Menghitung Peluang Bangkitnya Saham UNVR Usai Jatuh Terperosok

Saham UNVR pernah meningkat sangat tinggi, khususnya selama dekade 2000-an. Namun, kini kisah sukses itu sudah seperti dongeng. Perseroan masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah untuk dibenahi demi meningkatkan lagi kinerja sahamnya.

Emanuel Berkah Caesario
Feb 24, 2022 - 8:52 AM
A-
A+
Menghitung Peluang Bangkitnya Saham UNVR Usai Jatuh Terperosok

Logo Unilever Indonesia dalam kampanye Indonesia World Farmer Scene/Unilever.co.id

Bisnis, JAKARTA — Saham PT  Unilever Indonesia Tbk. pernah menjadi saham primadona di pasar modal Indonesia. Saham emiten berkode UNVR ini pun kerap kali menjadi rujukan pilihan utama bagi strategi value investing. Namun, kinerjanya yang melemah akhir-akhir ini menjadikan pamornya meredup.

Sejak pertama kali melantai di pasar modal Indonesia pada 11 Januari 1982, saham UNVR relatif terus menguat. Memasuki dekade 2000-an, kenaikan harga saham UNVR makin mencolok. Puncak penguatan saham UNVR adalah pada 29 Desember 2017 di level Rp11.180.

Namun, sejak saat ini, saham UNVR terus melemah. Hari ini, Kamis (24/2), saham UNVR ditutup di level Rp3.690, turun 3,40 persen dibanding level penutupan kemarin. Sepanjang tahun ini, saham UNVR sudah turun 10,22 persen. Jika dibanding level tertingginya tersebut, UNVR sudah anjlok 67 persen.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetyo mengatakan penurunan harga yang tajam pada UNVR ini terjadi karena valuasi saham yang tinggi cenderung diikuti dengan kinerja keuangan UNVR yang terkesan stagnan. Namun, perusahaan tetap berpeluang untuk membalik kinerja.

 “Hal ini tecermin pada torehan laba bersih yang stagnan dari 2018 sampai 2021,” kata Frankie ketika dihubungi, Rabu (23/2).

Dia juga menyebutkan kinerja UNVR diperberat oleh biaya iklan dan promosi yang cukup tinggi, mengingat posisinya sebagai market leader produsen consumer goods yang memerlukan sosialisasi secara berkesinambungan.

“Dengan kenaikan bahan baku, khususnya kemasan juga memperberat kinerja UNVR dari sisi biaya produksi,” tambahnya.

Frankie mengemukakan harga saham perusahaan dengan posisi pasar yang besar umumnya tidak dihargai murah. Maka untuk rasio inti terkini seperti price to earning ratio (PER) sebesar 25x dan price to book value (PBV) 33x, saham UNVR terhitung sudah berada di level valuasi yang murah secara historis.

“Apalagi mengingat UNVR adalah perusahaan yang secara konsisten mencetak return on equity [ROE] di atas 3 digit tiap tahunnya,” kata Frankie.


Sementara itu, di pasar beredar riset dari Nilzon Capital yang menilai perusahaan ini lebih baik delisting sukarela (go-private) dari Bursa Efek Indonesia seiring menurunnya kinerja dan lebih banyak menguntungkan pemegang saham pengendali dibandingkan investor publik.  

Dalam riset Nilzon Capital, pemegang saham pengendali Unilever yakni Unilever PLC diminta membawa perusahaan untuk menjadi perusahaan tertutup. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir harga saham UNVR terus merosot dan menjadi 3 terbawah dalam deretan saham blue chips atau LQ45.

Untuk opsi go private tersebut, Frankie menilai hal tersebut akan menjadi kabar baik bagi investor retail jika benar-benar terealisasi. Dengan valuasi yang sudah murah, dia mengatakan investor bisa mendapatkan harga premium ketika terjadi tender offer nantinya.

“Tetapi tentunya hal ini masih bersifat rumor dan investor tentunya lebih bijak jika membeli memang berdasarkan fundamental dari perusahaan,” katanya.

Dia meyakini saham UNVR bisa kembali bangkit jika manajemen bisa melakukan efisiensi dan strategi bisnis yang lebih murah dan efektif, seperti digitalisasi yang bisa menjangkau pasar baru yang lebih luas. Terlebih, UNVR sudah memiliki jaringan yang luas dan produk-produknya masih relevan, serta dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Head of Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menuturkan sebenarnya saham UNVR ini masuk ke sektor konsumer yang bakal menjadi sektor yang terdampak positif oleh pemulihan ekonomi.

