Meneropong Dampak Perhelatan Pemilu Kerek Bisnis Perhotelan

Tren meningkatnya jumlah wisatawan asing seiring dengan meningkatnya kembali kegiatan perjalanan bisnis maupun kegiatan MICE akan membantu performa pasar perhotelan sehingga setara dengan level pra-pandemi.

Yanita Petriella

9 Des 2023 - 19.27
A-
A+
Meneropong Dampak Perhelatan Pemilu Kerek Bisnis Perhotelan

Ilustrasi hotel. /istimewa

Bisnis, JAKARTA – Tahun depan, Indonesia akan menghelat pesta demokrasi akbar yakni Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) dijadwalkan berlangsung pada 14 Februari 2024 dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) baru akan berlangsung pada 27 November 2024. Ajang pemilihan lima tahunan ini diproyeksikan mendongkrak tingkat okupansi atau keterisian ruang kamar hotel. 

Associate Director PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea mengatakan permintaan akan ballroom dan ruang meeting diprediksi akan meningkat di beberapa bulan pertama di tahun depan seiring dengan acara- acara pemerintah yang diselenggarakan terkait pemilu.Selain itu, hadirnya acara offline seperti konser musik yang menampilkan artis internasional memberikan pengaruh positif terhadap hotel.

“Tren staycation, setelah populer di masa pandemi, akan terus berlanjut dengan permintaan yang didominasi oleh wisatawan lokal,” ujarnya dikutip Sabtu (9/12/2023). 

Adapun pasar hotel menunjukkan tanda-tanda pemulihan bertahap meskipun ada tantangan yang dihadapi pasar global. Hal ini menyusul kembalinya wisatawan bisnis, turis, dan ekspatriat, okupnsihunian hotel telah membaik dan secara bertahap kembali ke tingkat sebelum pandemi. Adapun tingkat okupansi hotel di Indonesia sebesar 64.1% dengan rerata tarif harian US$69.2. 

“Pasokan kamar di Jakarta kuartal III tahun 2023 mencapai 55.900 unit dengan tingkat hunian mencapai 62%. Populasi terbesar berada di bintang 3 yaitu 37%, disusul bintang 4 sebesar 35% dan bintang 5 sebesar 28%,” katanya. 

Tren meningkatnya jumlah wisatawan asing seiring dengan meningkatnya kembali kegiatan perjalanan bisnis maupun kegiatan MICE akan membantu performa pasar perhotelan sehingga setara dengan level pra-pandemi. 

Seiring dengan bertambahnya pasokan baru dari kelas atas (upper class) dan juga kenaikan biaya operasional karena tekanan inflasi akan mendorong kenaikan harga kamar rata-rata secara umum di tahun 2020-2022 berada di 1,5% dan bertambah di tahun 2022-2024 menjadi 2,4%, sedangkan permintaan kamar hotel juga naik dari tahun 2020-2022 berada di nilai 21,3% pada tahun 2022-2024 naik menjadi 29%.

Seiring dengan bertambahnya pasokan baru dari kelas atas (upper class) dan juga kenaikan biaya operasional karena tekanan inflasi akan mendorong kenaikan harga kamar rata-rata secara umum. Seperti hotel bintang 5 pada tahun 2017 berada di bawah harga Rp2 juta kini menyentuh harga Rp2,5 Juta per malam, sedangkan untuk hotel bintang 4 dan 3 sejak tahun 2017 untuk segi harga masih relatif stabil di harga sekitar Rp500.000.

CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono memprediksi pasar hotel ke depannya akan mengalami potensi pengembangan hotel yang terintergrasi, hotel-hotel akan diintegrasikan ke dalam mixed used projects sehingga akan mengalami tingkat hunian yang lebih tinggi. 

“Hotel yang okupansinya membaik itu rerata berada di mixed used seperti Hotel Mandarian Oriental, kemudian Borobudur itu sulit okupansinya. Mereka hanya dihuni untuk malam hari. Kalau ada di mixed used, mal dan kantor ada captive marketnya seperti Kempinski Jakarta dan Sheraton,” tuturnya 

Pembangunan hotel yang sebelumnya terhenti karena pandemi diprediksi akan selesai dalam waktu dekat. Selain itu ke depannya rebranding hotel juga akan berlangsung. Strategi tersebut dilakukan untuk meningkatkan posisi pasar dan profitabilitas hotel secara keseluruhan.

Pengembangan hotel mewah juga akan meningkat, selain di Jakarta perkembangan hotel kelas mewah juga siap berkembang di destinasi wisata popular seperti Bali dan Labuan Bajo.

Pariwisata juga dikatakan pulih sehingga banyak hotel baru akan bermunculan,” ucap Hendra. 

Baca Juga: Menerka Prospek & Tren Rumah Tapak di Tahun Pemilu 2024


Hotel Pulih

Sementara itu, konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia memprediksi okupansi hotel di Jakarta akan mencatatkan tren positif pada 2024 seiring dengan adanya gelaran Pemilihan Umum atau Pemilu 2024. Direktur Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan tingkat kekosongan kamar hotel pada akhir 2023 terus mengalami penurunan ke posisi 40% untuk sejumlah jenis kamar hotel. Di samping itu, tingkat kekosongan kamar secara keseluruhan selama tahun politik diprediksi terus membaik di level 34%.

“Perjalanan traveller penumpang yang datang ke bandara sudah sangat meningkat dan hampir pulih seperti 2019 dan diperkirakan penumpang yang datang ke Bandara Soekarno Hatta akan tercapai targetnya,” ujarnya.

Pertumbuhan positif total pengunjung ke Jakarta berdampak pada semakin aktifnya kegiatan Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions (MICE) di Jakarta. Peningkatan kegiatan MICE seperti kegiatan rapat institusi BUMN, kementerian, korporasi, konser musik internasional, acara olahraga dan pameran berdampak positif kepada peningkatan permintaan kamar hotel Jakarta. 

“Total kedatangan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta per September 2023 sudah mencapai lebih kurang 18,5 juta penumpang. Diperkirakan target total penumpang tahun 2023 akan tercapai,” katanya. 

Tingkat kekosongan kamar hingga akhir 2023 terus menurun masing-masing adalah 33,0% untuk bintang 2, 36,4% bintang 4, 33,9% bintang 5, 40,3% untuk luxury. Kendati demikian, tingkat kekosongan kamar keseluruhan akan terus membaik di tahun aktivitas politik 2024 di level 34,0% 

Cushman & Wakefield tidak mencatat adanya penambahan suplai kamar hotel baru pada 2023 dan tahun depan. Adapun total kumulatif pasokan kamar hotel berbintang 3 hingga luxury sampai akhir 2023 tercatat sebanyak 42.922 kamar.

Dari total tersebut, sekitar 1.354 kamar hotel yang berlokasi di Jakarta Pusat dan CBD dijadwalkan akan mulai beroperasi pada 2024. Rinciannya, 27% di antaranya merupakan kamar hotel bintang 3, 48% hotel bintang 4, 12% hotel bintang 5 dan 14% merupakan tipe luxury.

“Ini [tren positif pasar hotel] berkaitan dengan makin aktifnya mice yang ada di Jakarta. Jadi, untuk peningkatan dampak positif terhadap pasar hotel di Jakarta memang diperlukan kegiatan mice yang cukup aktif, baik itu kita lihat ada KTT 2023, kemudian ada beberapa internasional konser, dan event sport,” ucapnya.

Pertumbuhan harga kamar (ADR) per malam diperkirakan akan terus positif seiring dengan peningkatan permintaan kamar yang terus berlanjut. Harga kamar (ADR) rata-rata pada akhir 2023 tercatat pada: bintang 3 Rp460.570 meningkat 13% YoY, bintang 4 Rp816.320 naik 16% YoY, bintang 5 senilai Rp1.791.130 naik 20% YoY, dan luxury Rp2.253.460 naik 12,5% YoY. Lebih lanjut, harga kamar hotel diprediksi bakal tumbuh di tahun 2024 sebesar 16% YoY. 

“Harga kamar ini sudah kembali ke level sebelum pandemi di tahun 2019,” tutur Arief.

Baca Juga: Menilik Kehebatan Arsitek RI Bangun Hotel Ramping Kedua Dunia

 

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto memprediksi akan ada peningkatan permintaan hotel dua bulan sebelum event demokrasi tersebut berlangsung. Berdasarkan pola yang diamati di masa lalu, siklus tahun politik diperkirakan akan mendorong peningkatan tingkat hunian hotel. 

“Berdasarkan temuan kami bersama tim layanan perhotelan, permintaan terhadap ruang hotel jelang acara demokrasi mungkin mengalami peningkatan, terutama sekitar dua bulan sebelum pemilu, hingga dua minggu sebelum D-Day tiba,” ujarnya. 
Dikatakan hotel bisnis di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sangat bergantung pada pemerintah belanja, khususnya untuk kegiatan yang melibatkan MICE yang mendorong penggunaan kamar hotel.
Khususnya, menjelang pemilu, partai politik cenderung semakin intensif kegiatan seperti upaya konsolidasi atau peristiwa lain yang berkaitan dengan pemilihan presiden dan anggota legislatif. 

Ini melibatkan fokus pada mempromosikan kandidat mereka dan memerlukan pertemuan ruang atau konvensi, sering kali tersedia di hotel,” katanya.

Ferry menerangkan, aktivitas partai politik yang terkait dengan pemilu diperkirakan tidak memberikan kontribusi yang signifikan pendapatan hotel, karena kegiatan politik ini biasanya tidak melibatkan anggaran yang besar. Namun, mereka dapat meningkatkan eksposur hotel. 

“Saat ini, pencapaian target tingkat hunian menjadi prioritas bagi hotel manajemen, dan masa pemilihan menjadi peluang untuk memperkenalkan hotel kepada lebih luas hadirin,” ucap Ferry. 

Baca Juga: Menerka Prospek Investasi Bisnis Hotel di Asia Pasifik


Tak Berdampak

Terpisah, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran berpendapat Pemilu 2024 tak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan bisnis sektor perhotelan. Okupansi dan kinerja sektor perhotelan tak banyak terkerek walau berbagai kegiatan berhubungan dengan pemilu diadakan di hotel.

Di Jakarta mungkin agak rutin, tapi tidak dengan di daerah lain. Enggak bisa dipukul rata, imbasnya enggak terlalu signifikan,” tuturnya. 

Menurutnya, kegiatan dengan massa justru lebih banyak dilakukan di lapangan atau luar ruang. Oleh karena itu, pesta demokrasi berdampak minim bagi performa perhotelan. Potensi peningkatan hanya pada daerah yang difokuskan partai politik (parpol) untuk melakukan konsolidasi seperti rapat kerja nasional.

Selama ini, industri perhotelan nasional banyak ditopang kegiatan pemerintah. Namun, kegiatan tersebut masih berfokus di Kalimantan, Jawa, dan Bali. Pola yang tak merata ini memberatkan daerah lain untuk berkembang,” terang Maulana. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.