Mengintip Sistem Operasi Tanpa Masinis Digunakan LRT Jabodebek

KAI terus berusaha mengatasi gangguan pengoperasi LRT Jabodebek setelah sepekan beroperasi. Meskipun masih banyak gangguan, namun KAI akan tetap memesan rangkaian kereta LRT Jabodebek dari INKA.

Yanita Petriella

4 Sep 2023 - 19.23
A-
A+
Mengintip Sistem Operasi Tanpa Masinis Digunakan LRT Jabodebek

Rangkaian kereta LRT Jabodebek berada di area Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (12 7 2023). Bisnis Arief Hermawan P.jpg

Bisnis, JAKARTA – LRT Jabodebek merupakan moda transportasi berbasis rel tanpa masinis. Namun demikian, dalam pengoperasiannya mensyaratkan masih terdapat petugas operasional di dalam kereta untuk penanganan kondisi darurat. Selama pengoperasiannya, LRT Jabodebek menggunakan sistem communication-based train control (CBTC) dengan grade of automation (GoA) level 3. 

Sistem CBTC adalah pengoperasian kereta berbasis komunikasi sehingga sistem dapat mengoperasikan kereta dan memproyeksikan jadwal secara otomatis serta disupervisi juga secara otomatis dari pusat kendali operasi atau operation control center (OCC). Sementara itu, grade of automation level 3 atau GoA3 adalah tingkat otomasi operasional kereta di mana pengoperasian dilakukan secara otomatis tanpa masinis, tetapi mensyaratkan masih terdapat petugas operasional di dalam kereta untuk penanganan kondisi darurat dan pelayanan kepada pelanggan. Petugas ini disebut train attendant.

VP Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Joni Martinus mengatakan jika terjadi gangguan sarana atau prasarana, petugas train attendant akan mengambil alih pengoperasian kereta secara manual dengan kecepatan terbatas.

“LRT Jabodebek beroperasi mengikuti jadwal yang telah diunggah ke sistem persinyalan di OCC,” ujarnya dikutip Senin (4/9/2023).

Seluruh operasional LRT Jabodebek kemudian berjalan secara otomatis dengan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Operator pada OCC memantau jalannya LRT dan hanya akan mengintervensi jika ditemukan ketidaksesuaian, seperti adanya keterlambatan, gangguan suplai daya, dan sebagainya.

Penggunaan GoA 3 untuk LRT Jabodebek telah ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KP 765 Tahun 2017. KAI berkomitmen untuk memenuhi ketentuan teknis, operasional, serta keselamatan LRT Jabodebek sesuai dengan kriteria desain yang diatur dalam regulasi pemerintah tersebut.

Dari segi keselamatan, LRT Jabodebek telah terlindungi oleh automatic train protection (ATP) serta interlocking & zone controller. Dengan adanya ATP tersebut, LRT Jabodebek terlindungi dari over speed dan jaminan pengereman yang andal.

Adapun, interlocking & zone controller berfungsi untuk menjamin tidak ada kesalahan pembentukan rute serta mendistribusikan otorisasi kontrol operasional LRT.

Keunggulan dari GoA 3 adalah seluruh operasi kereta dilakukan secara otomatis sehingga mengurangi potensi kecelakaan akibat human error, meningkatkan akurasi jadwal kereta, dan dapat mengoptimalkan jadwal perjalanan.

“Saat ini, KAI dan seluruh stakeholders terus melakukan langkah - langkah progresif terhadap teknologi LRT Jabodebek sehingga saat pengoperasian secara penuh nantinya perjalanan LRT Jabodebek semakin mulus dan presisi dapat melayani masyarakat dengan maksimal,” kata Joni.

Pengoperasian kereta dengan sistem CBTC GoA 3 yang digunakan pada LRT Jabodebek juga telah diterapkan di belahan dunia lainnya, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, Spanyol, Inggris, Brazil, dan beberapa negara lainnya.

