Mengarusutamakan Ekonomi Biru

Indonesia memiliki potensi signifikan dalam pengembangan ekonomi kelautan atau ekonomi biru, hal ini membuat Indonesia terlibat dalam forum-forum internasional pengembangan ekonomi maritim tersebut.

Redaksi

12 Nov 2023 - 15.59
A-
A+
Mengarusutamakan Ekonomi Biru

Ilustrasi ekonomi biru./Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Indonesia memiliki potensi signifikan dalam pengembangan ekonomi kelautan atau ekonomi biru, hal ini membuat Indonesia terlibat dalam forum-forum internasional pengembangan ekonomi maritim tersebut.

Kepala Sekretariat Archipelagic and Island States (AIS) Forum Riny Modaso menegaskan perlunya solusi strategis terkait inovasi dalam mengarusutamakan ekonomi biru sebagai salah satu sektor potensial di negara – negara pulau dan kepulauan.

“Inovasi merupakan penggerak dari setiap perubahan yang berarti, dan para wirausaha memainkan peran penting dalam proses ini sebagai penerjemah ide-ide kreatif menuju penerapannya di dunia nyata. Oleh karenanya, diperlukan perhatian khusus pada penelitian dan pengembangan serta dukungan kepada para wirausaha,” ujarnya dikutip Minggu (12/11/2023).

Archipelagic and Island States (AIS) Forum pun mengadakan “Blue Innovation Solution: Ignite the Blue” yang berlangsung di Glasgow, United Kingdom. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan pasca  pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) AIS Forum yang telah berlangsung di Nusa Dua, Bali, sebelumnya.

Forum ini bertujuan memberikan ruang bagi para pemangku kepentingan dari berbagai sektor untuk berdiskusi tentang solusi inovatif dalam menggerakkan ekonomi biru, khususnya bagi negara-negara pulau dan kepulauan.

Direktur Futures Institute Edinburgh Alessandro Rosiello yang menekankan pentingnya meningkatkan inovasi dan kewirausahaan mencapai masa depan yang berkelanjutan. Rosiello juga menyoroti potensi solusi yang tersimpan dalam lautan, tapi untuk mewujudkan potensi ini, investasi dalam inovasi sangatlah penting.

Tiga sesi panel diselenggarakan pada hari pertama. Dr. Adam Bobbette dari Department of Political Geology, University of Glasgow, membahas tentang "Archipelagic Imaginaries and Earth Futures," yang memproyeksikan potensi negara-negara pulau dan kepulauan di masa depan, dengan penekanan pada keberlanjutan dan pentingnya pengetahuan dan kearifan lokal.

Head of Digital & Tech Transformation for Indonesia Tony Blair Institute Astrid Dita menerangkan berfokus pada solusi – solusi inovatif terkait bagaimana mengatasi tantangan khas yang dihadapi oleh negara pulau dan kepulauan melalui implementasi teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi geografis maupun ekonomi dari negara–negara tersebut.

Lebih lanjut, Dita juga mengangkat isu penting terkait atensi global yang selama ini tidak begitu besar diberikan pada isu–isu sektoral di negara–negara pulau dan kepulauan.

The Office for Gas and Energy Market United Kingdom Viljami Yli-Hemminki menerangkan bagaimana peran penting kolaborasi dan kerja bersama dalam upaya memaksimalkan penyediaan dan penggunaan energi baru dan terbarukan. 

Mengambil contoh yang telah dilakukan oleh UK sendiri, dia menyampaikan penguatan kolaborasi mula–mula akan memberikan dampak besar yang berkelanjutan. Kolaborasi yang dilakukan adalah dengan melibatkan berbagai pihak yakni pemerintah, developer/pengembang, peneliti teknologi serta Offshore Hybrid Assets (OHA) yang menjadi bagian terpenting dari penggunaan energi baru dan terbarukan. 

Baca Juga : Plus Minus Dana Rp3,38 Triliun untuk Program PPN Rumah Gratis 

PENEKANAN JOKOWI

Presiden Joko Widodo mengungkap potensi ekonomi biru yang menjadikan laut sebagai sumber utama ekonomi di negara kepulauan sangat besar dengan bentangan laut yang luas dengan potensi yang ada di dalamnya.

Menurut Jokowi potensi yang besar tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan dengan tata kelola laut yang baik sehingga bisa menjadi pilar pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di negara kepulauan dan pulau yang menjadi anggota AIS.

Jokowi mendorong kerja sama dalam pengembangan ekonomi biru memperhatikan prinsip berkelanjutan dan berkeadilan bagi masyarakat.

Presiden menjelaskan KTT AIS telah melahirkan kesepakatan dalam pengembangan ekonomi biru yang berpedoman pada prinsip solidaritas, kesetaraan, inklusivitas atau keterbukaan antara negara–negara AIS. Dengan tiga prinsip tersebut, kerja sama ekonomi biru bisa direalisasikan dengan baik.

Baca Juga : Asia Pasifik Membetot Minat Investor Perbankan Jerman 

“Kerja sama yang dilakukan penting untuk digerakkan berdasarkan prinsip bahwa laut itu sumber kehidupan, sehingga kerja samanya memperhatikan prinsip keberlanjutan dan berkeadilan,” jelas Jokowi di KTT AIS Forum, Rabu (11/10/2023) silam.

Lebih jauh Menteri Luar Negeri, Retno L.P Marsudi menjelaskan konsep ekonomi biru yang ditawarkan Indonesia dan disepakati dalam KTT AIS menekankan gerakkan dalam pengelolaan laut yang berkelanjutan sehingga bisa menjadi pilar pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Retno pengembangan ekonomi biru pada dasarnya untuk mendorong negara yang kepulauan yang memiliki laut jauh lebih luas daripada daratan untuk bisa maju, setara dengan negara daratan.

Pengembangan ekonomi biru hingga saat ini belum sampai ke realisasi perdagangan antarnegara, karena kesepakatan awal lebih mendorong pada tata kelola laut dan mengatasi masalah laut seperti pencemaran laut.

“Ekonomi biru prinsipnya bagaimana memanfaatkan laut dengan bertanggung jawab secara sustainable atau berkelanjutan, tetapi mendukung pertumbuhan ekonomi. Selama ini hanya bicara green economy, tetapi lupa ada beberapa negara yang 99,3 persen terdiri dari laut, dan kami juga tahu ternyata laut itu sumber kehidupan, sekarang bagaimana mengelola (laut) secara sustainable mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Retno.(Harian Noris Saputra)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.