Mengenal BPA dan Dampak Bagi Tubuh

BPA merupakan zat kimia dasar yang tidak terlepas dari keseharian baik barang pakai maupun konsumsi produk makanan dan minuman.

Yanita Petriella

8 Des 2023 - 06.01
A-
A+
Mengenal BPA dan Dampak Bagi Tubuh

Isi ulang galon. /istimewa

Bisnis, JAKARTA – Pemerintah perlu memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat mengenai penggunaan plastik yang aman, sehat, dan tidak membebani secara ekonomi. Pasalnya, isu terkait bisphenol A (BPA) banyak beredar di media sosial beberapa tahun terakhir. 

Pakar Polimer dari Institute Teknologi Bandung Akhmad Zainal Abidin mengatakan BPA merupakan zat kimia dasar yang tidak terlepas dari keseharian baik barang pakai maupun konsumsi produk makanan dan minuman. Salah satu jenis plastik yang umum digunakan adalah plastik polikarbonat dan resin epoksi. Produk-produk berbasis BPA terdiri atas sumber makanan dietary sources dan sumber bukan makanan (non dietary sources) seperti : botol plastik, botol bayi, mainan anak, kemasan air minum, tempat makan, lensa kacamata, pelapis makanan kalengan, disket CD, perangkat otomotif, perlengkapan sport dan juga beberapa peralatan medis. Bahan utama pembuatan plastik polikarbonat adalah senyawa BPA. 

Dia menuturkan isu yang beredar menyatakan bahwa ada kaitan antara BPA dengan beberapa penyakit seperti gangguan hormonal, obesitas dan kardiovaskuler, kanker, gangguan perkembangan dan syaraf anak, infertilitas serta kelahiran prematur. 

“Padahal setelah ditelusuri secara literatur antara isu seperti yang disampaikan diatas dan fakta studi yang ada belum dapat dipastikan hubungan kausalitasnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (8/12/2023). 

Baca Juga: Mengakhiri Polemik Pelabelan BPA


Menurut Akhmad, reaksi dari bahan beracun seperti BPA dan phosgene setelah diproses menjadi polikarbonat adalah senyawa yang aman karena merupakan polimer, sifat kimianya berubah, tidak seperti komponen penyusunnya serta aman dan cenderung tidak reaktif.

Dia menilai, migrasi BPA dari wadah makanan dan minuman bisa saja terjadi pada kondisi seperti kemasan yang rusak, kontak langsung antara makanan dan kaleng, makanan dengan lemak tinggi, kemasan yang lebih tipis, waktu kontak dan kemasan makanan yang mengalami peningkatan suhu.

Dokter Spesialis Ahli Gizi Karin Wiradarma berpendapat metabolisme BPA dalam tubuh manusia setelah diserap oleh saluran cerna. Kemudian, BPA akan ditranspor ke hati dimana 90% bentuk tidak aktif dan selanjutnya akan dikeluarkan melalui urin dan feces, sedangkan 10% merupakan bentuk aktif yang memberikan pengaruh negatif pada tubuh. 

“Tetapi mengingat jumlahnya sangat kecil dibandingkan batas yang ditetapkan oleh berbagai lembaga pengawasan makanan dan minuman dunia, atau BPOM di Indonesia maka kiranya masih dibutuhkan kajian ilmiah lebih lanjut dalam hubungannya dengan kesehatan manusia,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.