Mengintip Strategi Tahun Kedua Merger Pelindo

4 BUMN pelabuhan di Indonesia telah melaksanakan merger sejak 1 Oktober 2021, hasil positif pun terus ditunjukan dalam berbagai indikator. Jelang menggenapi 2 tahun merger, Pelindo masih fokus efisiensi dan standardisasi pelayanan.

Rinaldi Azka

16 Jul 2023 - 13.53
A-
A+
Mengintip Strategi Tahun Kedua Merger Pelindo

Aktivitas pelabuhan peti kemas Pelindo./BISNIS

Bisnis, JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menargetkan proses efisiensi atau pemurnian bisnis setelah merger dapat rampung hingga 80 persen pada akhir 2023.

Direktur Utama Pelindo Arif Suhartono memaparkan sejak melakukan merger pada 1 Oktober 2021 lalu, kinerja perseroan terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Hal tersebut terutama terlihat dari performa keuangan perusahaan yang mampu mencatatkan kenaikan laba bersih pada 2021 dan 2022.

Arif memaparkan, salah satu fokus Pelindo pada 2023 yakni melakukan pemurnian pada masing-masing lini bisnis perseroan. Hal tersebut dilakukan dengan memecah entitas-entitas yang dimiliki Pelindo dan mengelompokkannya pada segmen bisnis tertentu, baik di sektor terminal peti kemas, non-peti kemas, maupun logistik.

Dia menjelaskan, proses pemurnian bisnis ini harus dilakukan secara perlahan atau gradual. Hal ini mengingat jumlah entitas anak Pelindo yang mencapai lebih dari 40 perusahaan. Dia juga mengatakan, beberapa segmen bisnis entitas tersebut juga ada yang tumpang tindih (overlapping) dengan perusahaan anak lainnya.

Arif melanjutkan, pemurnian bisnis dilakukan secara bertahap atau gradual mengingat proses ini juga akan melibatkan pergantian kepengurusan, terutama pada sisi direksi. Meski demikian, dia optimistis proses ini sebagian besar dapat rampung pada tahun ini. 

"Untuk 2023 ini saya harapkan pemurnian bisnis bisa 70 persen sampai 80 persen terselesaikan,” kata Arif dalam sebuah acara di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Arif melanjutkan, pemurnian bisnis tersebut nantinya dapat meningkatkan efisiensi perusahaan, baik dari sisi keuangan maupun operasional. Dari sisi keuangan, kata Arif, selain mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih, Pelindo juga dapat melakukan konsolidasi keuangan.

Dia menuturkan, Pelindo sudah melunasi utang sebesar hampir Rp10 triliun. Dengan asumsi bunga utang di kisaran 8,5 persen, imbuhnya, Pelindo mampu menghemat pembayaran bunga utang sebesar Rp850 miliar.

Selain itu, setelah merger, Pelindo juga mampu mengatur arus kas (cash flow) dengan lebih optimal. Menurut Arif, hal ini dapat dilakukan karena kini perusahaan dapat menekan belanja modal atau investasi dengan memaksimalkan seluruh fasilitas yang kini terintegrasi di bawah satu perusahaan.

“Sekarang investasi itu cara terakhir untuk meningkatkan kapasitas dan performance. Kami bisa mengecek fasilitas yang ada excess capacity. Kalau ada, bisa direlokasi saja ke fasilitas itu,” terangnya.

Sebagai contoh, PT Pelindo Solusi Logistik (SPSL) sebagai subholding BUMN Pelindo, terus melakukan upaya transformasi operasi dan layanan di tahun kedua pasca penggabungan Pelindo. Salah satunya, melalui standardisasi operasi logistik di lapangan Cargo Consolidation and Distribution Center (CCDC) 100 di Makassar.

“Saat ini kami tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan layanan, sebagaimana yang telah ditargetkan Pelindo sebagai Holding, melalui peningkatan kualitas dalam proses bisnis, pengimplementasian sistem teknologi informasi, serta peningkatan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia sebagai tindak lanjut dari proses merger.” kata Direktur Utama SPSL Joko Noerhudha, dikutip Minggu (16/7/2023).

Baca Juga : Jalur Mulus Utang Negara

Salah satu wujud dari implementasi Standardisasi Operasi Logistik yang dilakukan adalah transformasi operasi di lapangan CCDC 100 di Makassar, yang dikelola oleh PT Multi Terminal Indonesia. Tahap selanjutnya akan dilakukan Standardisasi Operasi Logistik di Lapangan Pasoso dan Gudang CDC Banda yang juga dikelola oleh PT Multi Terminal Indonesia serta Depo Belawan yang dikelola oleh PT Prima Indonesia Logistik.

Joko Noerhudha menambahkan, sebagai wujud konkret, SPSL melakukan standardisasi operasi logistik di berbagai area meningkatkan pelayanan kepada pelanggan melalui efektivitas proses bisnis, sistem layanan, perbaikan dan optimalisasi fasilitas maupun peralatan, serta pembaharuan dan pelaksanaan pelatihan secara berkala.

