Free

Menanti Dampak Nyata Ekspansi Bank ke UMKM

Sejumlah perbankan terus melakukan ekspansi bisnisnya menyasar penyaluran kredit kepada UMKM. Dengan memanfaatkan pendanaan perbankan dan teknologi digital, UMKM diyakini dapat bertumbuh lebih cepat.

Rinaldi Azka

15 Jun 2023 - 08.09
A-
A+
Menanti Dampak Nyata Ekspansi Bank ke UMKM

Penyaluran kredit perbankan dan teknologi digital jadi kunci akselerasi pertumbuhan UMKM./Bisnis/

Bisnis, JAKARTA - Sejumlah perbankan terus melakukan ekspansi guna meningkatkan penyaluran kreditnya kepada UMKM. Aksi akuisisi bank guna menyasar sektor tertinggi penyumbang PDB ini pun terus berlanjut.

Baru-baru ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) setapak demi setapak menggenapkan misinya untuk mengembangkan ekosistem perbankan digital. Pada pengujung Mei silam, BNI resmi melakukan rebranding PT Bank Mayora menjadi Hibank.

Bank Mayora merupakan entitas bank yang semula berada di bawah bendera Mayora Group, lewat PT Mayora Inti Utama. Mayora Group merupakan korporasi papan atas di Tanah Air yang bergerak di industri makanan dan minuman.

Tepat pada 18 Mei 2022, BBNI mengambil alih kepemilikan saham International Finance Corporation (IFC) sebesar 20% dan melakukan pembelian saham baru yang diterbitkan oleh Bank Mayora.

Sejak saat itu, BBNI menjadi pemegang saham mayoritas di Bank Mayora dengan porsi 63,92% dan Mayora Inti Utama menggenggam 32,08%.

Lewat pengumuman akuisisi itu, manajemen BBNI dengan terbuka menyatakan Bank Mayora disiapkan sebagai bank digital dengan sasaran pasar ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).


BBNI yang selama ini memiliki portofolio mapan di sektor korporasi, tentu berkepentingan dengan pengembangan UMKM. Apalagi, dalam kurun 2 tahun ke depan, kontribusi kredit perbankan ke sektor UMKM ditargetkan menyentuh hingga 30%.

BBNI memperkuat posisinya sebagai bank pelat merah yang memiliki anak usaha bank, selain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) lewat PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI melalui PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS).

Hal yang membedakan model bisnis BBNI dengan dua bank BUMN itu, tentu dari sisi kepemilikan. BNI berkongsi dengan kelompok usaha Mayora Group yang memiliki jejaring bisnis yang kuat.

Dalam bisnis makanan dan minuman, Mayora mempunyai jangkauan usaha yang mapan di dalam negeri hingga ke luar negeri seperti di Belanda dan Filipina.

Baca Juga : AJB Bumiputera Cetak Laba Bersih, Cukup Untuk 'Penyehatan'?

Dengan jaringan bisnis yang luas termasuk keberadaan mitra usahanya, akan menjadi peluang bagi BBNI melakukan perluasan layanan, terutama ke segmen UMKM.

Berjejaring dengan perusahaan ritel, menjadi satu strategi yang dijalankan oleh beberapa bank di Tanah Air.

Tengok saja yang dilakukan oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk. dengan memanfaatkan ekosistem dan jaringan Transmart. Sedangkan, PT Bank Ina Perdana Tbk. juga memanfaatkan jaringan Indogrosir (Salim Group). Adapula, PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK) yang memanfaatkan jejaring PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) atau Alfamart.

Jika mengutip laporan keuangan Hibank pada 2022, bank itu menyalurkan pembiayaan senilai Rp3,16 triliun. Dari nilai yang disalurkan, porsi terbesar kredit digulirkan untuk sektor jasa-jasa dunia usaha; perdagangan, restoran, dan hotel; dan industri pengolahan.

Dengan kata lain, kredit yang disalurkan oleh Hibank itu in-line dengan bisnis utama Mayora Group yang bergerak di industri perdagangan, makanan, dan minuman.


Dalam riset NH Korindo Sekuritas Indonesia yang dirilis pada 31 Mei 2023, rebranding Bank Mayora menjadi Hibank membawa era baru bagi BBNI di bisnis bank digital dan menyasar sektor UMKM.

“Hal ini akan berdampak positif bagi BBNI untuk membuka dan memperkuat eksposur ke sektor digital-UMKM,” tulis riset NH Korindo Sekuritas.

Baca Juga : Membaca Arah Gerak Saham Bank Digital

BBNI juga tengah memperkuat kontribusi digitalnya. Hal itu tecermin dari pengguna yang terdaftar di BNI Mobile Banking tumbuh 24,3% year-on-year (YoY) dari 11,47 pengguna pada kuartal I/2022 menjadi 14,26 juta pengguna.

“Volume dan frekuensi transaksi di BNI Mobile masing-masing tumbuh 52,7% dan 52% YoY.”

NH Korindo Sekuritas memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham BBNI dengan target harga Rp12.000. Proyeksi itu di atas konsensus harga di kisaran Rp11.404.

Baca Juga : Celah 26 Pinjol Demi Penuhi Syarat Lampaui Batas Minimal Modal

Pemanfaatan Teknologi UMKM

Selain dukungan perbankan, dalam pengembangan UMKM pemanfaatan teknologi bukan lagi menjadi hal sulit. Bahkan, era digital memampukan individu memulai bisnis dengan modal yang minim. Bermodalkan gawai pintar dan koneksi internet, pelaku usaha dapat memaksimalkan media sosial dalam memulai bisnisnya.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo (Kemenkominfo) Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan pandemi telah memacu interaksi dan berbagai aktivitas di ruang digital. Kehadiran teknologi digital sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat inilah yang kian mempertegas bahwa kita sedang berada di era percepatan transformasi digital.

“Kemenkominfo bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi serta mitra dan jejaringnya hadir untuk memberikan pelatihan literasi digital yang menjadi kemampuan digital tingkat dasar bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hingga Tahun 2021 lalu, program literasi digital ini telah berhasil menjangkau lebih dari 12 juta masyarakat di 515 kabupaten/kota pada 34 provinsi di seluruh Indonesia,” jelas Semuel.

Semuel juga menekankan bahwa peningkatan literasi digital masyarakat merupakan pekerjaan besar. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi yang baik agar tidak ada masyarakat yang tertinggal.

Jika digunakan secara bijak, media sosial dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha. Media sosial kini dikenal sebagai sarana untuk memperkenalkan layanan bisnis secara praktis, sekaligus memudahkan pelanggan untuk menjangkau para pelaku bisnis.

Baca Juga : Menggawangi Belanja Pemilu Tahun 2024 

Entrepreneur dan Digital Creator Yasa Singgih menjelaskan tentang bagaimana media sosial dari waktu ke waktu dapat membantu para pelaku bisnis. Yang dibutuhkan adalah adaptasi dan pemahaman tentang perubahan-perubahan yang terjadi di media sosial dan cara mendekatkan diri kepada konsumen.

“Ada tiga hal dalam sosial media yang paling penting yaitu tren, algoritma, dan konten,” jelas Yasa. Dia menjelaskan soal pentingnya melihat dan mengikuti tren terkini di media sosial, supaya secara algoritma akan dinilai sebagai konten yang disukai oleh banyak orang.

“Pelajari algoritma di media sosial, karena itu sangat penting. Karena setiap media sosial baik Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, TikTok, semua punya algoritma yang berbeda begitu pun dengan trennya. Serta, pilihlah konsep konten yang berkelanjutan,” jelas Yasa. (Stefanus Arief Setiaji)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.