Baca Juga: Hari Ketiga Beroperasi, LRT Tuai Keluhan dan Gangguan 




Masih Ada Gangguan 

Sementara ituKAI telah melakukan evaluasi terhadap operasional LRT Jabodebek selama sepekan terakhir. Perseroan mengakui masih ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki dan disempurnakan.

Manajer Humas KAI Divisi LRT Jabodebek Kuswardojo menuturkan beberapa aspek yang perlu disempurnakan adalah pintu kereta yang tidak terbuka dengan baik dan gangguan pada eskalator di stasiun-stasiun. Selain itu, pihaknya juga akan mengevaluasi pengereman kereta yang dikeluhkan sangat menghentak atau terlalu pakem.

Adapun jumlah kejadian atau gangguan pada LRT Jabodebek terus berkurang dari hari ke hari. Pihaknya pun akan terus mengevaluasi operasi moda transportasi ini agar layanan LRT Jabodebek semakin optimal ke depannya.

“Alhamdulillah, jumlah kejadian gangguan semakin hari semakin berkurang. Kami seluruh stakeholder yang bertanggung jawab terhadap kelancaran operasional LRT Jabodebek selalu berupaya melakukan perbaikkan sesegera mungkin dan semaksimal mungkin,” ucapnya.

Sementara itu, KAI mencatat lebih dari 220.000 orang menggunakan layanan LRT Jabodebek sepanjang pekan pertama operasionalnya.

Adapun LRT mengangkut sebanyak 222.800 orang pada periode 28 Agustus-3 September 2023. LRT Jabodebek telah mulai beroperasi pada Senin (28/8/2023) lalu, setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Jumlah penumpang selama 1 minggu pertama tercatat sebanyak 222.800 orang,” tutur Kuswardojo.

Dia merinci jumlah penumpang pada 28 Agustus adalah 6.475 orang dan meningkat menjadi 28.381 orang pada 29 Agustus, 30 Agustus sebanyak 30.519 penumpang, dan 31 Agustus sebanyak 31.051 orang. Selanjutnya, pada 1 September, jumlah penumpang adalah sebanyak 30.739 orang. Jumlah tersebut kemudian meningkat pada 2 September menjadi 41.518 orang dan mencapai puncaknya pada 3 September kemarin dengan 54.117 penumpang.

Baca Juga: Jalan Berliku Mengurai Kemacetan Ibu Kota

Meskipun masih banyak gangguan, namun KAI akan tetap memesan rangkaian kereta LRT Jabodebek dari PT Industri Kereta Api (Persero) atau Inka. KAI Commuter optimistis rangkaian kereta yang dipesan perusahaan dari Inka akan terus mengalami peningkatan kualitas. 

VP Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba menambahkan rangkaian KRL dan LRT memiliki spesifikasi teknis dan desain yang berbeda. Anne menuturkan pihaknya terus berkoordinasi dengan Inka untuk membahas aspek-aspek tersebut. 

Teknologi pada KRL nantinya juga akan berbeda dengan yang digunakan pada LRT Jabodebek. Pihak KAI Commuter juga optimistis kereta yang dihasilkan oleh Inka nantinya akan memiliki kualitas yang baik. 

“Dari spesifikasinya sudah berbeda. Semoga nanti KRL lebih baik,” ujarnya.

Adapun, KAI Commuter telah merencanakan untuk membeli sebanyak total 24 rangkaian KRL dari Inka untuk pemenuhan kebutuhan armada kereta hingga 2027.

KAI Commuter telah menandatangani kontrak dengan Inka untuk pengadaan 16 rangkaian kereta (trainset) baru dalam rangka penambahan kapasitas yang akan dikirimkan secara bertahap pada periode 2025-2026. Selain itu, pihaknya juga akan mendatangkan 8 unit trainset buatan Inka pada 2027. Dengan demikian, total 24 trainset baru akan didatangkan dari PT Inka hingga 2027 mendatang. (Lorenzo Anugrah Mahardhika)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Yanita Petriella

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.