Menilik Alasan Pengembang OCBD Bangun Akses Langsung Jalan Tol BORR

Aksesibilitas merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pertimbangan konsumen untuk memilih hunian idaman. Hal inilah yang menjadi faktor para pengembang membangun hunian mereka di dekat jalan tol. Bahkan, pengembang pun mengajukan pembukaan akses langsung jalan tol.

Yanita Petriella

19 Apr 2024 - 01.06
A-
A+
Menilik Alasan Pengembang OCBD Bangun Akses Langsung Jalan Tol BORR

Tol BORR. /dok PT Marga Sarana Jabar

Bisnis, JAKARTA – Hunian dengan akses langsung jalan tol menjadi incaran para pencari rumah. 

Hal ini membuat dalam beberapa tahun terakhir, pengembang ramai mengajukan kepada Pemerintah untuk membangun akses langsung yang menghubungkan jalan tol ke kawasan properti mereka. 

Salah satunya, PT Olympic Bangun Persada bersama dengan PT Marga Sarana Jabar tengah mengebut penyelesaian konstruksi akses langsung jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR) yang menghubungkan kawasan One Central Business District (OCBD) Bogor. 

Pembangunan konstruksi yang dilakukan yakni peningkatan kapasitas Simpang Jalan Raya Bogor – Jalan Sholeh Iskandar – Jalan Tol BORR di on ramp Kedung Halang yang dikenal dengan sebutan zero kilometer from toll road. 

Saat ini, progres pembangunan akses langsung jalan tol mencapai 80% dan ditargetkan dapat beroperasi pada Juli mendatang. 

Vice CEO PT Olympic Bangun Persada Imelda Fransisca mengatakan biaya konstruksi pembangunan akses langsung jalan tol ini mencapai Rp30 miliar.

“Tanah yang digunakan untuk membangun akses langsung jalan tol ini milik kami yang kami hibahkan ke Pemkot Bogor. Biaya konstruksinya murni dari kami senilai Rp30 miliar,” ujarnya kepada Bisnis saat ditemui, Kamis (18/4/2024). 

Menurutnya, dengan beroperasinya akses langsung dari jalan tol BORR di gerbang tol Kedung Halang ini akan mengerek penjualan hunian di kawasan OCBD. Adapun sepanjang tahun ini, pengembang menargetkan dapat meraup marketing sales Rp200 miliar dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp150 miliar. Hingga kuartal I, OBP berhasil meraup marketing sales senilai Rp30 miliar. 

“Tentu adanya akses jalan tol ini meningkatkan penjualan kami. Terlebih di kuartal IV tahun ini, kami ada kerjasama dengan PT Sumitomo Forestry Indonesia bangun klaster rumah tapak,” katanya. 

Selain berdampak dari sisi penjualan, akses langsung jalan tol BORR ini juga akan mengerek harga properti residensial di kawasan OCBD sebesar 20%. 

“Saat ini tinggal penyelesaian di ujung jalan saja. Jadi targetnya konstruksi di Mei selesai, kemudian sertifikat laik fungsi (SLF) selama 1 hingga 2 bulan dan sepenuhnya bisa beroperasi di Juli. Kami terus kebut penyelesaiannya,” ucap Imelda. 

CEO PT Olympic Bangun Persada (OBP) Norman Edward Sebastian menambahkan pihaknya berharap penyelesaian pembangunan konstruksi akses langsung dari kawasan CBD menuju tol BORR ini bisa berjalan sesuai jadwal. 

“Ini diharapkan dapat selesai tepat waktu agar bisa segera memberikan manfaat, tidak hanya bagi para penghuni di kawasan OCBD, namun juga warga masyarakat di Kota Bogor pada umumnya,” tuturnya. 

Menurutnya, rampungnya proyek pembangunan akses jalan langsung Tol BORR ini akan memudahkan mobilitas masyarakat sekitar yang hendak menuju Tol BORR tanpa harus melewati kepadatan yang biasanya terjadi di Jalan KS Tubun (Jalan Raya Bogor – Jakarta) terutama pada jam-jam sibuk. 

“Ini merupakan keuntungan bagi mereka yang memilih tinggal di kawasan OCBD,” ujar Edward. 

Baca Juga: Melirik Tren 'Jualan' Pengembang Ajukan Akses Gerbang Jalan Tol


Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto berharap akses tol yang dikerjakan sejak Agustus 2023 ini dapat rampung lebih cepat.

“Akses jalan tol ini dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat menuju kawasan Bogor,” katanya. 

Direktur Utama PT Marga Sarana Jabar (MSJ) Dedi Krisnariawan Sunoto menargetkan trafik kendaraan yang melintasi jalan tol BORR setiap harinya mencapai 50.000 unit. Diharapkan dengan adanya akses langsung jalan yang menghubungkan kawasan OCBD dengan Tol BORR dapat meningkatkan trafik kendaraan.

“Untuk pengoperasian awal kami harapkan akan ada 300 kendaraan yang melintasi akses jalan tol ini lalu dapat meningkat menjadi 3.000 kendaraan per hari mendatang,” ucapnya kepada Bisnis.  

Dedi tak menampik banyak pengembang yang mengajukan akses langsung jalan tol untuk meningkatkan penjualan properti. Namun demikian, di sepanjang jalan tol BORR hanya OBP yang mengajukan akses langsung. 

“Di ruas lain milik Jasa Marga banyak mengajukan akses langsung, tetapi di sepanjang tol BORR ini hanya kawasan OCBD saja yang memiliki akses langsung jalan tol. Ini karena ada aturan jarak pengajuan akses langsung, batasannya 3 kilometer,” tuturnya. 

Dia menambahkan hasil dari kerja sama dengan OBP dalam pembangunan akses langsung jalan tol ini, akan mengelola smart parking di kawasan OCBD melalui PT Jasamarga Toll Road Operator. Selain itu, saat ini pihak PT Jasamarga Related Business (JMRB) tengah menjajaki pengelolaan properti baik berupa residensial maupun area komersial food and beverage (F&B). 

“Ini tengah dibahas oleh JMRB bentuk kerjasama lainnya selain smart parking,” terang Dedi.

Untuk diketahui, PT Marga Sarana Jabar merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) berbentuk usaha patungan yang memegang konsesi pengelolaan jalan tol BORR dan didirikan pada tanggal 11 Mei 2007.

Komposisi saham PT Marga Sarana Jabar sebesar 55% dimiliki oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, BUMN pengelola jalan tol di Indonesia, sedangkan 45% dimiliki oleh PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk yang merupakan perusahaan swasta pertama di Indonesia yang bergerak di bidang jalan tol. Konsorsium mengusahakan jalan tol BORR yang meliputi pendanaan, perencanaan teknik pelaksanaan konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan. 

Jalan Tol BORR dirancang sepanjang 13,25 kilometer yang terbagi menjadi beberapa seksi. Untuk seksi 1 ruas Sentul Selatan – Kedung Halang sepanjang 3,70 kilometer telah beroperasi sejak tahun 2009. Lalu seksi 2A ruas Kedung Halang – Kedung Badak sepanjang 1,55 kilometer beroperasi pada 2014. 

Kemudian, seksi 2B Ruas Kedung Badak – Simpang Yasmin sepanjang 2,65 kilometer beroperasi di tahun 2018. Selanjutnya, seksi 3A ruas Simpang Yasmin – Simpang Semplak sepanjang 2,85 kilometer beroperasi di tahun 2021. Sementara itu, seksi 3B ruas Simpang Semplak – Juntion Salabenda sepanjang 2,5 kilometer direncanakan akan dibangun pada tahun ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.