Free

Mengungkit Daya Saing Produk Karet di Pasar Ekspor

Nilai pengapalan produk karet terus mengalami penurunan seiring dengan tekanan sejak beberapa tahun terakhir. Fasilitas fiskal berupa KITE diharapkan bisa mengungkit daya saing di pasar ekspor.

Fatkhul Maskur

15 Feb 2024 - 10.57
A-
A+
Mengungkit Daya Saing Produk Karet di Pasar Ekspor

Bea Cukai Kalbagbar berkomitmen untuk terus mendukung industri berorientasi ekspor dengan memberikan pelayanan dan asistensi perijinan secara cepat dan tanpa biaya. Foto DJBC

Bisnis, JAKARTA—Nilai pengapalan produk karet terus mengalami penurunan seiring dengan tekanan sejak beberapa tahun terakhir. Fasilitas fiskal berupa KITE diharapkan bisa mengungkit daya saing di pasar ekspor.

Salah satu pabrikan yang mendapatkan fasilitas KITE (Kemudahan Impor untuk Tujuan Ekspor) adalah PT New Kalbar Processors, produsen crumb rubber atau serbuk karet di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (5/2/2023).

New Kalbar Processos telah berdiri sejak 1973, dan menjadi bagian dari PT Jambi Waras Group sejak 1985 dengan izin usaha tetap BKPM No. 36/T/Industri/1985, dan mempunyai angka pengenal Eksportir Terbatas No. 01/APET/1986/PMDM.

"Penerbitan fasilitas KITE ini kurang dari 1 jam setelah direktur perusahaan, Benny Singgih Legowo, mempresentasikan proses bisnis perusahaannya," ujar Kakanwil Bea Cukai Kalimantan Bagian Barat (Kalbagbar) Imik Eko Putro.

New Kalbar Processors bergerak di bidang usaha pengolahan crumb rubber atau serbuk karet, yaitu karet yang dihancurkan dari limbah produk karet.

Produk ini dapat digunakan untuk campuran produk karet lain, seperti karpet karet, karet kompon, sol sepatu karet, campuran pada konstruksi bangunan, campuran aspal, dipakai di lapangan futsal, hingga memenuhi kebutuhan arena pacuan kuda.

"Pemberian fasilitas fiskal berupa perizinan KITE pembebasan ini bertujuan agar perusahaan dapat meningkatkan daya saing produknya di pasar global, sehingga dapat meningkatkan ekspor dan memberikan dampak ekonomi positif lainnya," katanya.

Dengan fasilitas KITE pembebasan, perusahaan akan mendapatkan pembebasan bea masuk, serta pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah terutang tidak dipungut atas impor atau pemasukan barang dan bahan dari luar daerah pabean untuk diolah, dirakit, atau dipasang pada barang lain dengan tujuan untuk diekspor.

Baca Juga:

Ban Sepeda Gravity Continental Berbahan Karet Lestari Indonesia

EKSPOR MELEMAH

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekspor komoditas karet sepanjang 2023 kembali melemah sehingga angka surplus dagangnya pun semakin menipis.

Ekspor karet dengan kode HS 40 sepanjang tahun lalu hanya US$5,096 miliar (-20%) Adapun impornya US$2,608 miliar (-8%). Alhasil, surplusnya menipis lagi menjadi hanya US$2,488 miliar.

Dilihat dari tujuan pengapalannya, Amerika Serikat merupakan pasar terbesar produk karet Indonesia (31%), diikuti oleh Jepang (16%), China (6%), India (3%), dan Korea Selatan (3%).

Ekspor karet didominasi oleh karet alam, balat, dan dan getah alam sejenisnya sekitar 55%. Ban pneumatik baru dari karet menempati peringkat kedua sekitar 29%.

Indonesia juga mengekspor dalam wujud produk karet reklamasi bentuk asal atau dalam bentuk pelat, lembaran atau strip (kode HS 4003) dengan kontribusi sekitar 0,1%.

Adapun limbah, kupas dan skrap dari karet lunak serta bubuk dan butirannya (kode HS 4004) menyumbang ekspor sekitar 0,01%. Kesemuanya itu mengalami penurunan ekspor.

Baca Juga:

Senjakala Pabrik Karet di Sumatera

SEJUMLAH TEKANAN

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan strategis yang telah memberi kontribusi sangat berarti bagi perekonomian Indonesia. Namun, sejak beberapa tahun terakhir menghadapi banyak permasalahan.

Selain rendahnya harga, perkebunan karet terus berjibaku menghadapi serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis, hingga tekanan dampak pandemi Covid-19.

Produksi karet kering pada 2022 anjlok 10,78% menjadi hanya 2.717.020 ton, seiring dengan menyempitnya luas areal tanaman dari 129.254 hektare menjadi hanya 128.764 hektare (-0,4%).

Hasil analisis menunjukkan bahwa selama periode 2017-2021, produksi dan produktivitas karet menunjukkan tren penurunan dengan masing-masing sebesar 4,03% per tahun dan 3,61% per tahun.

Jurnal Penelitian Karet dalam Outlook Komoditas Karet Alam Indodnesia 2023 menyebutkan, produksi dan produktivitas karet periode 2017-2021 menunjukkan tren penurunan masing-masing 4,03% per tahun dan 3,61% per tahun.

Hal yang sama juga terjadi pada kinerja ekspor karet, yang mengalami penurunan 7,33% per tahun.

Namun, pada proyeksi jangka panjang 2025, harga karet alam TSR 20, diproyeksikan akan kembali meningkat mencapai US$1,5 per kg karet kering, dan diproyeksikan terus meningkat pada 2027 menjadi US$2,5 per kg.

Untuk menangkap peluang tersebut, para pemangku kebijakan dinilai perlu melakukan langkah kongkret untuk meningkatkan produksi dan produktivitas karet.

Dalam hal peremajaan tanaman, perkebunan karet membutuhkan dukungan kebijakan pembiayaan untuk mengakselerasi penggunaan klon-klon karet berproduksi tinggi dan tahan penyakit tanaman karet.

Dalam hal pasar, pemerintah perlu peningkatan serapan konsumsi karet baik di dalam maupun pasar ekspor. Dukungan fasilitas berupa KITE merupakan salah satunya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.