Menakar Efek Larangan Ekspor Gandum India vs Ekspor CPO RI

Pelarangan ekspor gandum India tentunya menjadi kondisi yang cukup memberikan kekhawatiran tersendiri bagi global. Salah satu efeknya, harga komoditas tersebut semakin tinggi, dan pasokan semakin terbatas. Apalagi, harga komoditas yang sebelumnya telah tersengat larangan ekspor CPO terlebih dahulu.

Asteria Desi Kartikasari
May 17, 2022 - 9:55 AM
A-
A+
Menakar Efek Larangan Ekspor Gandum India vs Ekspor CPO RI

Gandum dan tepung terigu. /Istimewa

Bisnis, JAKARTA— Setelah pelarangan ekspor bahan minyak goreng mentah atau crude palm oil/CPO oleh pemerintah Indonesia, kini giliran pemerintah India yang baru saja mengumumkan kebijakan untuk melakukan pembatasan ekspor gandum. 

Posisi Negeri Bollywood  tersebut tercatat dalam daftar 10 besar eksportir gandum ke pasar global. India menempati posisi 10 di dunia pada 2021, di bawah Rumania. Berdasarkan data trademap.org, pada tahun lalu, volume ekspor gandum dan biji meslin ke pasar global mencapai 4,47 juta ton. Di sisi lainnya, India juga menjadi salah satu negara pemasok gandum bagi para importir di Indonesia. 

Sementara, pada 2021 lalu, India memasok sekitar 318.467 ton biji gandum dan meslin ke Indonesia. Dengan angka tersebut, India menempati peringkat keenam sebagai eksportir gandum terbesar ke Indonesia. 

Adapun porsi ekspor biji gandum dan meslin India ke Indonesia tidak sebesar negara-negara lain seperti Australia dan Ukraina yang masing-masing mencapai 11 juta ton dan 3 juta ton pada tahun lalu. Kendati secara volume porsi tidak terlalu besar, posisi India sebagai mitra dagang tetap diperhitungkan untuk memenuhi kebutuhan gandum di Indonesia.
 
 Sebab, bagi para importir gandum Indonesia terutama yang digunakan untuk industri tepung terigu, India menjadi salah satu pasar incaran untuk memperoleh komoditas itu di pasar global.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia Franciscus Welirang mengatakan pasca konflik Ukraina dan Rusia, India boleh dibilang memiliki peran penting untuk membantu Indonesia dari kesulitan untuk memperoleh gandum.

Belum lama ini, Francisus yang juga merupakan Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) mengatakan baik Indofood maupun produsen tepung terigu lainnya memiliki pilihan negara asal pemasok gandum yang cukup banyak, selain dari Ukraina. Salah satu negara yang dimaksud adalah India.

 Selain itu terdapat juga negara pemasok lain yang menjadi incaran yakni antara lain Argentina, Australia, Brasil, dan India.  “Mungkin jenisnya berbeda dan lebih murah tapi itu pilihan. India juga sudah ekspor meskipun kualitas berbeda, tetapi yang penting ada. Tetapi tetap harus waspada,” katanya kepada Bisnis, Jumat (25/2/2022) ketika menanggapi risiko dan dampak dari konflik Rusia dan Ukraina.

Menanggi risiko akan kebijaka larangan ekspor gandum India terhadap Indonesia, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim bahwa stok  tepung terigu selama 3 bulan  ke depan masih terbilang aman.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan pihaknya dapat mengerti kebijakan India yang melarang ekspor gandum. Pasalnya, kata dia, semua negara saat ini sedang memprioritaskan kebutuhan nasionalnya. “Kita sedang pelajari dulu [soal pelarangan ekspor gandum India]. Kita memang membeli tepung gandum 1/3 dari India. Tetap ini masalah internasional di mana negara-negara memprioritaskan nasionalnya seperti halnya kita [soal larangan ekspor CPO],” kata Lutfi saat ditemui awak media di Jakarta Timur, Selasa.

Dia berharap, kebijakan larangan ekspor gandum oleh Negeri Bolywood itu tidak akan berlangsung lama.“Mudah-mudahan tidak terlalu lama supaya perdagangan internasional berjalan baik juga. Kita mempunyai stok [terigu] untuk tiga bulan ke depan secara aman. Kita berprinsip bahwa habis 3 bulan ini baru ngomongin,” jelas Lutfi.

Seiring dengan kebijakan India, harga gandum berjangka pengiriman Juli naik 5 persen ke US$12,36 per gantang di Chicago Board of Trade, Senin (16/5/2022) pukul 16.04 waktu Jakarta. Harga bahan baku roti, kue, dan mi, itu sudah naik 60 persen selama tahun berjalan setelah suplai mengetat akibat perang Rusia-Ukraina, gangguan cuaca di Amerika, ditambah dengan restriksi ekspor India.


