Menakar Laju Saham Emiten Unggas di Tengah Gejolak Harga Jagung

Harga bahan pakan ternak, seperti jagung, terus menguat sejak April lalu. Kenaikan bahan baku tersebut pun lebih cepat dibandingkan dengan harga jual pakan ternak. Dengan kondisi itu, sejumlah analis pun memberikan rekomendasi terkait saham emiten unggas.

Ana Noviani & Lorenzo Anugrah Mahardhika
Sep 20, 2021 - 1:19 AM
A-
A+
Menakar Laju Saham Emiten Unggas di Tengah Gejolak Harga Jagung

Peternakan unggas - disnak.jabarprov.go.id

Bisnis, JAKARTA - Harga jagung yang menjadi bahan baku pakan ternak tengah mengalami kenaikan. Hal itu pun bakal mempengaruhi kinerja dan laju saham emiten unggas. 

Meskipun saat ini, mayoritas saham emiten pakan ternak dan unggaas masih bergerak di zona hijau. Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari Harian Bisnis Indonesia, saham JPFA memimpin penguatan dengan melonjak 32,08% year-to-date (YtD) ke level Rp1.935 pada akhir perdagangan Jumat (17/9).

Posisi JPFA disusul oleh saham SIPD yang menguat 23,33% dan MAIN yang naik 10,14% sepanjang tahun berjalan 2021. Adapun saham CPIN naik tipis 3,45% YtD sedangkan saham WMUU terkoreksi 2,78% sejak listing.

Analis Aldiracita Sekuritas Timothy Gracianov menjelaskan harga jagung telah berada di atas level Rp5.000 per kilogram sejak April lalu. Tren kenaikan harga pun terus berlanjut sampai sekarang.

Kenaikan harga jagung, menurutnya, berdampak pada menurunnya margin JPFA dan CPIN di segmen pakan ternak. Hal tersebut karena harga bahan pakan ternak, seperti jagung mengalami kenaikan yang lebih cepat dibandingkan dengan harga jual pakan ternak.

Sedangkan Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menilai emiten pakan ternak telah mengantisipasi kenaikan harga bahan baku. “Untuk sementara waktu kinerjanya masih bisa stabil dan cenderung bertumbuh mengingat harga jual pakan ternaknya juga naik,” jelas Frankie kepada Bisnis, Minggu (19/9).

 

 

Menurutnya, dampak kenaikan harga bahan baku pakan ternak baru akan terlihat pada margin laba bersih pada kuartal selanjutnya. Di sisi lain, emiten unggas juga harus menghadapi penurunan harga telur.

Penurunan harga telur disebabkan oleh oversupply di pasaran seiring dengan permintaan telur yang cenderung stabil, namun produksinya melebihi permintaan. Meski begitu, dampak terhadap emiten unggas dan pakan ternak dinilai tidak terlalu signifikan.

Itu lantaran emiten-emiten unggas memiliki diversifikasi lini bisnis usaha yang terintegrasi. “Hal ini dapat menopang kinerja emiten walaupun memang akan sedikit tertekan dengan kenaikan bahan baku pakan ternak,” jelasnya.

Dengan sentimen tersebut, Frankie menilai harga saham JPFA dan CPIN berpotensi tertekan karena sentimen harga ayam pedaging yang turun dan harga pakan ternak naik. Namun, kedua emiten ini memiliki produk yang tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas untuk kebutuhan konsumsi, sehingga tetap memiliki ruang untuk bertumbuh.

“Untuk JPFA direkomendasikan untuk di koleksi di level support di Rp1.700 dengan target harga Rp2.000. Untuk CPIN bisa dipertimbangan untuk entry jika menyentuh level Rp6.000— Rp6.200 dengan target Rp6.700,” pungkasnya.

Adapun Timothy menyematkan rekomendasi beli untuk saham JPFA pada level harga Rp2.600. Dia  juga memberi peringkat outperform untuk CPIN pada level harga Rp7.000.

 

 

Dalam risetnya, analis Ciptadana Sekuritas Fahressi Fahalmesta memberikan rating beli untuk JPFA dan MAIN. Saham JPFA diestimasi dapat menyentuh target harga Rp2.500, sedangkan MAIN ditargetkan menuju Rp990 per saham.

Menurutnya, sentiman biaya pakan ternak di atas level yang ditetapkan pemerintah bukanlah hal baru yang dihadapi oleh emiten unggas. Oleh karena itu, tidak akan mengejutkan apabila tidak ada dampak negatif sentimen ini dari sisi biaya.

"Selain itu, harga jagung di Indonesia diprediksi akan turun memasuki Oktober seiring dengan curah hujan yang mulai menurun,” jelas Fahressi dalam risetnya, dikutip Minggu (19/9).

Fahressi menyematkan rating netral untuk sektor unggas seiring dengan potensi kenaikan biaya material dan penurunan daya beli masyarakat. Lebih lanjut, peluang memburuknya kondisi pandemi virus corona di Indonesia yang berimbas pada kelanjutan PPKM masih dapat mengancam sektor ini.

Di sisi katalis positif, rerata harga ayam pada tahun ini diprediksi akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Program afkir yang agresif dari pemerintah juga turut menstabilkan permintaan dan pasokan.

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar