Menyambut Duet Indonesia-Jepang di Patimban

Toyota Tsusho Corporation, eksportir mobil asal Jepang, dipastikan bergabung dengan PT Pelabuhan Patimban Internasional (PPI) mengelola Pelabuhan Patimban mulai 16 Desember 2021.

Anitana Widya Puspa

22 Nov 2021 - 21.15
A-
A+
Menyambut Duet Indonesia-Jepang di Patimban

Pekerja melakukan bongkar muat sejumlah kendaraan bermotor ke dalam kapal MV Ostina saat Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengecek kesiapan operasional Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/12/2020)./Antara

Bisnis, JAKARTA – Lawatan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ke Jepang pada awal September tidak sia-sia. Perusahaan Jepang bersedia mengelola Pelabuhan Patimban bersama konsorsium Indonesia.

Saat itu, Budi Karya menemui pejabat-pejabat Jepang untuk membahas kemungkinan perusahaan Jepang melakukan operasi bersama dengan PT Pelabuhan Patimban Internasional (PPI), badan usaha Indonesia pemenang tender pengelolaan Patimban. Kala itu, Toyota Tsusho Corporation masih dirayu oleh PPI.

Kesediaan Toyota Tsusho untuk ikut mengoperasikan Patimban dikemukakan Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Pelabuhan Patimban Heri Purwanto.

Dia memastikan pengelolaan akan mulai dialihkan pada 16 Desember 2021 dari PT Pelindo (Persero) ke PPI.

“Selanjutnya, PT PPI menunjuk operator terminal kendaraan kepada Toyota Tsusho Corporation,” katanya kepada Bisnis, Minggu (21/11/2021).

Menyusul pengelolaan bersama oleh konsorsium Indonesia-Jepang itu, ekspor perdana kendaraan dari pelabuhan di Subang, Jawa Barat, itu akan dilakukan 17 Desember.

Wilayah operasi Toyota Tsusho Corporation di seluruh dunia/www.toyota-tsusho.com

Toyota Tsusho selama ini menjalankan bisnis perdagangan umum. Sebagai anggota Toyota Group, Toyota Tsusho mengekspor mobil. Perusahaan kini terdaftar di Nagoya Stock Exchange dan Tokyo Stock Exchange.

Menurut Heri, tidak ada persiapan khusus selama proses pengalihan pengelolaan karena semua regulasi, terutama yang berkaitan dengan kepabeanan, sudah selesai.

CEK PROGRES

Menhub pekan lalu mengunjungi Patimban bersama Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan. Dalam kunjungan itu, Budi melihat pengerjaan paket I sudah selesai 100 persen. Paket I terdiri atas terminal peti kemas 35 hektare dengan kapasitas 250.000 TEUs, terminal kendaraan 25 hektare berkapasitas 218.000 completely built-up (CBU), area reklamasi 60 hektare, dan area kolam 10 meter. 

"Ini 60 hektare yang sudah direklamasi  dan sudah bisa ekspor mobil 200.000 [unit] dan kontainer sudah bisa 300.000 [TEUs] di sini," katanya.

Selama hampir satu tahun beroperasi, kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Patimban sudah mencapai total 12.335 unit kendaraan, yang diangkut oleh sembilan kapal dengan rute Patimban-Belawan dan Patimban-Makassar. Kesembilan kapal tersebut meliputi Ferrindo 5, Serasi V, MV Ostina, Kalimantan Leader, Harmoni Mas 3, Serasi I, Harmoni Mas 8, MV Sulawesi Leader, dan KM Panorama Nusantara.

Pembangunan paket II akan menyusul. Paket ini terdiri atas breakwaterseawall, dan pengerukan alur pelayaran yang saat ini sudah 99,7 persen.

Sementara itu, untuk pengerjaan jembatan penghubung yang masuk dalam paket III, saat ini perkembangannya sudah 82,4 persen. Paket ini ditargetkan selesai akhir 2021. 

Dalam kesempatan itu, Luhut mengecek perkembangan Patimban setelah hampir 1 tahun beroperasi. Dia meninjai kemajuan pembangunan akses jalan, kondisi operasional pelabuhan dan besaran muatan, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung, seperti air, listrik, BBM, dan telekomunikasi.

Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat mengunjungi Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat, Kamis (18/11/2021)./Dok Kemenkomarves

Dia mengatakan pembangunan Pelabuhan Patimban bertujuan mengurangi biaya logistik dengan mendekatkan pusat produksi dengan pelabuhan, mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta, dan menjamin keselamatan pelayaran, termasuk eksplorasi gas.

Dia pun mengulang kembali pesan Presiden Jokowi yang meminta agar Patimban juga mendukung ekspor selain otomotif, seperti produk UMKM, pertanian, dan industri kreatif, agar mampu bersaing di pasar global.

“Oleh karena itu, Pelabuhan Patimban ini sangat perlu kita dorong progresnya" katanya. 

Dia berharap Patimban menjadi stimulator pengembangan Subang dan sekitarnya. Keberadaan pelabuhan juga diharapkan memangkas waktu tempuh distribusi dari kawasan industri ke pelabuhan. 

Menurutnya, Pelabuhan Patimban ini akan menjadi cikal bakal kawasan regional metropolitan Rebana yang mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat 7,2 persen dan menciptakan 4,39 juta peluang pekerjaan pada 2030.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan Pelabuhan Patimban perlu didukung konektivitas yang baik untuk menunjang pengembangan industri sehingga bisa bersaing dengan Pelabuhan Tanjung Priok dan Tanjung Perak.

"Saya minta kepada Kementerian Perhubungan [untuk] sebanyak-banyaknya melakukan konektivitas karena di situlah lahir kemudahan, kenaikan ekonomi," ujarnya.

Akses dari Patimban menuju jalan raya pantura dan moda transportasi darat belum memadai, justru akan menyulitkan pengguna jasa.

Pada saat yang sama, perkembangan pembangunan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) yang diproyeksikan mempercepat perjalanan angkutan logistik dari pusat-pusat produksi di Jabar ke Patimban, hingga kini lambat karena pembebasan lahan yang tersendat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Sri Mas Sari
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.