Menilik Jejak Perubahan Peta Kepemilikan BIRD

Purnomo Prawiro dan putranya Adrianto Djokosoetono gencar memborong saham PT Blue Bird Tbk (BIRD). Ubah peta kepemilikan?

Anggara Pernando & Rahmi Yati
Sep 15, 2021 - 7:05 AM
A-
A+
Menilik Jejak Perubahan Peta Kepemilikan BIRD

Direktur PT Blue Bird Tbk Andre Djokosoetono (dari kiri), didampingi Pimpinan Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto dan Presiden Direktur PT Jurnalindo Aksara Grafika Lulu Terianto saat berkunjung ke kantor redaksi harian Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (4/10)./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis, JAKARTA — Aksi borong saham PT Blue Bird Tbk. oleh Purnomo Prawiro dan putranya Adrianto Djokosoetono menimbulkan tanda tanya seputar peta kepemilikan perusahaan di bidang bisnis taksi tersebut.

Surat bertanggal Minggu (12/9), dikirimkan ke Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan. Sang pengirim surat adalah Jusuf Salman, Sekretaris PT Blue Bird Tbk. (BIRD).

Dalam penjelasannya, Jusuf menjadi penerima kuasa khusus dari Purnomo Prawiro. Dia diminta untuk melaporkan kepemilikan dan perubahan kepemilikan atas saham yang dimiliki generasi kedua konglomerasi Blue Bird itu ke otoritas.

Kuasa khusus itu diberikan ke Jusuf untuk memuluskan aksi korporasi Purnomo dan anaknya di lantai bursa memborong saham BIRD. Dalam surat bertanggal 12 September 2021 itu, Purnomo menyebutkan telah memborong 46.400 lembar saham BIRD pada 8 dan 9 September 2021.

Aksi belanja saham dalam dua hari perdagangan bursa pekan lalu itu, dilakukan di harga Rp1.145 hingga Rp1.170. Total saham yang dibeli dalam 2 hari perdagangan ini adalah 1,34 juta lembar atau setara Rp1,56 miliar.

Sebelumnya, pada 7 September, Purnomo juga melaporkan telah memborong 2,36 juta lembar saham BIRD. Transaksi yang dilakukan pada 3, 6, dan 7 September 2021 itu dilakukan dalam rentang harga yang lebih murah, yakni Rp1.075 hingga Rp1.130.

“Tujuan dari transaksi untuk investasi,” ulas Purnomo.

Aksi borong juga dilaporkan Purnomo pada 20 Juni 2021. Saat itu, dia menyebutkan membeli 2,53 juta lembar saham BIRD dari lantai bursa. Saham dibeli dalam rentang Rp1.285 hingga Rp1.395 per lembar. Pembelian dilakukan dalam 3 hari perdagangan yakni 16, 17, dan 18 Juni 2021.

Purnomo sebelumnya adalah Direktur Utama Blue Bird. Posisi itu dia sandang sejak perusahaan berdiri pada 2001.

Meski demikian, jabatan direksi sudah dia jalankan semenjak 1975, sejak masih bernama Blue Bird Taxi. Peran direktur operasional diambil setelah sang kakak, Chandra Suharto Djokosoetono, lebih banyak berkiprah di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Blue Bird mulanya adalah perusahaan taksi per jam dengan nama Chandra Taxi. Didirikan oleh Mutiara Fatimah Djokosoetono, ibu dari Chandra dan Purnomo. Perusahaan itu dimulai setelah sang suami, yang juga pendiri PTIK, wafat karena sakit. Pada awal pendirian, Chandra bertindak sebagai supir taksi sedangkan Purnomo sebagai operator telepon.

Perusahaan taksi ini berkembang pesat setelah mendapatkan izin dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sebagai angkutan resmi. Blue Bird kemudian mengenalkan sistem tarif berdasarkan kilometer yang mengubah industri taksi Tanah Air. Pada 1985, perusahaan taksi itu telah memiliki lebih 2.000 armada.

Mutiara sendiri memiliki tiga anak. Selain dua anak laki-laki, Mutiara memiliki seorang putri yakni Mintarsih Abdul Latief, sang anak kedua. Mintarsih menjalankan perusahaannya sendiri, Gamya, meski tercatat sang kakak beberapa kali menggugat Purnomo dan Blue Bird.

REGENERASI

Karier Purnomo sebagai Direktur Utama berakhir pada 2019. Dia kemudian digantikan putrinya, Noni Sri Ayati Purnomo.

Meski demikian, Noni hanya 2 tahun memimpin BIRD sebagai direktur utama. Dalam RUPS akhir Agustus 2021 lalu, BIRD mengangkat Sigit Priawan Djokosoetono sebagai Direktur Utama, sedangkan Noni didapuk sebagai komisaris utama.

Selain Noni, dua anak Purnomo lainnya juga berkiprah di BIRD, yakni Sri Adriyani Lestari Purnomo sebagai komisaris serta Adrianto Djokosoetono, Wakil Direktur Utama.

Saat sang Ayah gencar belanja saham BIRD, Adrianto atau Andre melakukan langkah serupa. Suami dari artis Titi Rajo Padmaja itu meningkatkan kepemilikannya di BIRD dari semula tidak wajib disampaikan menjadi pemegang saham di atas 5%.

Adrianto tercatat memborong BIRD pada 2 Juni, untuk kemudian berlanjut pada 10, 14, 15, 16, hingga 17 Juni 2021.

"Pada dasarnya pembelian dilakukan karena harga saat ini tidak mencerminkan fundamental dan potensi BIRD," kata sosok yang lebih akrab dipanggil Andre itu kepada Bisnis, Selasa (14/9/2021).

Dia juga memastikan tidak ada alasan khusus meningkatkan kepemilikan menjadi di atas 5%. "Kebetulan sebelumnya sudah hampir 5%," katanya.

Aksi kompak ayah dan anak membuat saham BIRD di publik makin berkurang. Per akhir Agustus 2021 atau sebelum Purnomo memborong saham BIRD, pemegang saham perusahaan taksi terpadu ini terdiri atas Indra Priawan Djokosoetono (5,8%), Kresna Priawan (6,2%), Purnomo Prawiro (10%), Sigit Priawan (6%), Pusaka Citra (31,5%).

Sementara itu, pemegang saham di bawah 5% sebanyak 28%. Kepemilikan oleh masyarakat ini turun dibandingkan per 31 Desember 2020, yang sebesar 28,4%.

Untuk diketahui, kepemilikan oleh masyarakat ini juga memasukkan saham direksi dan komisaris. Tercatat jajaran direksi dan komisaris lainnya yang memegang saham BIRD adalah Noni Sri Ayati Purnomo (4,8%), Sri Adriyani (2,5%), serta Bayu Priawan Djokosoetono (0,1%).

Saat terjadi pergeseran peta kepemilikan di internal keluarga pendiri, langkah bisnis terus dilakukan perusahaan. Selain penyediaan armada taksi listrik, perusahaan juga tengah berupaya meningkatkan penetrasi di bisnis kargo.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. yang terpilih dalam RUPS lalu, Sigit Djokosoetono, mengatakan sejak diluncurkan pertama kali, layanan pengiriman ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat.

“Layanan logistik Blue Bird Kirim masih tergolong baru dalam keragaman layanan kami, oleh sebab itu masih banyak ruang untuk pengembangan,” katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Sigit menyebut hadirnya layanan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk selalu mendengar kebutuhan masyarakat yang terus berubah, dan kemudian mewujudkannya melalui inovasi di layanan perusahaan.

Saat ini, sambungnya, program kargo melalui Bluebird Kirim telah makin berkembang baik aksesibilitas melalui kerja sama strategis dengan berbagai partner, mulai dari PAXEL, Fresh Box, KAI, hingga yang terbaru Shopee Indonesia. Kendati demikian, Sigit mengaku belum bisa membandingkan bagaimana perkembangan bisnis pengiriman barang ini dibandingkan layanan intinya mengangkut penumpang.

Hingga 30 Juni 2021, BIRD melaporkan pendapatan neto Rp1,04 triliun. Lebih rendah dari periode yang sama sebelumnya sebesar Rp1,15 triliun.

Meski pendapatan turun, perusahaan berhasil memperkecil kerugian menjadi Rp30,06 miliar dari sebelumnya Rp94,96 miliar. Penurunan kerugian itu didominasi penurunan beban langsung dan penurunan beban usaha.

Meski kerugian menurun, aset perusahaan juga menurun tajam, yakni dari Rp7,25 triliun menjadi Rp6,7 triliun. Penurunan aset itu utamanya berkurangnya aset tetap dari Rp5,66 triliun menjadi Rp5,28 triliun.

Harga saham BIRD pada penutupan perdagangan Selasa (14/9), tercatat melemah 0,83% ke level Rp1.200 per lembar. Akan tetapi, posisi ini jika dihitung sepanjang tahun berjalan, melemah 12,09% dari level Rp1.365 per lembar. Sementara itu, harga saham BIRD dalam 5 tahun terakhir, diperhitungkan sebelum pandemi Covid-19 menerjang, berada pada level di atas Rp2.000 hingga Rp5.000-an.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar