Menangkap Peluang Kecerdasan Buatan dalam Berbisnis

Sejumlah tantangan dan potensi menaungi pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terutama dalam berbisnis. Perlu ada regulasi hingga inovasi mengembangkan industri ini.

Rinaldi Azka

25 Nov 2023 - 20.55
A-
A+
Menangkap Peluang Kecerdasan Buatan dalam Berbisnis

Ilustrasi kecerdasan buatan./Istimewa

Bisnis, JAKARTA – Tren pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia bisnis semakin menunjukkan manfaat yang signifikan. Hal ini membawa dampak positif dalam berbagai sektor kehidupan, terutama dalam segi bisnis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nezar Patria menjelaskan dalam lanskap bisnis yang berkembang pesat, integrasi AI telah menghasilkan efisiensi dan peluang dalam bisnis.

Nezar juga mengingatkan dalam pemanfaatan AI, penting mempertimbangkan dengan cermat tantangan secara kompleks. Untuk itu, diperlukan tata kelola AI yang tepat.

“Saat ini Kementerian Kominfo tengah menyusun Surat Edaran Menteri Kominfo tentang Pedoman Etika Kecerdasan Artifisial yang akan menjadi panduan etika untuk organisasi dan perusahaan yang menggunakan AI,” jelasnya, dikutip Sabtu (25/11/2023). 

Menurutnya, perlu masukan dari para pemangku kepentingan agar Indonesia memiliki formula pedoman AI yang menjawab kebutuhan masyarakat, bangsa, dan negara.

Sebuah kegiatan konferensi AI pun dilaksanakan bertajuk, Next Level AI Conference: Unlocking Business Opportunities and Efficiency with Artificial Intelligence. Acara ini digelar di PO Hotel Semarang (23/11/2023) dan merupakan hasil kerja sama Nexa dengan InfoKomputer dan Kitatama. 

Presiden Direktur Internet Mulia Untuk Negeri (Nexa) Priyo Suyono menerangkan pembahasan AI perlu dipusatkan pada potensi pemanfaatan teknologi AI di lingkungan bisnis, mulai dari meningkatkan efisiensi, menciptakan peluang bisnis baru, sampai meningkatkan ketahanan cyber security organisasi. 

“Saya juga berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah networking dan menjembatani para pelaku ekosistem ekonomi digital di Indonesia,” katanya.

Peluang dan Tantangan AI dalam Bisnis

Co-Founder KORIKA dan Profesor ITB Bambang Riyanto Trilaksono menjelaskan tren teknologi AI yang akan terus berkembang dengan cepat. 

“Saat ini, kita berada di dalam era Artificial Narrow Intelligence (ANI), atau AI yang mengerjakan tugas-tugas yang spesifik,”ungkap Bambang. 

Meski baru di level ANI, sudah banyak proses bisnis yang dapat dikerjakan oleh AI, seperti yang ditunjukkan tools seperti ChatGPT. Ke depan, perkembangan AI akan bergerak ke Artificial General Intelligence (AGI) yang lebih cerdas dan dapat mengerjakan pekerjaan yang lebih kompleks. 

Guru Besar Universitas Dian Nuswantoro Pulung Nurtantio Andono mencontohkan beberapa implementasi AI yang langsung dirasakan masyarakat. Contohnya, penggunaan teknologi AI untuk membantu petani dan nelayan dalam meningkatkan produktivitasnya. 

“Ke depan, akan semakin banyak persoalan sehari-hari yang bisa diselesaikan oleh AI,” ungkapnya. 

Baca Juga : Jalan Panjang Penyelesaian PSN Menuju Indonesia Emas 2045 

Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan bercerita Kemenkes membuat virtual assistant bagi ibu balita. 

Virtual assistant ini akan tampil dalam bentuk video di akun Whatsapp sang ibu, dan akan membacakan hasil pemeriksaan bayi yang diperiksa di fasilitas kesehatan. “Jadi ibu bisa lebih paham proses tumbuh kembang anak,” tambah Setiaji. 

Sedangkan CEO Botika, Ditto Anindita, menggambarkan implementasi AI di area penyiar berita virtual, di mana penyiar ini bisa membacakan berita dengan mimik wajah yang mirip dengan penyiar betulan. 

“Teknologi Generative AI muncul sebagai kekuatan dalam aplikasi bisnis, mengantarkan inovasi, efisiensi, dan pengalaman pelanggan yang unggul di seluruh dunia dari berbagai sektor,” ungkap Ditto.

Implementasi AI pun semakin mudah berkat kehadiran platform siap pakai yang disediakan penyedia solusi seperti Microsoft dan Google, seperti diungkap Director, Channels and Strategic Partnership, South East Asia, Google Cloud Megawaty Khie. 

Google saat ini aktif menggunakan teknologi AI di layanannya seperti Gmail, Drive, sampai Youtube. Teknologi AI ini kemudian ditawarkan Google bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan AI di dalam proses bisnisnya.

Baca Juga : Cetak Biru Pembangunan Nusantara Jadi Ibu Kota Ramah Lingkungan 

Adapun, Director National Technology Officer Microsoft Indonesia Panji Wasmana menerangkan Microsoft menyediakan Copilot, sebuah set of tools yang diintegrasikan ke software Microsoft seperti Office 365.

Copilot ini berfungsi meningkatkan produktivitas sekaligus menyederhanakan pekerjaan karyawan. “Perlu dipahami jika AI hanya co-pilot dan kita adalah pilot yang menginstruksikan apa yang harus dilakukan AI,” jelas Panji.

Meski menawarkan banyak keuntungan, Megawaty Khie dan Panji Wasmana sepakat pentingnya etika dalam implementasi AI. Selain itu, peran people alias talenta tetap krusial dalam mengembangkan teknologi ini. Karena itulah baik Google dan Microsoft menyediakan berbagai pelatihan gratis bagi talenta Indonesia yang ingin mengembangkan skills di bidang AI. 

Cyber Security Expert Hana Abriyansyah menjelaskan AI dapat berpotensi menimbulkan risiko terhadap industri di mana AI tersebut diimplementasikan, termasuk dalam industri cyber security.

Meski begitu, Hana melanjutkan, keuntungan dari implementasi AI pada area cyber security masih lebih besar dibandingkan dengan kontroversi yang ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.