan Sugandi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.