Menanti Jurus Pemerintah Tangkal Tekanan di Pasar SUN Indonesia

Kenaikan suku bunga global telah menurunkan daya tarik pasar surat utang negara (SUN) Indonesia, sehingga sejumlah lelang terakhir pun sepi peminat. Pemerintah pun dituntut melakukan langkah cerdik untuk mengamankan kebutuhan pembiayaan anggarannya yang terancam menghadapi kenaikan cost of fund.

Emanuel Berkah Caesario
May 18, 2022 - 8:57 AM
A-
A+
Menanti Jurus Pemerintah Tangkal Tekanan di Pasar SUN Indonesia

ilustrasi investasi obligasi

Bisnis, JAKARTA — Pasar surat utang negara (SUN) Indonesia mengalami tekanan yang cukup berat akibat kenaikan suku bunga global yang dipicu oleh kebijakan pengetatan moneter the Fed. Namun, tekanan yang dialami Indonesia masih relatif lebih baik ketimbang sejumlah negara berkembang lain.

Pemerintah Indonesia pun dinilai masih dapat menerapkan sejumlah strategi untuk meminimalisasi potensi risiko akibat tren ini.

Berdasarkan data World Government Bonds, yield SUN Indonesia tenor 10 tahun sudah ada di level 7,455 persen per hari ini, Rabu (18/5). Yield mengalami lonjakan pesat sejak the Fed mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya sebesar 50 bps ketika pasar Indonesia sedang libur Lebaran.

Pada akhir April 2022, atau sebelum pengumuman kenaikan suku bunga tersebut, yield SUN 10 tahun masih di level 6,988 persen. Artinya, dalam waktu singkat, yield SUN 10 tahun sudah meningkat 46,7 bps atau hampir sama besarnya dengan tingkat kenaikan suku bunga di AS.

Peningkatan ini jauh lebih pesat ketimbang kenaikan yield yang terjadi sejak awal tahun ini. Pada akhir 2021, yield SUN 10 tahun berakhir di level 6,445 persen. Artinya, hingga akhir April 2022, kenaikannya mencapai 54,3 bps.

Kendati lebih tinggi ketimbang kenaikan bulan ini, tetapi ini terjadi dalam kurun waktu 4 bulan. Jika ditotal, kenaikan yield SUN 10 tahun Indonesia sepanjang tahun berjalan sudah mencapai 101 bps secara year-to-date (YtD).

Pergerakan yield SUN 10 Tahun Indonesia sepanjang tahun berjalan 2022. Sumber: worldgovernmentbonds.com

Kenaikan yield SUN ini sejalan dengan kenaikan yang terjadi pada yield US Treasury atau surat utang pemerintah AS. Pada hari ini, Rabu (18/5), yield US Treasury tenor 10 tahun ada di level 2,975 persen, naik hingga 146,3 persen YtD.

Terlihat bahwa kenaikan yield US Treasury ini lebih tinggi ketimbang kenaikan yield SUN.

US Treasury sendiri adalah instrumen acuan bagi pasar surat utang global, sehingga ketika yield instrumen ini meningkat, yield surat utang negara-negara lain pun cenderung akan mengikutinya, termasuk SUN Indonesia.

Kenaikan yield US Treasury sendiri pada tahun ini merupakan dampak dari berbagai faktor yang berkembang di pasar global, antara lain rekor inflasi di AS dan di pasar global, respons kebijakan the Fed berupa pengetatan moneter, hingga konflik Rusia-Ukraina.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, menuturkan pasar obligasi Indonesia juga turut terdampak oleh tekanan global akibat faktor-faktor tersebut. Namun, menurutnya tekanan yield yang terjadi di Indonesia masih tergolong wajar, bahkan lebih rendah ketimbang negara lain.

"Negara yang lain juga sama mengalami kenaikan yield juga. Positifnya, year-to-date perubahan yield SUN relatif rendah dibandingkan dengan rata-rata kenaikan yield di negara-negara berkembang lainnya," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (17/5).

Seiring tekanan tersebut, permintaan lelang SUN dan lelang sukuk negara juga turut menurun. Lelang SUN mencapai penawaran terendahnya pada lelang Selasa (10/5) lalu, yakni hanya Rp19,74 triliun, sedangkan nilai yang dimenangkan negara hanya Rp7,76 triliun.

