Menyantap Ramen Memang Nikmat, Simak Asal-usulnya

Anda mungkin kerap kali menyantap ramen, makanan khas Jepang. Namun, apakah Anda pernah mencari tahu asal-usul makanan yang nikmat itu?

Redaksi

7 Jan 2022 - 19.00
A-
A+
Menyantap Ramen Memang Nikmat, Simak Asal-usulnya

Museum Ramen Shin-Yokohama./Japan Guide

Bisnis, JAKARTA – Ramen merupakan makanan asal Jepang yang sudah populer di Indonesia. Namun, apakah Anda pernah mencoba mencari tahu asal-usul makanan yang nikmat ini?

Ramen berakar dari hidangan mi asal China yang kemudian menyebar di Jepang dan membaur dengan budaya makanan Negeri Matahari Terbit itu.

Sebagaimana ditulis Antara yang mengutip laman raumen.co.jp, pembukaan pelabuhan di Jepang pada 1859 memberi akses masuknya pengaruh dari China dan negara-negara Barat, termasuk yang berkaitan dengan makanan.

Pembangunan pelabuhan juga disertai dengan penghapusan larangan memakan daging yang hampir berlangsung selama 1.200 tahun.

Chinatown yang muncul di Jepang diisi restoran-restoran China yang menyuguhkan hidangan mi. Awalnya makanan China dianggap terlalu mahal untuk masyarakat biasa. Meski demikian, makanan China kemudian menjadi populer di Jepang.

Informasi di Museum Ramen Shin-Yokohama, Jepang, pedagang China sudah punya pengalaman berbisnis dengan orang Barat. Mereka memiliki pelabuhan lebih awal daripada Jepang. Orang-orang Barat membawa penerjemah China saat mereka datang ke Jepang, sebagian pedagang dan koki.


Data di museum itu menyebutkan amen pertama di Jepang adalah nankinsoba di Hakodate. Ini sajian mi China, meski belum jelas apakah makanan itu bisa disebut ramen seperti sekarang.

Pelabuhan di Hakodate dibuka pada 1859. Saat itu ada iklan nankinsoba yang dimuat di Hakodate Shimbun pada 28 April 1884. Restorannya bernama Yowaken, restoran bergaya Barat. Yowaken juga memperkenalkan hidangan-hidangan Nankin.

Waktu itu, nankinsoba dijual seharga 0,15 yen, setara dengan 2.000 hingga 3.000 yen untuk ukuran saat ini, lumayan mahal. Nankinsoba bisa jadi merupakan cikal bakal ramen, meski tak ada yang mengetahui bentuk, deskripsi, ataupun fotonya.

Kemudian, banyak siswa dari China dikirim ke Jepang untuk belajar sistem Barat yang diadopsi Jepang. Pada 1906 jumlah siswa China di Jepang selama setahun mencapai 12.000 orang.

Masyarakat China di Jepang kemudian membuka restoran dengan harga makanan murah untuk mengakomodasi siswa yang kurang cocok dengan makanan Jepang. Restoran dengan harga menu terjangkau ini menjamur. Restoran China sukses di Kanda, Ushigome, dan Hongo, tempat domisili siswa asal China.

Gempa besar Kanto pada 1 September 1923 ikut memengaruhi dunia ramen. Terjadi desentralisasi pekerja profesional dan bertumbuhnya jumlah kedai. Koki-koki ramen berbondong-bondong mencari pekerjaan setelah kehilangan mata pencaharian di Tokyo.

Mereka kemudian mendirikan kedai ramen di tempat baru. Salah satunya adalah kedai ramen Shinobu Honten di Sendai yang didirikan Hikoyoshi Sato, yang sebelumnya bekerja di kedai ramen di Kawasaki.

Gempa itu membuat koki-koki tak cuma berkumpul di suatu kawasan, yang pada akhirnya memperkenalkan ramen ke daerah lain di luar Tokyo, melahirkan ramen-ramen lokal, begitu pula kedai ramen yang harganya lebih terjangkau.

KEDAI RAMEN PERTAMA

Rairaiken yang didirikan pada 1910 di Asakusa dikenal sebagai restoran ramen pertama di Jepang. Pendirinya, Kanichi Ozaki, mempekerjakan 13 koki China dari Nankinmachi, Yokohama, dan membuka Rairaiken di Sushiyayokocho, Asakusa. Ketika ramai dikunjungi, jumlah pembeli bisa mencapai 2.500-3.000 orang per hari, seperti pada hari tahun baru.

Rairaiken, restoran ramen pertama di Jepang. Sempat ditutup 44 tahun lalu dan kemudian dibuka kemhali./Soranews24 

Rairaiken menciptakan resep untuk ramen. Kaldunya dibuat dari tulang ayam dan babi. Kuahnya diberi tambahan kecap asin soyu. Semangkuk ramen diberi pugasan babi panggang, rebung, dan potongan daun bawang.

Mi China jarang menggunakan babi panggang dan rebung. Alih-alih kecap asin soyu, mi China biasanya dibumbui dengan garam. Oleh sebab itu, hidangan dari Rairaiken adalah ramen orisinal.

Apa bedanya ramen Jepang dan mi China? Jawabannya adalah kuah kaldunya atau dashi. Kuah dalam hidangan mi China dipakai untuk hidangan lain, tapi kuah kaldu ramen hanya untuk ramen.

Mi ramen dibuat dari gandum, air, garam dan telur. Jenis mi ramen dibedakan berdasarkan lima kriteria, yakni ketebalan mie, persentase air yang digunakan untuk membuatnya, bentuk serta warna. Faktor-faktor ini turut memengaruhi rasa dari ramen.

Maka itu, jenis mie dan kuahnya pun disesuaikan agar menghasilkan rasa terbaik. Sebagai contoh, mi yang bentuknya keriting lebih cocok dipadukan dengan kuah yang rasanya lebih ringan, sedangkan mi yang bentuknya lurus cocok dengan kuah yang lebih kental dan rasanya pekat.

Ramen / Live Japan  

Kuah kaldu ramen tak kalah penting dari hidangan ini. Umumnya kuah kaldu ramen dibuat dari garam, soy sauce, dan miso, ditambah dengan kaldu dari tulang babi atau ayam.

Ada pula kuah yang berisi niboshi (sarden), konbu, dan bahan boga bahari atau sayuran. Terdapat berbagai variasi karena tidak ada aturan pakem. Bahkan ada pula kuah kaldu yang dibuat hanya dari kaldu ayam atau babi.

Tambahan untuk setiap ramen bervariasi, meskipun memang ada standarnya yakni chashu (daging babi panggang berbumbu), menma alias rebung, potongan daun bawang, dan telur rebus. Setiap daerah memiliki variasi tambahan sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.