Membaca Pro-Kontra Rencana Akuisisi IBC atas StreetScooter

Didasari alasan pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik itulah IBC berencana mengakuisisi StreetScooter, pabrikan kendaraan listrik yang berbasis di Aachen, Jerman.

Fatkhul Maskur

2 Des 2021 - 07.00
A-
A+
Membaca Pro-Kontra Rencana Akuisisi IBC atas StreetScooter

StreetScooter, pabrikan kendaraan listrik yang berbasis di Aachen, Jerman, dimiliki oleh Deutsche Post DHL Group sejak 2014.

Bisnis, JAKARTA — Setelah memulai pembangunan pabrik baterai, pemerintah melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) berusaha membangun industri kendaraan listrik melalui rencana akuisisi pabrikan Jerman StreetScooter. Pro-kontra pun mengemuka. 

Indonesia Battery Corporation (IBC) adalah holding yang dibentuk oleh Mining Industry Indonesia (Mind ID), Aneka Tambang (Antam), Pertamina, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Induk perusahaan ini mengemban misi mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.

Misi pembangunan industri baterai sudah menunjukkan titik terang. IBC telah menggandeng Konsorsium LG (LG Energy Solution) dan Konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL). Targetnya, pabrik akan dibangun mulai 2022 dengan kapasitas tahap pertama 10 gigawatt hour (GWh). 

Pasarnya adalah para pabrikan kendaraan listrik. Namun demikian, hingga kini belum jelas pabrikan mobil mana yang akan menjadi konsumennya. Terlebih lagi, pabrikan mobil pada umumnya telah 'memiliki' pabrik baterai.

Didasari alasan pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik itulah IBC berencana mengakuisisi StreetScooter, pabrikan kendaraan listrik yang berbasis di Aachen, Jerman. Perusahaan yang telah dimiliki oleh Deutsche Post DHL Group sejak 2014 ini telah mendistribusikan lebih dari 13.500 van dan truk listrik di Jerman saja.

Dilansir dari laman resminya, StreetScooter memulai produksi pertamanya pada 2015. Pada April 2016, Deutsche Post DHL mengumumkan bahwa produksi StreetScooter mulai 2017 akan ditingkatkan hingga 10 ribu kendaraan tiap tahunnya.

Pada Oktober 2017 Streetscooter mengumumkan untuk membangun pabrik kedua di Duren dengan kemampuan produksi hingga 10.000 kendaraan per tahun. Hingga 2020, perusahaan telah mendistribusikan 13.500 mobil van dan truk listrik ke seluruh Jerman.

Salah satu mobil listrik StreetScooter adalah Work Performance yang memiliki dimensi tinggi 5,81 meter, tinggi 1,93 meter, dan lebar 2,31 meter.

Kendaraan jenis ini diklaim dapat bermanuver dengan mudah di dalam kota. Secara umum, kendaraan listrik StreetScooter dapat mencapai kecepatan 100 kilometer per jam dan untuk saat ini pengguna terbesar kendaraan StreetScooter adalah Deutsche Post.

Standar kendaraan StreetScooter hanya memiliki satu kursi pengemudi. Namun, sesuai permintaan kendaraan StreetScooter bisa dilengkapi dengan kursi penumpang. Kendaraan Jerman ini dibanderol 39.990 euro atau setara dengan Rp649,79 juta.

Finalisasi

Dany Ichdan, Direktur Hubungan Kelembagaan Mining and Industry Indonesia (MIND ID) sebelumnya mengatakan IBC sedang dalam proses akuisisi produsen otomotif Jerman. Proses akuisisi tersebut sudah dalam proses finalisasi. 

"Sekarang sudah tahap finalisasi, akan chip in jadi majority shareholder di perusahaan di Jerman, yang share market-nya sudah besar di Eropa dan akan masuk ke pasar Amerika," kata Dany dalam webinar ESG Conference Maybank Sekuritas Indonesia, Kamis (7/10/2021).

Setelah proses akuisisi selesai, IBC akan menggunakan hak kekayaan intelektual milik perusahaan tersebut dan mengadopsinya untuk mengembangkan industri di dalam negeri. Proses adopsi kekayaan intelektual diperkirakan membutuhkan 1 hingga 2 tahun ke depan.

Hal itu disebutnya merupakan strategi anorganik untuk dengan cepat mensejajarkan diri dengan pelaku kendaraan listrik dunia. Selain melakukan adopsi teknologi, IBC juga akan mempelajari proses bisnis yang dijalankan di Eropa.

Menurutnya, transfer teknologi dan adopsi proses bisnis telah masuk dalam kesepakatan akuisisi sehingga dapat paralel dengan pengembangan industri baterai listrik yang sudah dimulai. "Saya yakin kami bisa eksekusi dalam waktu 3 tahun ke depan," ujarnya.

IBC dikabarkan akan membeli pabrikan StreetScooter tersebut senilai US$170 juta atau sekira Rp2,44 triliun. 

Pro-Kontra

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengatakan niat akuisisi perusahaan tersebut untuk semakin memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia setelah pada sebelumnya pemerintah meresmikan pabrik baterai mobil listrik di Karawang, Jawa Barat.

Bahlil pun ingin Indonesia bukan hanya memproduksi baterai listrik, melainkan menjadi negara penghasil nikel terbesar serta harus menjajaki pembuatan mobil listrik sebagaimana negara lain. 

Di mana saat ini mobil listrik sudah mulai diperbincangkan di Vietnam, yang notabene tetangga Indonesia. “Di Indonesia, saya sudah ke Eropa berencana untuk mengakuisisi mobil. Nanti kita tidak hanya pemain baterai tetapi juga kita pemain mobil," ujarnya.

Namun, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama menilai, rencana akuisisi salah satu produsen otomotif di Jerman itu mengada-ada.

“Narasinya apa untuk akuisisi mobil listrik di Jerman? supaya bisa masuk ke pasar Amerika, masuk ke pasar China, itu yang saya bilang hati-hati. Anda tidak boleh ingin membeli sesuatu, Anda tidak boleh mengarang atau memberikan future valuasinya yang ke depan. Dasarnya apa valuasi future, ini barang baru,” ujar Ahok seperti dikutip dari Youtube Panggil Saya BTP, Selasa (23/11/2021).

Ahok menjelaskan bahwa saat ini di Amerika Serikat telah ada pemain mobil listrik Tesla yang telah memiliki pangsa pasar besar, sedangkan di China ada Wuling Motors yang sudah mampu menjual mobil listrik dengan harga murah.

 

Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.