Mendorong Kontribusi Manufaktur

Pemerintah harus bekerja lebih keras untuk menjadikan industri manufaktur tulang punggung ekonomi.

Redaksi

8 Nov 2023 - 05.30
A-
A+
Mendorong Kontribusi Manufaktur

Ilustrasi manufaktur./BISNIS-ZAM

Pemerintah harus bekerja lebih keras lagi untuk menjadikan industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian mengingat sampai dengan kuartal ketiga tahun ini kontribusi sektor usaha itu belum bergerak banyak.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), untuk menjadi negara industri kontribusi industri manufaktur Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara harus mencapai 30%.

Sementara sampai kuartal ketiga tahun ini, kontribusi manufaktur terhadap PDB masih di bawah kisaran 20%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) porsi manufaktur mencapai 18,75% naik tipis bila dibandingkan dengan pencapaian kuartal sebelumnya di 18,25%.

Untuk menjadikan Indonesia sebagai negara industri seperti yang dicita-citakan, pemerintah harus mengurai persoalan yang memberatkan deru mesin manufaktur. Ketergantungan impor bahan baku, perizinan usaha yang tak mudah, dan masih tingginya beban energi harus segera diselesaikan.

Sebagaimana yang kita ketahui, impor bahan baku kebutuhan produksi masih berada di kisaran 60%—70%, beberapa sektor usaha bahkan ada yang mencapai 90% seperti industri farmasi dan kimia.

Presiden Joko Widodo beberapa tahun lalu bahkan sudah menggaungkan kemandirian industri farmasi untuk mengurangi ketergantungan impor, tetapi agaknya simpul utama persoalan belum terbuka hingga mimpi itu belum terealisasi.

Untuk energi, polemik harga gas industri sampai sekarang juga masih belum terselesaikan. Permintaan Presiden agar ada pemberlakuan harga khusus kepada sektor industri tertentu tak berjalan mulus. Belum lagi perizinan usaha yang masih menjadi tantangan. Penyediaan lahan tak kalah ruwet, pemerintah daerah memiliki aturan yang kerap dikeluhkan investor.

Bila persoalan-persoalan klasik itu dapat terselesaikan, bukan tidak mungkin target menjadikan manufaktur sebagai penopang perekonomian dapat segera terealisasi mengingat dengan kondisi saat ini saja sektor industri pengolahan dapat bertumbuh baik.

Seperti yang dilaporkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sektor manufaktur memberikan kontribusi cukup besar terhadap pencapaian investasi pada periode Januari—September 2023.

Dari realisasi investasi senilai Rp1.053,1 triliun, penanaman modal di sektor manufaktur mencapai Rp433,9 triliun atau mencapai 41,2% dari total investasi. Pencapaian tersebut naik 18,8% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Demikian juga untuk penyerapan tenaga kerja yang mencapai 19,35 juta orang atau 13,83% dari total pekerja.

Kerja keras dan kerja sama semua pihak, pemerintah dan stakeholder terkait sangat dibutuhkan. Ego sektoral harus dibuang jauh bila menginginkan Indonesia menjadi negara industri. Komitmen bersama dibutuhkan.

Tak hanya itu, upaya penghiliran yang saat ini sudah dijalankan harus diperluas ke bidang usaha lainnya. Petrokimia misalnya, langkah Pertamina yang masuk ke produksi bahan baku farmasi harus didukung penuh mengingat negara ini memiliki perusahaan farmasi yang cukup besar dan mumpuni.

Indonesia emas dengan bonus demografi pada 2045 harus dimanfaatkan dengan baik. Masih tingginya minat investor baik asing maupun lokal untuk menanamkan modal, menunjukkan optimisme terhadap perekonomian Indonesia di masa depan.

Manufaktur harus berkontribusi lebih besar lagi agar harapan menjadi negara industri yang dicita-citakan berpuluh tahun lalu dapat terjadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.