Menerka Dampak Disrupsi Teknologi pada Pasar Tenaga Kerja RI

Munculnya model AI seperti Chat GPT telah menimbulkan berbagai reaksi di antara karyawan dimana lebih terdapat kekhawatiran jika model AI akan menggantikan peran yang bersifat rutin.

Yanita Petriella

19 Jan 2024 - 17.26
A-
A+
Menerka Dampak Disrupsi Teknologi pada Pasar Tenaga Kerja RI

Ilustrasi tenaga kerja. /freepik

Bisnis, JAKARTA – Pasar kerja Indonesia 2024 diperkirakan akan tetap dinamis dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang solid di sektor-sektor kunci. 

Di tengah tantangan ekonomi global, pasar kerja Indonesia pada tahun 2024 siap untuk bertumbuh terutama di sektor yang sedang berkembang seperti pertambangan dan kendaraan listrik. 

Pertumbuhan ini mencerminkan prospek ekonomi yang positif meskipun perusahaan mengakui adanya kekurangan keterampilan khususnya di bidang teknologi.

Country Head Robert Walters Indonesia Eric Mary mengatakan terjadi pergeseran strategis dari sisi perekrutan, terutama di bidang teknologi, di mana permintaan untuk keterampilan artificial intelligence (AI), machine learning, dan blockchain mengubah lanskap rekrutmen. 

Dalam menyesuaikan diri dengan perubahan pasar ini, sekitar 40% perusahaan mempertimbangkan untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti Chat GPT untuk melakukan fungsi administratif. Hal ini mengindikasikan adanya minat yang kuat dalam memanfaatkan teknologi yang baru muncul untuk meningkatkan efisiensi. 

Kecenderungan terhadap inovasi AI sejalan dengan adaptasi strategi bisnis yang lebih luas terhadap lanskap ekonomi dan teknologi Indonesia yang terus berkembang.

Menurutnya, di tahun ini, perusahaan perlu beradaptasi dengan preferensi karyawan yang berubah terutama pergeseran menuju keamanan pekerjaan dan peningkatan mengenai pentingnya adaptabilitas tempat kerja dan keterampilan digital.

Dia memaparkan terdapat sebanyak 82% profesional dari berbagai sektor secara aktif mencari peluang pekerjaan baru di 2024. 

“Dari 82% professional aktif mencari peluang pekerjaan, dengan 73% merasa percaya diri dengan prospek kerja di bidang mereka,” ujarnya dikutip dari laporan Robert Walters Indonesia 2024 Salary Survey pada Jumat (19/1/2024) 

Munculnya model AI seperti Chat GPT telah menimbulkan berbagai reaksi di antara karyawan dimana lebih dari 50% merasa khawatir jika model AI akan menggantikan peran yang bersifat rutin. 

Dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi AI ini, 46% karyawan berencana untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam 12 bulan ke depan dengan 47% lainnya melihat kebutuhan tersebut tetapi merasa masih perlu mengeksplorasi lebih lanjut.

“Budaya perusahaan memiliki peran penting bagi karyawan dalam membuat keputusan karir, dan sebagian besar dari mereka menganggap nilai-nilai perusahaan sangat penting saat memilih sebuah perusahaan,” kata Eric. 

Lebih lanjut, sebanyak 82% profesional berharap agar perusahaan mereka saat ini atau yang akan datang lebih serius memprioritaskan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, hal ini menunjukkan pergeseran menuju pendekatan yang lebih seimbang dalam bekerja.

Saat mempertimbangkan perubahan pekerjaan, profesional semakin menghargai pendekatan yang seimbang dalam bekerja. Perubahan prioritas ini menunjukkan bahwa para karyawan di Indonesia tidak hanya mempertimbangkan hal-hal tradisional seperti gaji dan bonus tetapi juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kualitas kehidupan pribadi. 

“Tren ini menyoroti preferensi yang berkembang untuk pekerjaan yang tidak hanya memberikan manfaat finansial tetapi juga berkontribusi pada kepuasan kerja secara keseluruhan dan kesejahteraan pribadi,” ucapnya. 

Baca Juga: Penyerapan Tenaga Kerja, Ironi di Tengah Pertumbuhan Ekonomi


Sementara itu, dari sisi perusahaan, menunjukkan kesiapan untuk memberikan kenaikan gaji, dengan perkiraan rata-rata sekitar 67% untuk peningkatan gaji berbagai tingkat karyawan di tahun 2024. 

Bagi karyawan yang masih aktif di perusahaan, kenaikan gaji diperkirakan berada dalam kisaran 2% hingga 10%, sementara bagi yang memilih untuk pindah ke perusahaan lain kenaikan gaji dapat mencapai 10% hingga 15%. Selain itu, sekitar 73% perusahaan memiliki rencana untuk memberikan bonus, menyeimbangkan insentif finansial dengan harapan karyawan.

Menyadari perkembangan tren pasar dan ekspektasi karyawan yang terus berubah, perusahaan tengah mengalihkan fokus mereka. Di luar insentif finansial, juga akan meningkatkan nilai-nilai perusahaan seperti keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta peluang pengembangan karier. 

Pendekatan ini termasuk investasi dalam kesejahteraan karyawan dan penguatan budaya perusahaan yang selaras dengan aspirasi tenaga kerja modern bertujuan untuk mempertahankan tenaga kerja yang terampil.

Secara bersamaan, meningkatnya biaya hidup mendorong pergeseran fokus ke arah keamanan pekerjaan, memengaruhi baik ekspektasi gaji maupun manfaat yang ditawarkan oleh perusahaan. Sejalan dengan perubahan ini, kebijakan perusahaan juga mengalami transformasi sekitar 42% perusahaan masih akan menerapkan bekerja dari kantor (work-from-office/WFO) 5 hari seminggu, sementara 36% memilih 3 hari seminggu. 

“Ragam kebijakan WFO ini mencerminkan transformasi pendekatan perusahaan agar lebih selaras dengan evolusi kebutuhan dan preferensi tenaga kerja menandai pergeseran menuju model perusahaan yang lebih fleksibel dan responsif,” tutur Eric.

Dalam kesempatan berbeda,  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menuturkan masifnya perkembangan teknologi dan digitalisasi menciptakan disrupsi pada transformasi tatanan pekerjaan dan kebutuhan tenaga kerja. 

Menurutnya, di tahun ini masih ada ketimpangan di tengah kecenderungan meningkatnya investasi padat modal yang memerlukan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. Padahal, pasar tenaga kerja Indonesia masih didominasi pencari kerja keterampilan rendah.

“Penyebab rendahnya penyerapan tenaga kerja di Indonesia lantaran pemerintah fokus pada program padat modal ketimbang menerapkan usaha padat karya,” ujarnya.

Berdasarkan data Apindo terdapat penurunan serapan tenaga kerja selama sembilan tahun terakhir. Pada 2013, setiap Rp1 triliun investasi yang masuk bisa menyerap 4.594 tenaga kerja. Namun, jumlah itu berkurang drastis dengan hanya bisa menyerap 1.379 tenaga kerja per tiap Rp1 triliun investasi di tahun 2022.

“Jadi penanaman modal ini harus jadi perhatian kita karena memengaruhi ke penyerapan tenaga kerja. Saat ini dengan digitalisasi dan teknologi, penyerapan tenaga kerja sudah berkurang,” kata Shinta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.