Mengenal Bahan Bakar Kapal yang Diekspor Pertamina

Sesuai dengan namanya low sulphur fuel oil (LSFO), BBM ini mengandung sulfur atau belerang hanya 0,5%. Tingkat kandungan sulfur itu sesuai dengan yang dipersyaratkan International Maritime Organization (IMO) dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2020 untuk kapal-kapal yang berlayar di seluruh dunia.

Ibeth Nurbaiti

8 Apr 2022 - 12.30
A-
A+
Mengenal Bahan Bakar Kapal yang Diekspor Pertamina

Kapal tanker di Teluk Balikpapan. Kapal-kapal kini menggunakan minyak rendah belerang yang sudah bisa diproduksi Pertamina di Kilang Balikpapan. (ANTARA/novi abdi)

Bisnis, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) kembali mengekspor produk bahan bakar kapal rendah sulfur ke sejumlah negara. 

Produk bahan bakar kapal yang dihasilkan dari Kilang Pertamina ini banyak dicari oleh konsumen luar negeri karena kandungan sulfurnya rendah. Hal itu sejalan dengan upaya transisi menuju energi hijau yang terus digaungkan oleh dunia internasional.

Bahan bakar kapal laut yang ramah lingkungan itu menjadi penggerak bagi mesin utama kapal dengan putaran rendah.

Dikutip dari Antara, sepanjang Januari—Maret 2022, PT KPI Balikpapan sudah mengekspor 992.000 barel BBM yang diberi merek LSFO V-1250 ke Malaysia, Singapura, dan Hong Kong. 

Baca juga: Lonjakan Konsumsi BBM Menjelang Lebaran Kian Membuncah

Sesuai dengan namanya low sulphur fuel oil (LSFO), BBM ini mengandung sulfur atau belerang hanya 0,5%. Tingkat kandungan sulfur itu sesuai dengan yang dipersyaratkan International Maritime Organization (IMO) dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2020 untuk kapal-kapal yang berlayar di seluruh dunia. 

Sementara itu, Indonesia menerapkannya lebih awal, yaitu sejak Oktober 2019 untuk seluruh kapal yang berlayar di perairan Indonesia.

Sebelum aturan ini, sulfur di dalam minyak kapal bisa mencapai 3,5%. Pengurangan 3% sulfur ini diperkirakan bisa mengurangi emisi dari gas buang mesin kapal hingga 77%.

Karyawan Pertamina melakukan pengawasan di fasilitas RU V Balikpapan. Istimewa/Pertamina

Dengan begitu diharapkan dampak negatif sulfur atau belerang pada kesehatan manusia, terutama yang tinggal dekat pantai atau perairan dengan lalu lintas kapal bisa dikurangi.

Diketahui, sulfur oksida yang dilepaskan ke udara sebagai gas buang dapat menjadi pemicu hujan asam bila bereaksi dengan uap air. Sulfur oksida dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, menyebabkan batuk, sesak napas, dan asma.

Lantas, seperti apa produk BBM kapal ramah lingkungan yang diproduksi dari Kilang Pertamina?

Humas KPI Ely Chandra Peranginangin menjelaskan bahwa bahan baku untuk pembuatan LSFO V-1250 berasal dari residu atau ampas dari fraksi-fraksi penyulingan minyak mentah di kilang.

Baca juga: Simalakama Pertamina ‘Terjerat’ Bisnis BBM Murah

“Penerimaan pasar luar negeri terhadap produk yang dihasilkan kilang Pertamina adalah bukti bahwa produk kita memiliki standar internasional,” kata Chandra.

Dengan kecenderungan permintaan yang kian bertambah, Pertamina akan melakukan pengiriman ke luar negeri setiap bulan untuk memenuhi permintaan dalam negeri dari kapal-kapal yang sandar di Balikpapan.

Tak hanya Kilang Pertamina Balikpapan, PT KPI Refinery Unit III Plaju (Kilang Pertamina Plaju) juga mulai mengekspor produk Marine Fuel Oil (MFO) rendah sulfur.

Komplek kilang minyak milik Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) III Plaju Sungai Gerong, Palembang, Sumsel./Antara

Dikutip dari RRI Palembang, kegiatan ekspor itu merupakan salah satu langkah inisiasi strategis Kilang Pertamina Plaju untuk tetap menjaga neraca keuangan tetap positif pada akhir tahun ini, sebagaimana yang telah dicapai pada 2021.

General Manager (GM) Kilang Pertamina Plaju Edy Januari Utama mengungkapkan bahwa inisiatif peningkatan produksi MFO LS diproyeksi akan menyumbang hingga 80% dari target inisiatif strategis Kilang Pertamina Plaju tahun ini. 

Dengan kualitas produk yang telah memenuhi standar IMO, produk MFO Low Sulphur 180 centistoke (cSt) ini mampu bersaing untuk memasuki pasar internasional dan siap berkontribusi dalam keberlangsungan sistem distribusi energi, jasa, dan komoditas dalam sektor maritim. 

Kilang Pertamina Plaju sendiri menargetkan ekspor MFO Low Sulphur 180 cSt sebanyak 200 MB/bulan.

Sejak dibangun pada 1904, Kilang Pertamina Plaju telah memberikan sumbangan nyata dalam perkembangan dan kemajuan daerah khususnya di Sumatra bagian selatan, dan telah memberikan andil yang besar bagi pemenuhan kebutuhan bahan bakar nasional.

Petugas mengarahkan mobil tangki pengangkut BBM jenis Pertamax Turbo seusai melakukan pengisian BBM di Area Kilang PT Pertamina (persero) RU III Plaju, Palembang, Sumatra Selatan, Jumat (9/6/2017)./Antara-Nova Wahyudi

Berbagai produk BBM dan non-BBM telah dihasilkan dari Kilang Pertamina Plaju dan telah didistribusikan ke berbagai pelosok Tanah Air hingga mancanegara.

“Perwira di Kilang Pertamina Plaju ini memiliki agility yang bagus, terutama di situasi ketidakpastian yang tinggi saat ini. Keadaan sesulit apapun, Kilang Pertamina Plaju masih bisa menemukan peluang untuk dapat meningkatkan margin perusahaan,” kata Pjs VP PPM PT KPI Hendri Agustian. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.