Memilah Saham-saham Potensial Jika IHSG Berbalik Menguat

Pasar saham menunjukkan sinyal pemulihan di awal pekan ini. Sejumlah analis pun merekomendasikan beberapa sektor tertentu yang dapat menjadi pilihan investor jika kondisi pasar berbalik menguat.

Emanuel Berkah Caesario
May 17, 2022 - 9:51 AM
A-
A+
Memilah Saham-saham Potensial Jika IHSG Berbalik Menguat

Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan hari pertama pekan ini, Selasa (17/5) setelah sepanjang pekan lalu tertekan selama 5 hari beruntun. Hal ini menjadi sinyal pembalikan arah IHSG. Lantas, saham mana yang menarik untuk diburu?

Koreksi yang terjadi pada IHSG sepanjang pekan lalu merupakan akumulasi reaksi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat, the Fed, yang menaikkan suku bunga acuan secara sangat agresif, yakni sebesar 50 bps, pada saat pasar Indonesia sedang libur karena Lebaran.

Selama periode libur tersebut, bursa luar negeri masih dibuka dan sudah lebih dahulu bereaksi terhadap kebijakan tersebut. Hasilnya, sejulah besar bursa mengalami kerontokan, dimulai dari bursa saham di Amerika Serikat.

Alhasil, begitu pasar saham di Indonesia dibuka usai libur Lebaran, giliran saham-saham dalam negerilah yang menjadi sasaran jual investor asing. Tercatat, total aksi jual bersih atau net sell investor asing sepanjang sepekan lalu mencapai Rp9 triliun.

Kejatuhan pasar selama sepekan ini telah menghapuskan seluruh pencapaian pertumbuhan yang berhasil dibukukan oleh IHSG sepanjang tahun berjalan. Seperti diketahui, IHSG sempat beberapa kali menyentuh rekor baru tahun ini, terakhir di level 7.276,19, dan berhasil tumbuh hingga dua digit.

Pada akhir pekan lalu, IHSG sudah ditutup di level 6.597,99 dan menyisakan tingkat return sebesar 0,25 persen saja secara year-to-date (YtD). Artinya, IHSG hampir ditutup di level yang sama seperti level penutupan pada akhir 2021 lalu.


Dengan demikian, secara fundamental IHSG sejatinya sangat kuat, terbukti dari lajunya yang sukses menyentuh rekor. Namun, pasar saham Indonesia pun tidak kebal terhadap faktor eksternal. Pengetatan suku bunga global mau tidak mau turut berdampak pada IHSG.

Kini, di hari pertama perdagangan pekan ini, IHSG mulai kembali berbalik arah. IHSG ditutup menguat 0,70 persen dibanding level penutupan pekan lalu di posisi 6.644,47. Sepanjang hari, IHSG bertahan di zona hijau, sedangkan investor asing tercatat net buy Rp169,6 miliar.

Hal ini memberikan sinyal bahwa dalam waktu dekat IHSG kemungkinan akan segera kembali menuju level yang telah dicapainya sebelumnya. Namun, di tengah semua sentimen yang ada saat ini, baik eksternal maupun internal, tentu tidak semua kelompok emiten memiliki peluang yang sama untuk bangkit.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa ada beberapa sektor yang patut dicermati saat penurunan IHSG. Sektor tersebut adalah perbankan, consumer non-cyclicals, transportasi, logistik, dan infrastruktur.

Dia menjelaskan, saham perbankan memiliki daya tahan yang baik. Ketika ada penurunan indeks, saham perbankan cenderung bertahan. Menurutnya, jika ada pemulihan, saham perbankan akan pulih lebih cepat.

"Penurunan ini jadi sebuah kesempatan yang baik untuk melakukan akumulasi beli. Tapi, yang perlu kita perhatikan situasi dan kondisi masih penuh dengan volatilitas di pasar," ucapnya, Senin (16/5).

Menurutnya, pada dasarnya pasar modal Indonesia tertekan oleh katalis negatif dari eksternal, seperti perlambatan ekonomi China, inflasi, dan kenaikan suku bunga the Fed.

"Ini semakin mengganggu, apalagi yang semakin berat itu perlambatan ekonomi China yang membuat gangguan pasokan," kata Nico.

Meski demikian, lanjutnya, terdapat katalis positif seperti data ekonomi ekspor-impor Indonesia yang diharapkan bisa mendorong IHSG. Selain itu, kata dia, pasar menanti sikap dan kebijakan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga.

"Seberapa dalam indeks kita mengalami pelemahan, tergantung data ekonomi yang akan menjadi bantalan kita," ujarnya.

Beberapa saham pilihan Pilarmas Investindo Sekuritas yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).

