Free

Memperkuat Daya Saing Logistik di Tengah Paradoks Masalah Menahun

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum mampu mengerek kinerja logistik Tanah Air.

Tim Redaksi

21 Apr 2024 - 18.36
A-
A+
Memperkuat Daya Saing Logistik di Tengah Paradoks Masalah Menahun

Bisnis, JAKARTA – Penilaian performa logistik Indonesia malah menurun di tengah masifnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah Presiden Joko Widodo. Sejumlah langkah terutama percepatan kolaborasi dan investasi menjadi penting demi keberlangsungan industri logistik yang lebih efisien.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai dua periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum mampu mengerek kinerja logistik Tanah Air. Padahal, dalam Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju, Jokowi melakukan pembangunan infrastruktur besar-besaran. 

Informasi tersebut tertuang dalam publikasi Analisis Makroekonomi Indonesia Economic Outlook yang dikutip pada Minggu (21/4/2024).  

LPEM UI mencatat ketika Jokowi mengucapkan sumpah jabatannya pada 2014, Logistic Performance Index (LPI) yang dirilis Bank Dunia, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-53 dengan skor 3,08. 

Terkini, skor LPI Indonesia dilaporkan sebesar 3,0 pada 2023 yang menempatkan Indonesia di posisi ke-63 dari 139 negara. Turun 10 peringkat dalam dua periode pemerintahan Jokowi.

Meski demikian, LPEM UI mengungkapkan bahwa dwelling time atau waktu bongkar muat peti kemas di pelabuhan-pelabuhan utama, seperti Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjungkarang, dan Makassar berhasil diturunkan. Hal ini menandakan bahwa bongkar muat dilakukan lebih cepat.

Adapun, peran dwelling time menjadi penting mengingat durasi bongkar muat kontainer yang terlalu lama, berpotensi menambah biaya logistik. 

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky melihat terdapat dua kemungkinan yang menyebabkan indeks performa logistik menurun.  

Pertama, pembangunan yang dilakukan selama periode 5 tahun, 2018-2023, hampir tidak ada artinya untuk meningkatkan kinerja logistik. 

“Kedua, peningkatan kinerja logistik karena pembangunan infrastruktur selama pemerintahan Presiden Jokowi belum terwujud,” ungkapnya. 


Terkait cita-cita logistik, dalam rilisnya, klaim Bappenas RI, mencatat biaya logistik nasional per September 2023 telah mencapai 14,29% dan membuat target cukup menantang agar angka tersebut dapat turun hingga 8% pada momentum Indonesia Emas 2045.

Agar cita-cita logistik Indonesia tidak berjalan mundur dan mencapai angka 8% bukanlah utopia semata, maka negara harus mampu membuat sebuah skema besar nasional pengembangan ekosistem logistik. Melalui Instruksi Presiden No. 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional/National Logistic Ecosystem (NLE), pemerintah berkomitmen untuk menghapus repetisi dan duplikasi, simplifikasi proses bisnis, kolaborasi platform logistik, pembayaran digital dan membangun infrastruktur yang tercantum dalam konsep 4 Pilar NLE.

Membahas peringkat LPI Indonesia menarik untuk kembali mengulik tulisan dari Idham Tamim Aldary, Anggota Tim Teknis National Logistics Ecosystem (NLE) dalam kolom opini Bisnis Indonesia, edisi 12 Desember 2023 berjudul 'Utopia Ekosistem Logistik'.

Dia menuturkan NLE setidaknya sedikit demi sedikit mampu mengikis paradoks permasalahan logistik, walau belum menjawab secara utuh pertanyaan atas keberhasilan cita-cita logistik.

Baca Juga : Memperbaiki Citra Industri Logistik Indonesia 

NLE melalui sistem Indonesia National Single Window (INSW), di antaranya telah mampu mengintegrasi layanan karantina dan kepabeanan (Single Submission Quarantine Customs) diterapkan pada 13 pelabuhan mencakup 95% total transaksi nasional dengan dwelling time 2,65 hari, efisiensi waktu pengajuan Delivery Order (DO) online meningkat 49,5% dan efisiensi biaya meningkat 36,5% (berdasarkan survei Prospera 2022).

Adapun efisiensi waktu layanan Surat Penyerahan Peti Kemas (SP2) online lebih cepat 66% dan efisiensi biaya meningkat 38,9%. Hasil positif program NLE di atas sedikit banyak diharapkan berdampak pada laju pergerakan positif perbaikan rantai pasok di Indonesia. 

Namun, tentu saja pergerakan positif ini harus secara menyeluruh serta tidak hanya pada sektor pemerintah, tetapi juga para pemangku kepentingan dan pengguna jasa dalam kotak ekosistem yang inklusif.

Banyak sekali usulan perbaikan dari kacamata pelaku bisnis. Usulan ini harus mampu ditangkap dan didengar oleh pemerintah. Setelah itu, tentu saja dapat diselaraskan dan masuk ke dalam skema besar perbaikan logistik seperti perbaikan infrastruktur, perbaikan rantai pasok hingga fasilitas kemudahan berusaha.

Tahun 2045 seolah menjadi pertaruhan bagi semua aspek dan tidak terkecuali logistik. Program NLE harus dapat memiliki effort lebih kencang di masa mendatang. Dasar hukum atas hidupnya program ini juga harus diperkuat dan ditingkatkan sehingga tidak berhenti hanya sampai 2024.

Selain itu, penyelarasan perencanaan dan skema besar harus segera dilakukan agar tidak ada duplikasi perencanaan di internal pemerintahan itu sendiri. Bappenas RI dan para pihak yang terlibat dalam program NLE ini harus duduk bersama dan menyepakati langkah jauh ke depan agar bergerak seirama dan satu suara untuk mencegah takdir teknokratis yang dapat membuatnya layu sebelum berkembang.


Pengembangan 4 Fokus

Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi sektor logistik nasional seiring dengan visi Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum DPP ALFI Akbar Djohan setelah Pengukuhan Kepengurusan Dewan Pengurus Pusat (DPP) ALFI masa bakti 2023-2028 pada Selasa (6/2/2024).

Akbar mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mendukung sektor logistik nasional menjadi lebih efisien. Upaya ini diharapkan berkontribusi menuju visi Indonesia Emas 2045. 

Akbar menilai Indonesia masih stagnan di peringkat ke-116 karena ekosistem logistik nasional belum efisien. Menurutnya, biaya logistik Indonesia tergolong tinggi dibandingkan lima negara Asean lain.

“Koordinasi dan kerja sama yang baik dalam menyelesaikan masalah transportasi akan cukup krusial, utamanya untuk mewujudkan kinerja angkutan barang yang lebih baik, khususnya angkutan barang dengan keselamatan yang terjamin, cepat dan tepat waktu, serta tarif yang wajar,” jelas Akbar.

Akbar menuturkan, pihaknya memiliki empat fokus utama untuk menyempurnakan ekosistem logistik nasional, yakni diversifikasi, aman, transparan, dan berkelanjutan. Dia menjelaskan, diversifikasi menuntut ekosistem logistik nasional tidak bergantung pada satu sumber saja, yang dapat menyebabkan kelambatan logistik dan siklus rantai pasok.

Baca Juga : Daftar Penerima Bisnis Indonesia Logistics Award 2023 

Kemudian, prinsip aman mengacu pada kepastian keamanan dari berbagai ancaman baik dari dampak bencana alam dan ulah manusia, termasuk serangan dunia maya dan cyber-attack. 

Selanjutnya fokus transparan mengharuskan adanya keterbukaan antara Pemerintah Indonesia dan sektor swasta yang dapat terus bersinergi untuk meningkatkan kinerja, performa, dan mengantisipasi berbagai kekurangan di seluruh rangkaian proses logistik dan rantai pasok.

Adapun, prinsip berkelanjutan memastikan seluruh rangkaian logistik dan rantai pasok Indonesia bebas dari pekerja paksa dan pekerja anak, mendukung martabat dan suara pekerja, serta sejalan dengan visi logistik nasional Indonesia.

Akbar menegaskan sektor logistik harus berani dan segera menerapkan platform logistik yang terintegrasi, mulai dari single submission, single billing, single payment channel, single risk management, serta single monitoring.

Selain itu, dirinya juga akan mendorong pada pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, termasuk terus menyempurnakan platform logistik tunggal. ALFI juga akan mengupayakan system interface yang saling terhubung tanpa harus menghilangkan sistem lain yang sudah ada.

Bisnis Indonesia Shipping and Logistics Forum 2024

Sektor logistik berperan penting dalam perekonomian nasional dan menjadi nadi yang menghubungkan berbagai pulau dan meningkatkan interaksi ekonomi baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Dalam industri ini, diperlukan integrasi pengiriman dan logistik di Indonesia yang dapat menciptakan nilai yang signifikan dan berkelanjutan bagi pelaku bisnis untuk tujuan menumbuhkan ekonomi nasional.

Seiring pentingnya mengembangkan sektor ini menjadi lebih efisien dan berdaya saing, Bisnis Indonesia Group kembali akan mengadakan "Bisnis Indonesia Shipping & Logistics Forum 2024" dengan menghadirkan para pelaku usaha dan stakeholder terkait di bidang pengiriman dan logistik dengan tema “Menavigasi Masa Depan Logistik dan Maritim dengan Inovasi dan Keberlanjutan”.

Kegiatan ini diharapkan mampu membangun kesepahaman antar stakeholders untuk membangun masa depan maritim dan logistik yang kuat serta berkelanjutan.

Tujuannya membentuk komitmen berkelanjutan akan terus berperan aktif dalam menghubungkan Indonesia sebagai negara kepulauan dengan fokus pada distribusi logistik dan energi yang merata

Kemudian, industri logistik Indonesia mesti mampu meningkatkan inovasi dan peran industri maritim dan logistik Indonesia di kancah global. Terakhir, Indonesia perlu memastikan bahwa setiap warga Indonesia dapat merasakan manfaat dari konektivitas maritim yang kuat dan efisien di seluruh negeri.

Baca Juga : Memangkas Tantangan Sektor Logistik dengan Efisiensi & Inovasi 

Seiring dengan posisi sektor logistik yang sangat strategis, forum ini akan diarahkan membahas dua hal utama, pertama membangun depan maritim Indonesia melalui inovasi, kolaborasi, dan investasi. Kedua, melihat peluang serta tantangan industri logistik dan pengembangan ekonomi biru pada jangka pendek.

Agenda 'Bisnis Indonesia Shipping & Logistics Forum 2024' akan dilaksanakan pada Selasa, 30 April 2024 bertempat di Raffles Hotel, Jakarta. Agenda dimulai pukul 18.30 hingga selesai.

Bagi Anda yang ingin turut serta mendaftar, silakan mengisi tautan berikut ini https://bit.ly/PendaftaranBISLF24.

Sejumlah pembicara mumpuni di bidangnya pun bakal turut memeriahkan acara, dengan pembicara kunci, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Pembicara pada sesi pertama, yakni Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub Capt. Hendri Ginting; Direktur Armada Pertamina International Shipping Muhammad Irfan Zainul Fikri; dan Ketua Umum ALFI, Akbar Djohan.

Pembicara di sesi kedua yakni Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim & Energi Kemenkomarves RI Jodi Mahardi; Deputi Bidang Ekonomi, Badan Pembangunan Nasional Amalia A.Widyasanti; dan Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto.(Lorenzo Mahardhika, Annasa Rizki Kamalina, Rinaldi Azka)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.