Memuluskan Implementasi Energi Hijau

Di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia karena konflik geopolitik, upaya pemerintah meraih target net zero emission atau netral karbon pada 2060 makin matang.

Redaksi

21 Okt 2023 - 07.16
A-
A+
Memuluskan Implementasi Energi Hijau

Pengembangan energi terbarukan di Nusa Tenggara Barat./Antara

Di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia karena konflik geopolitik, upaya pemerintah meraih target net zero emission atau netral karbon pada 2060 makin matang.

Ketidakstabilan harga bahan bakar minyak mentah yang tidak tentu arah akibat rentan terhadap goncangan situasi global, membuat transisi energi bersih kembali menjadi primadona setelah sempat surut diterjang pandemi Covid-19.

Jalan menuju netral karbon 2060 semakin jembar dengan penerapan beberapa strategi a.l. pengembangan produk energi hijau secara masif, penghentian secara bertahap pembangkit listrik berbahan bakar fosil, dan konversi pembangkit listrik tenaga diesel menjadi gas.

Berdasarkan Peta Jalan Transisi Energi 2060, pemerintah bakal mengembangkan potensi energi baru terbarukan atau EBT dangan kapasitas mencapai 700 gigawatt.

Besarnya kapasitas energi yang sedemikian luar biasa ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis Indonesia yang strategis, dan menyimpan banyak sumber energi hijau mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, laut, hingga nuklir.

Guna menggenjot bauran energi ramah lingkungan, pemerintah pun berencana membangun super grid. Mekanisme ini akan menyatukan lima wilayah sentral kelistrikan di Indonesia. Kelima wilayah yang dapat disatukan adalah Jawa-Sumatra, Kalimantan-Jawa, Kalimantan-Sulawesi, Jawa-Bali, dan Nusa Tenggara.

Negara kepulauan seperti Indonesia sangat tepat menerapkan sistem ini karena listrik dapat disalurkan sesuai dengan besar atau kecilnya kebutuhan di setiap wilayah. Keberadaan super grid di Indonesia pun digadang-gadang bakal terhubung ke Asean Power Grid.

Negara-negara di Asean dikenal memiliki cadangan energi yang besar. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi EBT di kawasan Asia Tenggara mencapai 17.000 gigawat (GW).

Dari total potensi tersebut, sebagian besar berasal dari tenaga surya 15.602 GW, tenaga angin 1.225 GW. Sementara itu, total cadangan gas di kawasan ini mencapai 130 triliun kaki kubik (TCF) yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Proyek Interkonektivitas listrik antarnegara tersebut masuk dalam tujuh pilar utama sektor energi di ASEAN. Beberapa pilar lainnya adalah: Asean Power Grid, Trans-ASEAN Gas Pipeline, Coal and Clean Coal Technology, Energy Efficiency and Conservation, Renewable Energy, Regional Energy Policy and Planning dan Civilian Nuclear Energy.

Tujuh pilar tersebut selaras dengan ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) 2016—2025. Rencana pembangunan infrastruktur jaringan listrik di kawasan Asia Tenggara atau Asean Power Grid diutamakan bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Dalam jangka pendek, kebijakan ini digadang-gadang bakal mendorong pencapaian komponen EBT dengan target peningkatan kapasitas daya terpasang di kawasan Asean mencapai 35% pada 2025.

Harian ini menilai interkonektivitas listrik tersebut bakal memperkuat keamanan energi negara-negara di Asean, khususnya Indonesia. Namun, keberhasilan dari program transisi energi tidak dapat berjalan mulus tanpa adanya dukungan modal dan teknologi rendah karbon yang canggih.

Membuka akses pembiayaan berkelanjutan dengan mendatangkan investor menjadi pekerjaan rumah utama para pemangku kepentingan guna memuluskan program transisi energi tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.