Menangkal Ancaman Serangan Siber Intai Pelaku UMKM

Di Indonesia, serangan siber yang ditujukan kepada UMKM juga mengalami kenaikan selama paruh pertama tahun 2023. Para penjahat siber ini menggunakan perangkat lunak yang paling sering digunakan oleh UMKM untuk menyebarkan malware dan perangkat lunak berbahaya.

Redaksi

11 Okt 2023 - 16.04
A-
A+
Menangkal Ancaman Serangan Siber Intai Pelaku UMKM

Ilustrasi serangan siber

Bisnis, JAKARTA – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia rentan dan kerap menjadi sasaran serangan siber. 

Perusahaan keamanan siber global Kaspersky melaporkan terdapat total 44.022 serangan malware yang menargetkan karyawan UMKM di Asia Tenggara (SEA) meningkat sebesar 364 persen selama semester I tahun 2023. Adapun periode yang sama tahun lalu hanya 9.482 serangan. 

General Manager Asia Tenggara Kaspersky Yeo Siang Tiong menyatakan UMKM adalah tulang punggung perekonomian Asia Tenggara. Serangan terus terjadi ke mereka. 
“Bisnis-bisnis tersebut menyumbang hampir setengah dari PDB (Produk domestik kawasan ini, ada sekitar 85 persen lapangan kerja, dan hampir 99 persen bisnis di Asia Tenggara,” ujarnya dalam laporan dikutip Rabu (11/10/2023). 

Di Indonesia, serangan siber yang ditujukan kepada UMKM juga mengalami kenaikan selama paruh pertama tahun 2023. Para penjahat siber ini menggunakan perangkat lunak yang paling sering digunakan oleh UMKM, seperti MS Office, MS Teams, Skype, dan lainnya, untuk menyebarkan malware dan perangkat lunak berbahaya. 

Adapun dari rentang waktu Januari hingga Juni tahun ini terdapat 730 karyawan UMKM di Indonesia dilaporkan menghadapi masalah dengan malware atau perangkat lunak berbahaya yang menyamar sebagai aplikasi bisnis 

Dengan potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat besar di Indonesia, sektor UMKM kini harus membangun pertahanan siber lebih dari sebelumnya. 

Menurutnya, penting bagi pelaku UMKM untuk menetapkan kebijakan operasional dan pemantauan karyawan serta memahami apa yang dapat dilakukan baik secara mandiri maupun kolaboratif.

“Penting bagi pemilik bisnis, sebagai langkah awal, untuk memetakan tantangan atau gangguan yang mereka hadapi terkait keamanan siber,” kata Yeo. 
Adapun serangan yang terjadi yakni kebocoran data dimana saat ini pekerjaan dapat dilakukan dimana saja dan perangkat kantor seringkali kali digunakan untuk keperluan pribadi seperti nonton film, main game, atau bahkan belanja online. Hal ini membuka peluang bagi peretas untuk masuk dan mencuri data perusahaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penggunaan perangkat ketat dan pelatihan keamanan siber untuk karyawan. 

Serangan lainnya yakni serangan DDoS yang bisa membuat website perusahaan lumpuh total. Hal ini tidak hanya merugikan secara finansial tetapi juga bisa merusak reputasi perusahaan di mata pelanggan. Oleh karena itu, penting untuk memiliki infrastruktur yang kuat dan solusi keamanan yang mampu menangkal serangan DDoS.

Selanjutnya, serangan rantai pasok yang lebih dari sekadar vendor dimana peretas tidak hanya menargetkan perusahaan tetapi juga vendor atau pemasok. Dari lembaga keuangan hingga mitra logistic semua bisa jadi target. Oleh karena itu, penting untuk melakukan audit keamanan terhadap semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok perusahaan.

Baca Juga: Serangan Siber Mengganas, Talenta Digital Kian Vital 



Kemudian, malware yang lebih dari sekadar software bajakan. Hal ini karena menggunakan perangkat lunak bajakan yang lebih bisa menghemat biaya namun risikonya sangat besar. Malware bisa dengan mudah masuk dan merusak sistem perusahaan. Serangan malware bisa merusak perangkat dan jaringan UMKM, mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan. Selain itu, malware memberi peluang bagi penyerang untuk mencuri data yang berharga, mengancam pelanggan dan karyawan UMKM. Solusinya adalah selalu menggunakan perangkat lunak yang berlisensi dan terpercaya.

Peretas kini semakin cerdik dimana bisa membuat website palsu atau bahkan menyamar sebagai platform resmi untuk memperdaya karyawan atau pelanggan. Oleh karena itu, perlu edukasi dan pelatihan sebagai kunci untuk menghindari jenis serangan ini.

CEO Fourtrezz Seto Wijaya berpendapat peretas tidak akan pernah berhenti mencari celah untuk menyerang. Mereka akan menggunakan segala cara, mulai dari perangkat lunak ilegal, email phising, hingga serangan DDoS yang bisa merusak reputasi dan keuangan perusahaan. 

“Penting untuk tidak hanya waspada tetapi juga proaktif dalam mengambil langkah-langkah pencegahan,” ucapnya. 

Menurutnya, keamanan siber yang terjamin dapat membuka pintu bagi perkembangan startup dan UMKM. Dengan kepercayaan yang tinggi dari para konsumen terhadap keamanan transaksi dan data, para pelaku usaha kecil dapat menjangkau pangsa pasar yang lebih luas dan meningkatkan potensi pertumbuhan bisnis mereka.

Keamanan siber merupakan sebuah perjalanan yang membutuhkan kesiapan dan tindakan nyata. Hal ini bukan hanya tugas dari tim IT, tetapi merupakan tanggung jawab bersama antara perusahaan, karyawan, dan juga vendor atau pemasok. 

“Keamanan siber bukan hanya tentang menghindari risiko tetapi juga tentang mempersiapkan diri dan bisnis untuk menghadapinya. Kami percaya bahwa mencegah lebih baik dari penanggulangan,” tutur Seto. (Leo Dwi Jatmiko / Yanita Petriella)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.