Free

Menjejaki Langkah Real Estat Eropa Menuju Net Zero Carbon

Eropa sedang bgerada dalam trek yang tepat menuju pembangunan properti berkelanjutan atau real estat hijau (net zero carbon). Sementara itu, kalangan pengembang di Indonesia dinilai belum cukup peduli tentang pembangunan properti berkonsep "hijau".

M. Syahran W. Lubis

8 Mar 2022 - 18.27
A-
A+
Menjejaki Langkah Real Estat Eropa Menuju Net Zero Carbon

Ilustrasi properti berwawasan lingkungan./Green B uilding Council Inggris

Bisnis, JAKARTA – Lanskap peraturan lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) yang berkembang pesat di seluruh Eropa mendorong perubahan besar dalam cara investor perlu melihat real estat.

Setelah Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) tahun lalu, target Net Zero Carbon (NZC) menjadi hampir universal, dengan 90% dari pertumbuhan domestik bruto (PDB) global sekarang dicakup oleh beberapa jenis target net zero, menurut Net Zero Carbon Tracker.

Untuk mencapai nol bersih pada 2050, portofolio real estat harus mengurangi separuh emisi pada 2030, sehingga sekarang saatnya beraksi. Memang, bukti anekdot awal di Eropa menunjukkan kumpulan pembeli sudah menyusut jika penjual menunjukkan data di bawah standar tentang lintasan nol bersihnya.


Berikut adalah lima bidang utama yang perlu menjadi fokus investor pada tahun-tahun mendatang sebagaimana dilansir laman resmi konsultan properti global JLL (Jones Lang LaSalle):

1. Menggandakan data

Kurangnya data sering disebut sebagai penghalang utama untuk memahami jejak karbon dari suatu aset atau portofolio dan bagaimana menjamin transisi NZC ini akan menjadi masalah utama yang dihadapi manajer investasi tahun ini.

Alat seperti Carbon Risk Real Estate Monitor (CRREM) kini hadir di pasar dan dapat membantu memahami lintasan karbon suatu aset dengan secara jelas menunjukkan tahun di mana aset tersebut menjadi aset terdampar dan jalur dekarbonisasi potensial.

2. Membangun kemitraan yang sukses

Tidak ada yang dapat mencapai nol bersih sendirian, sehingga kemitraan menjadi keharusan. Sayangnya bagi investor, karbon operasional aset mereka sangat bergantung pada penyewa.

Mencapai nol bersih memerlukan transparansi yang lebih besar antara penyewa dan tuan tanah untuk memantau dan berbagi data konsumsi energi.

Melibatkan penyewa di jalur ini bisa menjadi tantangan, tetapi pemimpin pasar adalah pemilik yang mampu mencapai skenario win-win untuk kedua belah pihak yaitu apabila penyewa mengurangi emisi karbon, mereka menerima sewa yang lebih menguntungkan.

Ilustrasi bangunan hijau atau berwawasan lingkungan./Bank Dunia

3. Memahami Taksonomi UE & SFDR

Diperkenalkan pada pertengahan 2020, Taksonomi Uni Eropa (UE) memberikan bahasa yang sama kepada bisnis dan investor untuk mengidentifikasi sejauh mana kegiatan ekonomi dapat dianggap berkelanjutan secara lingkungan.

Taksonomi UE untuk kegiatan berkelanjutan (taksonomi hijau) adalah sistem klasifikasi yang dibuat untuk memperjelas investasi mana yang ramah lingkungan, dalam konteks Kesepakatan Hijau Eropa.

Tujuan taksonomi ini antara lain membantu investor membuat pilihan yang lebih ramah lingkungan. Investasi dinilai berdasarkan enam tujuan: mitigasi perubahan iklim, adaptasi perubahan iklim, ekonomi sirkular, polusi, efek pada air, dan keanekaragaman hayati.

Salah satu tujuan utama dari taksonomi adalah realokasi aliran modal ke investasi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ini menjadi bahasa boilerplate selama proses penjualan sepanjang tahun ini. Hal itu menjadi persyaratan uji tuntas yang diperlukan dalam proses transaksional, terutama pengembangan inti dan baru, pada akhir 2022.

Selain itu, semua pengelola dana harus mematuhi SFDR (Sustainable Finance Disclosure Regulation/Peraturan Pengungkapan Keuangan Berkelanjutan) karena periode pelaporan pertama adalah akhir Desember 2022.