Sementara itu, di sektor consumer non-cyclicals adalah saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF).

Analis Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya mengatakan bahwa per 10 Mei 2022, dari 45 perusahaan di LQ45, 23 telah merilis kinerja kuartal I/2022. Laba bersih agregat tiga bulan pertama tahun ini tumbuh signifikan 79,1 persen YoY dan naik 35,5 perden QoQ.

"Sektor pertambangan menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang paling besar di kuartal pertama 2022 di 335,7 persen YoY," tulisnya dalam riset, Selasa (17/5).

Kombinasi antara membaiknya mobilitas masyarakat dan berlanjutnya harga komoditas CPO, nikel, dan batu bara yang menguntungkan akan terus memperkuat pertumbuhan laba bersih di kuartal-kuartal mendatang.

Selain itu, PDB kuartal I/2022 Indonesia 5,01 persen YoY melampaui perkiraan konsensus 4,95 persen YoY, memicu optimisme bahwa pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat.

"Konsumsi rumah tangga yang lebih tinggi mendukung pertumbuhan PDB. Ke depan, kami memperkirakan PDB Indonesia pada kuartal-kuartal mendatang akan tetap solid didukung oleh kombinasi mobilitas yang membaik dan harga komoditas yang kuat," ungkapnya.

Kebijakan pengetatan moneter AS dapat membawa sentimen negatif. The Fed sedang dalam mengurangi likuiditas, tetapi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Indonesia berada dalam posisi yang lebih baik untuk menghadapi siklus pengetatan kali ini.

Latar belakang makro Indonesia berbeda dengan siklus kenaikan suku bunga tahun 2013 dan 2018. Rupiah diperkirakan akan cukup stabil didukung oleh surplus perdagangan yang berkelanjutan dan cadangan devisa yang relatif kuat.

"Kami menambahkan ASII, MPMX, INDF dan HMSP ke stock picks kami. Stock picks kami condong ke tambang batubara, jasa pertambangan, shipping, automotive, non cyclical consumer dan rokok yaitu  ITMG, ADRO, UNTR, SMDR, MPMX, ASII, INDF dan HMSP," kata Hariyanto.

BIG CAPS LQ45

Senior Investment Information Mirae Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, menilai momentum bearish jangka pendek akibat sentimen global saat ini dapat menjadi waktu tepat masuk ke pasar, terutama menyasar saham-saham big caps anggota LQ45.

Alasannya, pasar modal tetap bakal mendapatkan katalis positif dari indikator ekonomi Indonesia masih sesuai ekspektasi. Apabila melihat pertumbuhan ekonomi kuartal I/2022 yang tumbuh 5,01 persen, tingkat inflasi umum yang masih dalam jangkauan perkiraan BI, hingga tingkat inflasi ini juga masih menunjukkan indikator positif.

"Tingkat inflasi inti masih menunjukkan apresiasi kenaikan persentase, menggambarkan tingkat daya beli masyarakat sudah mengalami pemulihan. Selain itu, indeks keyakinan konsumen 7 bulan berturut-turut masih tumbuh optimistis terkait pemulihan ekonomi, penjualan ritel juga masih terus tumbuh," paparnya.

Selain itu, dari dalam negeri laporan keuangan kuartal I/2022 dari sejumlah emiten juga bakal membantu kinerja indeks LQ45.

"Sekaligus paling pemberitaan mengenai aksi korporasi emiten, dividen, stock split, atau rights issue, mestinya manfaatkan kondisi IHSG overssold teknikal, momentum bottom fishing bagi investor menurut saya," tuturnya.

Selain itu, data neraca perdagangan juga bakal dirilis pada pekan ini, seiring dengan tren harga komoditas nonmigas Indonesia seharusnya mampu membuat neraca perdagangan surplus.

Menjelang akhir Mei 2022, sentimen penetapan BI 7DRRR bakal menjadi data yang ditunggu investor. Namun, BI masih memiliki ruang tidak menaikkan BI rate seiring dengan upaya pemulihan ekonomi.

Adapun, memanfaatkan periode pelemahan LQ45 sejumlah emiten yang secara fundamental menarik dapat menjadi pilihan investor. Sektor-sektor yang menurutnya menarik finansial, kesehatan, industri, energi, transportasi, konsumer non siklikal, hingga industri dasar.

Sementara itu, saham-saham LQ45 pilihan utamanya yakni ADRO, ANTM, BBNI< BBRI, ITMG, LPPF, dan UNTR.

(Reporter: Annisa Saumi, Rinaldi Azka, Mutiara Nabila)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Memilah Saham-saham Potensial Jika IHSG Berbalik Menguat

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