Sementara itu, lelang sukuk mencapai penawaran terendahnya pada lelang Selasa (19/4) lalu, yakni hanya Rp7,53 triliun dengan nilai yang dimenangkan negara hanya Rp2,01 triliun.


Pada lelang kemarin, Selasa (17/5), nilai penawaran akhirnya kembali meningkat, tetapi itupun hanya Rp17,02 triliun, jauh lebih rendah dibanding awal tahun ini yang mencapai Rp55,34 triliun. Pemerintah pun menenangkan sebesar Rp4,28 triliun.                                    

Untuk menutupi rendahnya nilai yang terserap dalam beberapa lelang akhir-akhir ini, pemerintah pun terpaksa beberapa kali menggelar lelang tambahan. Handy menilai, kondisi ini disebabkan oleh sejumlah faktor.

"Menurutku ada faktor musiman juga, selain partisipasi asing yang juga menurun. Faktor musimannya perbankan menyiapkan dana persiapan libur panjang Idul Fitri. Biasanya setelah ini, likuiditas akan kembali lagi dan permintaan ada potensi naik," katanya.

Handy mengatakan, green shoe option (GSO) atau lelang tambahan yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan penerbitan di lelang reguler. Upaya ini, lanjutnya, cukup efektif kalau dilihat bahwa permintaan lelangnya selalu ada tambahan.

"Supaya tidak tergantung utang, salah satu caranya ya outlook defisit anggarannya bisa ditekan. Sejauh ini kalau lihat dari realisasi defisit anggaran sampai dengan Maret masih surplus, seiring dengan peningkatan revenue side," paparnya.

Kalau tren peningkatan pendapatan negara ini bisa berlanjut, maka ketergantungan pembiayaan lewat utang juga otomatis akan turun ke depannya.

Cara kedua, terangnya, pemerintah dapat mengoptimalisasi Saldo Anggaran Lebih (SAL). Saat ini, SAL pemerintah masih sangat tinggi, ini bisa digunakan selain sebagai buffer fiskal kalau ada perubahan asumsi, bisa juga dipakai untuk mengurangi utang.

"Karena penurunan pasar lebih karena tekanan global, sebenarnya ini bisa jadi momentum untuk investor domestik meningkatkan peran lagi. Dengan begitu, jika porsi asing semakin menurun, diharapkan volatilitas pasar ke depan nya juga semakin berkurang karena potensi sudden reversal dari investor asing juga bisa semakin rendah," jelasnya.


Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga the Fed yang mencapai 50 bps sekaligus berada di luar kebiasaan, karena biasanya hanya 25 basis poin. Hal ini, terangnya, menunjukkan kondisi di AS memberikan tekanan yang tak terhindarkan.

"Akibatnya suku bunga SBN di emerging market termasuk Indonesia melemah. Potensi pelemahan ini masih terbuka, di seluruh dunia belum lihat level stabil dari yield US Treasury di angka berapa. The Fed awal tahun menyebut akan menaikkan 3 kali, biasanya 25 bps setiap naik, ini baru sekali sudah setara 50 bps," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (17/5).

Kendati demikian, ada hal menarik yang patut dicermati dari pasar surat utang di Indonesia. Dia menyebut rata-rata penerbitan obligasi negara sebelum pandemi adalah antara Rp300—Rp450 triliun. Target yang dipatok pemerintah ini pun tidak selalu terpenuhi.

Namun, saat pandemi pada 2020 dan 2021, rata-rata penerbitan naik dua kali lipat antara Rp800—Rp900 triliun seiring dengan tingginya kebutuhan pembiayaan negara dan melebarnya defisit anggaran. Menariknya, jumlah penerbitan yang naik pesat ini justru berhasil terpenuhi.

Pada saat yang sama, yield SUN juga turun atau menguat. Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya kepercayaan investor terhadap pasar surat utang di Indonesia sangat tinggi. Ketika yield tahun ini mulai melemah atau naik, mestinya investor bakal tetap yakin untuk masuk ke pasar.

Menurut Ramdhan, menghadapi tekanan kali ini pemerintah wajib melakukan efisiensi dan dan tidak memaksakan penerbitan karena memang biasanya penerbitan tidak selalu berakhir baik karena tidak dibarengi permintaan yang baik.