Dilansir Bloomberg, pembatasan ekspor gandum oleh Pemerintah India yang diumumkan pada 13 Mei mengundang kritik dari menteri pertanian negara G7. Sebenarnya, India bukanlah eksportir gandum utama di kancah global dengan menempati ranking ke-8 eksportir gandum dunia pada 2021–2022.

India memang  bukan eksportir gandum utama di kancah global. Tetapi, larangan tersebut tetap dapat berpengaruh pada pasokan gandum global mengingat Ukraina mengalami gangguan akibat perang dan eksportir lainnya mengalami banjir dan panas yang mengancam panen. Larangan ini diputuskan karena prioritas pada pasar domestik di tengah kekhawatiran gelombang panas. Perdana Menteri Narendra Modi juga menghadapi ujian karena melonjaknya inflasi.

Meski dibatasi, India akan memberikan izin ekspor dengan tujuan negara-negara yang membutuhkan gandum untuk kebutuhan ketahanan pangan dan berdasarkan permintaan pemerintahnya. India biasanya memasok ke Bangladesh, Sri Lanka, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.

 “Mengarahkan ekspor gandum melalui saluran pemerintah tidak hanya akan memastikan pemenuhan kebutuhan tetangga kita dan negara-negara defisit pangan, tetapi juga mengendalikan ekspektasi inflasi,” ujar Kementerian Pangan India dalam keterangan resminya. 

Menurut Citigroup Inc., pengadaan gandum pemerintah telah berkurang separuh dan mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan program pangan bersubsidi. Petani bisa saja lebih bersedia menjual ke pemain swasta yang menawarkan harga lebih baik.

Berdasarkan estimasi produksi India sebanyak 105 juta ton, ekspor 10 juta atau lebih seperti yang ditargetkan oleh pemerintah akan sulit dicapai, menurut bank tersebut.

Langkah India menambah gelombang proteksionisme pangan yang berkembang sejak perang dimulai. Pemerintah di seluruh dunia berusaha memastikan pasokan pangan lokal di tengah lonjakan harga komoditas pertanian. Indonesia telah menghentikan ekspor minyak sawit, sedangkan Serbia dan Kazakhstan memberlakukan kuota ekspor biji-bijian.

Para trader frustrasi dengan kebijakan tersebut. Sehari sebelum penghentian ekspor India diumumkan, pemerintah mengatakan akan mengirim delegasi perdagangan ke negara-negara lain untuk menjajaki kemungkinan peningkatan ekspor gandum.

“Banyak eksportir dan pengguna sebenarnya di seluruh dunia memiliki komitmen untuk membeli gandum India yang seharusnya dihormati,” kata Vijay Iyengar, Ketua dan Direktur Pelaksana Agrocorp International yang berbasis di Singapura. Agrocorp memperdagangkan sekitar 12 juta ton biji-bijian setiap tahun.

EFEK MINIM

Direktur Core Muhammad Faisal mengatakan dampak pelarangan ekspor gandum India tidak akan sebesar dampak pelarangan minyak sawit mentah (CPO) Indonesia terhadap dunia. Dia menyebut kontribusi impor gandum India terhadap total gandum impor Indonesia hanya 2,8 persen.“Untungnya India yang hanya 2,8 persen, coba kalau Australia 42 persen,” katanya.

Jika harga gandum secara global naik, produk seperti mi instan dan roti bakal merasakan dampaknya dalam jangka pendek. Dia mengatakan usai pelarangan ekspor yang diberlakukan pada 13 Mei 2022, harga gandum melonjak melewati batas nilai tukar. Acuan harga berjangka naik 5,9 persen menjadi US$12,47 per gantang di Chicago, mencapai level tertinggi dalam 2 bulan.“Harga naik sudah sekitar 60 persen pada tahun ini, mengerek harga roti, kue, dan mi.”

Sementara itu, Indonesia dan India akan mempererat hubungan dagangnya dengan target perdagangan kedua negara mencapai US$50 miliar pada 2025. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengungkapkan India telah lama menjadi mitra dagang penting bagi Indonesia sehingga tetap menjaga hubungan dagang kedua negara.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), impor biji gandum tanpa cangkang kode Harmonized System (HS) 10019912 dari India seberat 184,6 juta ton pada 2021, dengan nilai sebesar US$60 juta. Adapun pada 2022 ini, BPS mencatat impor gandum dari India mencapai 98,18 juta ton hingga Maret, dengan nilai sebesar US$3,9 juta.

Mengacu pada data 2021, Indonesia mengimpor gandum dari paling banyak mengimpor gandum dan meslin dari Australia. Nilainya pun mencapai US$4,63 miliar.

(Reporter: Nindya Aldila, Indra Gunawan)

 

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Menakar Efek Larangan Ekspor Gandum India vs Ekspor CPO RI

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