"Sebenarnya UNVR ini masuk sektor konsumer, dari sisi harga sudah sangat atraktif. Namun, investor masih menunggu turn around bisnisnya," urainya dalam diskusi virtual, Selasa (23/2).

Menurutnya, masalah utama pendorong turunnya kinerja saham dan fundamental UNVR adalah daya beli masyarakat yang terdampak pandemi. Kemudian, seiring pemulihan, daya beli pun kembali meningkat.

Dari sisi lini bisnisnya, Unilever masih memiliki posisi yang kuat dan mampu berkompetisi dengan para pesaingnya.

Joezer menilai investor masih menantikan sinyal berbalik arah dari kinerja fundamental UNVR yang mencanangkan sejumlah strategi pembenahan pada 2022.

"Investor tunggu berdampak tak strategi ini menunjukkan sinyal turn around, tinggal tunggu momentumnya. Rekomendasi kami juga masih withdrawn, sama-sama menantikan sinyal turn around, kami akan lebih optimistis," katanya.

MASA RESET

Terpisah, Direktur dan Sekretaris Perusahaan UNVR Reski Damayanti mengatakan Unilever Indonesia melihat 2022 sebagai masa reset dan waktu yang tepat untuk menyiapkan landasan yang kuat untuk pertumbuhan dan kinerja positif jangka panjang.

Untuk menjawab berbagai tantangan, dia mengatakan perusahaan memiliki lima prioritas strategis pada 2022. Pertama, penguatan dan unlock potensi penuh dari merek-merek besar dan produk utama melalui inovasi yang terdepan. Dengan demikian konsumsi konsumen dapat distimulasi.

“Kami juga akan memperluas dan memperkaya portfolio ke value dan premium segment,” kata Reski.

Perusahaan juga akan memperkuat kepemimpinan di channel utama yakni general trade dan modern trade, serta kanal daring. Selain itu, kapabilitas digital dan berbasis data juga akan ditingkatkan.

Strategi bisnis perusahaan pada 2022 juga mencakup komitmen untuk menjadi yang terdepan dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan.

“Kami optimistis bahwa dengan strategi prioritas yang perusahaan terapkan saat ini, kami sudah berada di jalur yang tepat untuk kembali menuju pertumbuhan yang konsisten dan berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, terkait rekomendasi Nilzon Capital bagi UNVR untuk delisting sukarela, Reski mengatakan bahwa pihaknya sangat menghormati serta menghargai setiap pendapat, analisa, dan masukan terkait kinerja perseroan dari berbagai pemangku kepentingan.

"Perseroan senantiasa mengupayakan bahwa setiap aksi dan keputusan bisnis diambil secara profesional dan mengutamakan kepentingan publik dan pemangku kepentingan yang lebih luas, termasuk para investor," katanya kepada Bisnis.

Menurut dia, saat ini kondisi pasar produk konsumen baik global maupun di Tanah Air terus mengalami pergerakan secara dinamis dari tahun ke tahun.


Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2021, UNVR membukukan pendapatan penjualan senilai Rp39,55 triliun, turun 7,96 persen dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya atau secara year-on-year (YoY).

Laba brutonya turun 12,6 persen YoY menjadi Rp19,63 triliun, sedangkan laba bersihnya anjlok 19,55 persen menjadi Rp5,76 triliun.

Dari sisi kontributor, penjualan ekspor UNVR hanya sebesar Rp1,69 triliun, turun 6,39 persen dibandingkan dengan tahun 2020 Rp1,81 triliun. Kontribusi ekspor tersebut hanya 4,29 persen dari total penjualan.

Adapun, kontribusi penjualan bersih dalam negeri adalah sebesar Rp37,84 triliun, turun 8,04 persen dibandingkan dengan 2020 yang sebesar Rp41,15 triliun. Kontribusi penjualan domestik ini mencapai 95,71 persen dari total penjualan perseroan.

Ira Noviarti, Presiden Direktur Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa kategori Foods & Refreshment menjadi penopang utama pertumbuhan perseroan dengan membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 1,4 persen di tahun 2021.

"Unilever Indonesia membukukan laba bersih sebesar Rp5,7 triliun meski menghadapi berbagai tantangan berat di sepanjang tahun 2021," paparnya dalam keterangan resmi.

(Reporter: Iim Fathimah Timorria & Rinaldi M. Azka)

Editor: Emanuel Berkah Caesario
company-logo

Lanjutkan Membaca

Menghitung Peluang Bangkitnya Saham UNVR Usai Jatuh Terperosok

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