“Kami fokus menerapkan Standardisasi Operasi Logistik di lapangan CCDC 100 Makassar PT Multi Terminal Indonesia. Sebelum dilakukan transformasi operasi, lapangan CCDC 100 Makassar belum memiliki sistemisasi di lapangan, penataan dan pengoperasian yang tidak terstandarisasi serta belum menerapkan HSSE dan K3 dengan baik,” ujar Joko.

Joko Noerhudha menjelaskan, SPSL telah melakukan transformasi operasi di lapangan CCDC dengan melakukan re-layout lapangan, mengimplementasikan sistem operasi berupa YOS (Yard Operating System) dan billing system teknis layanan di operasional, menyediakan peralatan untuk menunjang kegiatan dan layanan di lapangan serta memastikan ketersediaan alat saat dibutuhkan, menyediakan infrastruktur pendukung berupa site office (terpadu satu atap) dan area parkir kendaraan, memperbaharui marka ground slot menyesuaikan dengan layout yang baru.

Tak hanya itu, SPSL juga terus melakukan upaya dalam meningkatkan awareness dan penerapan aspek K3 melalui pemasangan CCTV guna melakukan pemantauan kondisi lapangan secara realtime, pemasangan rambu K3, penggunaan APD bagi petugas dan buruh, dan melakukan safety briefing atau tool box meeting secara berkala sehingga akan semakin mengurangi risiko kecelakaan kerja di lapangan.

Baca Juga : Divestasi Vale dan Pilihan Tak Menarik Bagi MIND ID

Hasil dari pelaksanaan transformasi di lapangan CCDC 100 Makassar ini dapat terlihat pada peningkatan kapasitas dan produksi lapangan, serta adanya tanggapan positif dari para pelanggan baik dari sisi tingkat pelayanan maupun dari sisi HSSE di lapangan.

Transformasi ini menjadi wujud komitmen SPSL Group untuk dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pengguna jasa. Transformasi ini akan meningkatkan kepastian waktu layanan (fixed time), kepastian biaya (fixed cost), dan kepastian keamanan (safety) atas layanan logistik yang diberikan.

“Secara keseluruhan nilai tambah bisnis logistik ini akan terus ditingkatkan salah satunya dengan kolaborasi bersama para stakeholder dan pelaku industri logistik sebagai inisiatif strategis agar mampu mewujudkan service excellence di rantai logistik dan menjadi solusi bagi permasalahan logistik nasional,” terang Joko.

Ciptakan Arus Barang

Di sisi lain, Pelindo akan terus mengembangkan model bisnis integrasi pelabuhan dan kawasan industri seiring dengan upaya perseroan menciptakan nilai tambah dalam pelayanannya.

Arif menuturkan upaya integrasi ini merupakan salah satu upaya perseroan dalam menciptakan aktivitas lalu lintas tambahan (traffic) di kawasan pelabuhan. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan lini bisnis Pelindo yang menjual pelayanan di kawasan pelabuhan bagi pelanggan eksternal.

“Kalau saat ini Pelindo hanya sebagai tempat lewat untuk pemilik kargo, ke depannya kami harus jadi traffic creator,” jelasnya.

Dia menyebut, salah satu contoh kesuksesan model integrasi ini adalah pada proyek Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur. Dalam proyek tersebut, Pelindo bekerja sama dengan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) untuk mengintegrasikan layanan pelabuhan dan juga kawasan industri.

Menurutnya, integrasi antara pelabuhan dan kawasan industri akan menghasilkan bisnis yang saling menguntungkan. Arif mengatakan, pelaku industri di kawasan tersebut kini dapat mempersingkat waktu pengiriman atau penerimaan barang-barang karena berdekatan dengan pelabuhan.

Baca Juga :Mengintip di Balik Alasan Divestasi 2 Ruas Tol Trans Sumatra

Hal tersebut akan berbeda dengan pelabuhan lain, seperti Tanjung Priok. Arif menuturkan, kawasan industri yang didukung oleh Pelabuhan Tanjung Priok umumnya berada di wilayah Bekasi dan Banten, seperti Cikarang, Cibitung, dan Cikande.

Adapun, salah satu daerah yang tengah dikembangkan dengan model integrasi adalah Pelabuhan Kijing di wilayah Kalimantan Barat. Arif menerangkan, Pelindo memiliki lahan seluas 200 hektare di Pelabuhan Kijing.

Dari jumlah tersebut, 70 hektare akan digunakan untuk kegiatan kepelabuhanan, sementara 130 hektare yang tersisa akan didorong untuk pembangunan kawasan industri. Arif menuturkan, seluruh kebutuhan industri, mulai dari tenaga kerja, mesin-mesin produksi dan metodenya, serta hal terkait lainnya dapat dipindahkan ke kawasan industri tersebut.

"Kami akan mendorong industri-industri berbasis sumber daya alam lokal, seperti minyak sawit [CPO] dan alumina, untuk masuk ke kawasan industri tersebut. Hal ini sesuai dengan upaya pemerintah yang tengah menggalakan program hilirisasi industri di daerah-daerah," katanya.

Meski demikian, imbuhnya, upaya integrasi pelabuhan dan kawasan industri ini memerlukan mitra usaha dari sektor swasta. Hal tersebut karena Pelindo tidak memiliki keahlian yang optimal dalam pembangunan dan pengembangan kawasan industri.(Maria Yuliana Benyamin, Lorenzo Anugrah Mahardhika)

Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.