Lelang tambahan yang dilakukan pemerintah, lanjutnya, memang umum dilakukan, tetapi biasanya peminat juga tidak terlalu tinggi bahkan kadang tidak sampai setengah jumlah lelang hari pertama.

"Untuk cukupi itu, lelang tambahan itu tidak apa, lazim dilakukan, dijaga saja yield seimbang di primary dan secondary market kalau lihat utang ini salah satu sumber relatif lebih mudah," tuturnya.

Pemerintah, lanjutnya, dapat pula memanfaatkan skema penerbitan melalui global bond atau obligasi global, juga melalui private placement (PP). Kedua mekanisme ini biasanya mendapatkan hasil yang cukup besar dibandingkan dengan penerbitan dalam negeri.

"Kondisi eksternal begini kehati-hatian tinggi, cost of fund bisa lebih tinggi. Selain efisiensi, strategi penerbitan jumlah besar lewat global bond dan private placement dapat dilakukan, keseimbangan global bond dan dalam negeri juga mesti dijaga di komposisi stabil 20--30 persen penerbitan global bond dalam setahun," urainya.

Sementara itu, Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula, menyampaikan bahwa kenaikan yield SUN 10 tahun yang mendekati level 7,5 persen menjadikan instrumen ini sudah undervalue atau terlalu murah.

“Kalau melihat kondisi makro termasuk ekspektasi angka inflasi dan suku bunga, kenaikan yield SUN tenor 10 tahun mendekati level 7,5 persen sudah undervalue,” kata Ezra saat dihubungi Bisnis secara terpisah, Selasa (17/5).

Dia mengungkapkan bahwa sentimen global yang menyebabkan volatilitas saat ini sudah mulai stabil dengan yield US Treasury bertenor 10 tahun yang berada di bawah 3 persen.

Selain itu menurutnya angka inflasi Amerika Serikat sudah mencapai puncak sehingga diperkirakan adanya sentimen positif ke depannya. Di mana investor lokal dan asing dapat mulai perlahan kembali masuk ke pasar obligasi.

OPTIMISTIS

Sementara  itu, pemerintah mengaku optimistis dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan melalui penerbitan surat utang, kendati dibayang-bayangi oleh tren kenaikan suku bunga global dan biaya dana emisi surat utang.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, menyampaikan bahwa ketidakpastian global dan peningkatan US Treasury tentu berdampak pada peningkatan imbal hasil SBN serta permintaan terhadap SBN di Indonesia.

Namun, terlepas dari hal tersebut, Luky mengaku optimis bisa memenuhi kebutuhan pembiayaan melalui penerbitan surat utang di tahun ini.

“Di tahun 2022, pemerintah optimis dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan melalui utang,” ungkap Luky kepada Bisnis, Selasa (17/5).

Hal tersebut, ungkapnya, didukung oleh potensi peningkatan pendapatan negara sebagai dampak dari kenaikan harga komoditas serta implementasi UU HPP, sehingga dengan demikian dapat menurunkan target pembiayaan utang.

Dia pun melanjutkan, sebagai langkah mitigasinya pemerintah telah melakukan beberapa hal di antaranya berupaya untuk mengembangkan pasar SBN domestik secara konsisten. Kemudian berkoordinasi dengan Bank Indonesia melalui skema SKB I dan SKB III, serta mengoptimalkan penarikan pinjaman program.

Pemerintah, ungkapnya, tetap memiliki fleksibilitas. Pemerintah dapat menyesuaikan bauran dan komposisi pembiayaan utang melalui penerbitan SBN dan penarikan pinjaman program untuk memperoleh biaya dan risiko yang minimal.

“Selain itu, SBN Indonesia diperkirakan masih menarik bagi investor asing, mengingat kondisi perekonomian domestik relatif stabil dengan tren semakin membaik,” ujar Luky.

Disamping itu, Luki memperkirakan imbal hasil SUN masih dapat menjadi daya tarik bagi investor serta didukung oleh likuiditas domestik masih cukup ample.

(Reporter: Rinaldi Azka & Ika Fatma Ramadhansari)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Menanti Jurus Pemerintah Tangkal Tekanan di Pasar SUN Indonesia

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