Menakar Keberimbangan Alokasi Gula Rafinasi 2022 untuk Industri

Kebutuhan gula kristal rafinasi atau GKR per bulan berkisar 250.000— 300.000 ton, dan diperkirakan meningkat sekitar 10 persen jelang hari raya.

Reni Lestari
Jan 20, 2022 - 12:30 PM
A-
A+
Menakar Keberimbangan Alokasi Gula Rafinasi 2022 untuk Industri

Alat khusus pengangkat mengatur tumpukan karung berisi gula rafinasi di salah satu pabrik di Makassar, Sulsel, beberapa waktu lalu./Bisnis-Paulus Tandi Bone

Bisnis, JAKARTA — Pemerintah memperhitungkan kebutuhan industri terhadap gula kristal rafinasi atau GKR pada tahun ini mencapai 3,4 juta ton atau naik 5 persen dibandingkan dengan tahun lalu. 

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan proyeksi tersebut didasari oleh taksiran kebutuhan industri makanan dan minuman (mamin) sepanjang tahun ini.

"Kami mendapat laporan kebutuhan gula industri naik 5 persen untuk 2022. Berdasarkan proyeksi tersebut kebutuhan industri jumlahnya 3,4 juta ton tahun 2022," kata Putu, Kamis (20/1/2022).

Pada 2022, kuota importasi gula mentah sebagai bahan baku GKR ditetapkan untuk satu tahun dari sebelumnya per semester.

Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan mencatat kebutuhan GKR per bulan berkisar 250.000 300.000 ton, dan diperkirakan meningkat sekitar 10 persen jelang hari raya.

Bernardi mengatakan izin impor untuk kebutuhan tahun ini baru terbit pada bulan ini sehingga saat ini masih dalam proses importasi.

"Masih dalam proses importasi, meski sebagian seudah sampai di Indonesia, mungkin sekitar 250.000 ton," katanya.

Dia menambahkan kebutuhan gula industri sebenarnya tidak pernah terkendala sebab setiap tahun sudah bisa diprediksi volumenya. 

Menurut Bernardi, jumlah perusahaan industri gula rafinasi belum bergerak dari angka 11 lantaran kapasitas kapasitas terpasang dari 11 perusahaan rafinasi tersebut masih berada di atas kebutuhan GKR nasional.

Dengan kapasitas produksi 5,5 juta ton per tahun, tingkat utilitas berkisar 60 persen untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3 juta ton per tahun.

"Ke depan industri gula baru lebih mengarah ke bahan baku tebu, sedangkan rafinasi bahan bakunya gula mentah. Nanti kalau memang utilitasnya sudah terpenuhi, mungkin akan ditambah," ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman menjelaskan angka alokasi GKR untuk tahun ini sudah diajukan pada September—Oktober 2021. 

Akan tetapi, melihat perkembangan penjualan ritel yang meningkat di akhir 2021 dan perkiraan lonjakan kebutuhan pada Lebaran 2022, kuota tersebut diperkirakan akan terlampaui.

"Ternyata permintaan ritel cukup meningkat dan kami optimistis kebutuhan Lebaran cukup banyak. Setelah diskusi dengan teman-teman Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia, kelihatannya akan kurang," kata Adhi saat dihubungi Bisnis. 

Dia memperkirakan kekurangan tersebut akan berkisar 200.00—300.000 ton. Di sisi lain, tidak ada stok tersisa dari alokasi kebutuhan tahun lalu yang sekitar 3,2 juta ton karena permintaan yang tinggi pada akhir tahun lalu.

Adhi mengatakan industriawan mamin telah menyampaikan hal ini ke Kementerian Perindustrian dan berharap pemerintah memfasilitasi pengadaan GKR tambahan jika terjadi kekurangan.

"Mungkin pemerintah akan memfasilitasi kalau itu kurang, karena industri butuh bahan baku," lanjut Adhi.