Menurut SFDR, dana real estat yang mempromosikan karakteristik lingkungan dan/atau sosial dan yang memiliki investasi berkelanjutan sebagai tujuan mereka, sekarang harus mengungkapkan bagaimana dan sejauh mana investasi dalam dana ini sesuai dengan Taksonomi UE.

5. Mengatasi 'S' dari LST

Investor akan semakin ditanyai bagaimana mereka menangani S dari LST. Survei LST Global oleh BNP Paribas pada 2019 menemukan bahwa 46% investor yang disurvei (347 investor institusi) berpendapat bahwa aspek sosial paling sulit untuk dianalisis dan disematkan dalam strategi investasi.

Taksonomi Sosial UE akan dirilis tahun ini yang dimasukkan ke dalam Taksonomi Lingkungan yang ada untuk membentuk satu taksonomi menyeluruh. Ini akan dengan jelas mendefinisikan apa yang merupakan kontribusi substansial untuk tujuan sosial dan menawarkan kejelasan bagi investor.

Apakah kegiatan real estat berkelanjutan secara sosial atau tidak akan menjadi semakin penting dan, seperti Taksonomi UE, para investor yang bersiap lebih awal daripada nanti memiliki permulaan.

6. Meningkatkan dan melatih karyawan

Tanggung jawab aksi iklim tidak bisa lagi semata-mata dibebankan pada para profesional. Sangat penting bahwa setiap orang di seluruh industri memiliki tanggung jawab. Lebih banyak waktu perlu dihabiskan untuk melatih dan meningkatkan keterampilan anggota tim tentang keberlanjutan di lingkungan binaan untuk memastikan semua orang, mulai dari manajer aset hingga penasihat, siap menghadapi tantangan besar pada masa mendatang.

Kondisi di Indonesia

Melihat Eropa yang bisa disebut begitu siap, bagaimana kondisi di Indonesia berbanding terbalik. Kenyataannya, sebagaimana diungkapkan Ignesjz Kemalawarta, Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) yang juga Ketua Dewan Pengawas Green Building Council Indonesia (GBCI), kalangan pengembang di negara kita belum sepenuhnya peduli mengenai properti hijau atau green bulding yang ramah lingkungan.

Hal itu, menurut dia, merupakan masalah tersendiri yang harus dihadapi dalam pengembangan real estat yang rendah energi dan emisi karbon.


Ignesjz mengutarakan akibat kalangan pengembang umumnya belum peduli mengenai properti hijau, pembangunan properti dengan konsep berkelanjutan pun belum masuk perencanaan awal.

Dia mengakui bahwa untuk tahap awal pembangunan properti berwawasan lingkungan karena rendah energi dan emisi karbon akan menambah biaya investasi sekitar 4% hingga 5% dibandingkan dengan pembangunan yang berlangsung sebagaimana biasa dilakukan selama ini.

Akan tetapi, kata Ignesjz, penambahan biaya itu kemudian akan menghasilkan berbagai penghematan ketika properti itu mulai dioperasikan. Dengan demikian, dalam beberapa tahun dicapai “titik impas” dan untuk tahun-tahun berikutnya didapatkan keuntungan dari sisi biaya karena gedung beroperasi dengan lebih efisien.

“Memang terdapat tambahan biaya sekitar 4% sampai 5%, tetapi itu akan diimbangi dengan penghematan biaya ketika bangunan tersebut beroperasi. jadi, kelebhihan biaya dibuang ke peralatan yang penghematan, bukan ke kemewahan. Sudah ada contoh gedung yang mengembalikan kelebihan biaya itu dalam 4 tahun,” paparnya.

Dia mengingatkan bahwa pemerintah bakal mengenakan pajak karbon untuk bidang-bidang yang tidak ramah lingkungan termasuk gedung-gedung atau properti. Ketentuan mengenai pajak karbon itu akan diberlakukan secara bertahap dan untuk tahap awal terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulai 1 April 2022.

Hambatan lain yang masih harus diatasi untuk memacu pembangunan real estat “hijau”, menurut Ignesjz yang juga Head of Corporate Governance & Sustainability Sinar Mas Land, pemerintah belum memberikan insentif bagi pengembang yang membangun properti dengan menerapkan konsep hemat energi dan rendah emisi karbon.

Dia mengemukakan insentif itu dapat saja diberikan misalnya dengan memberikan bunga yang rendah ketika developer bersangkutan memerlukan pinjaman dana perbankan.

Melihat perkembangan saat ini, Ignesjz dengan GBCI-nya agak nya harus bekerja lebih keras menyosialisasikan pentingnya mengembangkan properti hijau atau berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.