Buruh mengangkat gula rafinasi ke lambung kapal di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan. -Foto ANTARA 

SERAPAN IKM

Pada kesempatan yang sama, Adhi juga menjabarkan soal serapan gula kristal rafinasi ke industri kecil menengah (IKM) yang banyak mengalami kendala. 

Kebutuhan IKM yang umumnya diwadahi koperasi usaha seringkali mengalami kendala proses perizinan pengadaan penambahan kuota.

Untuk itu, Adhi mengusulkan pembentukan sentra-sentra distribusi bagi IKM mamin di setiap daerah. Namun demikian, hal ini harus dibicarakan oleh lintas kementerian dan lembaga.

"IKM butuh gula rafinasi karena Permeperin mewajibkan pakai gula rafinasi, tetapi mereka kesulitan untuk mendapatkan. Kami usul membuat sentra-sentra yang didukung 11 pabrik AGRI," tutuurnya.

Menurut Adhi, pemasoknya tetap diserahkan kepada Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), dengan pengelola mandiri yang akan dibentuk kemudian untuk mendistribusikan gula rafinasi dalam jumlah relatif kecil sesuai kebutuhan IKM.

Mekanisme ini menurutnya dapat memudahkan pemerintah untuk mengontrol serapan gula rafinasi ke industri kecil menengah.

Untuk diketahui, sejauh ini, AGRI memasok gula rafinasi ke 10 koperasi usaha yang telah mendapatkan izin.  


INVESTASI PABRIK

Pada perkembangan lain terkait dengan industri gula nasional, Kementerian Perindustrian menyebut investasi untuk pembangunan pabrik gula konsumsi yang terintegrasi terus bermunculan. 

Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan baru-baru ini telah terealisasi investasi senilai hampir Rp4 triliun di Sumba Timur. Ke depan akan ada tambahan investasi sebesar Rp5,4 triliun.

"Demikian juga ada beberapa perusahaan industri yang berminat untuk melakukan investasi baik hasilnya sebagai gula maupun energi, etanol, dan biogas," kata Putu di Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Penambahan investasi diharapkan dapat menambah produktivitas industri gula nasional yang stagnan di angka 2,2 juta ton per tahun. Putu mengatakan volume produksi tersebut cenderung tidak berubah dalam lima tahun terakhir. 

Sementara itu, kebutuhan gula nasional tercatat sebesar 6 juta ton, sehingga terdapat defisit sebesar 3,8 juta ton yang harus dipenuhi melalui importasi.

Menurut catatan Kementerian Perindustrian, angka kebutuhan 6 juta ton per tahun itu terdiri atas 2,7 hingga 2,9 juta ton gula konsumsi, dan 3 hingga 3,2 juta ton gula industri.

Tahun lalu, Asosiasi Gula Indonesia (AGI) memproyeksikan produksi gula konsumsi dapat mencapai 2,4 juta ton. Pada 2020 angka produksinya mengalami penurunan menjadi 2,1 juta ton dari 2019 2,2 juta ton.

Kebutuhan gula nasional diperkirakan tumbuh sekitar 5-7 persen per tahun. Pada 2030 angka kebutuhan tersebut dapat mencapai 9,81 juta ton. Artinya, jika kapasitas produksi nasional tak bertambah, akan ada potensi defisit sebesar 7,13 juta ton.

"Kemenperin telah menerbitkan Permenperin No.10/ 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku dalam Rangka Pembangunan Industri Gula. Kami mengharapkan agar pelaku usaha industri gula dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan harapan target pemenuhan gula nasional dapat dipenuhi dari dalam negeri," jelasnya.

Sementara itu, belum lama ini, produsen gula terbesar di kawasan Timur Tengah Al Khaleej Sugar Co. (AKS) berencana berinvestasi sebesar US$2 miliar atau sekitar Rp28,68 triliun dalam pengembangan fabrikasi etanol dari gula.

Selain sebagai bahan bakar, etanol gula dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap gula rafinasi. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut impor gula rafinasi berpeluang ditekan hingga 750.000 ton per tahun.

Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar