Menyelamatkan Investasi Manufaktur Sepanjang Sisa 2022

Salah satu faktor yang berisiko memengaruhi tingkat kepercayaan pemodal dalam berinvestasi ke sektor manufaktur selepas kuartal I/2022 adalah kontroversi kebijakan larangan ekspor bahan baku minyak goreng.

Wike D. Herlinda
Apr 27, 2022 - 12:30 PM
A-
A+
Menyelamatkan Investasi Manufaktur Sepanjang Sisa 2022

Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA — Investasi sektor manufaktur terpantau kian bertaji sepanjang kuartal perdana 2022. Pada triwulan selanjutnya, bagaimanapun, arus penanaman modal ke industri pengolahan nonmigas rawan tercederai akibat berbagai sentimen kebijakan di dalam negeri.

Salah satu faktor yang berisiko memengaruhi tingkat kepercayaan pemodal dalam berinvestasi ke sektor manufaktur selepas kuartal I/2022 adalah kontroversi kebijakan larangan ekspor bahan baku minyak goreng. 

Terkait dengan isu tersebut, Peneliti di Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan para investor cenderung menilai Pemerintah Indonesia tidak kompeten menangani karut-marut industri minyak goreng dengan berbagai perombakan kebijakan. 

“Investor akan mempertimbangkan itu, kita dianggap tidak mampu mengatur urusan minyak goreng,” ujarnya, Rabu (27/4/2022). 

Namun, di balik risiko tersebut, Heri menilai masih ada peluang investasi yang dapat dioptimalkan di lini penghiliran minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). 

Secara umum pun, dia melihat prospek penanaman modal ke sektor manufaktur pada 2022 masih berpotensi melampaui target pemerintah sebesar Rp310 triliun (full year).

“Seiring dengan pemulihan ekonomi, maka manufaktur penjualannya akan meningkat, dan produksinya akan tumbuh. Bisa lebih baik dari tahun kemarin," lanjutnya.

Akan tetapi, dia menggarisbawahi, pemerintah tetap perlu mewaspadai dampak dari kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen dan inflasi harga bahan baku yang berpotensi menahan laju investasi di sektor manufaktur sepanjang sisa tahun ini. 

"Market-nya cukup besar dan kuat apalagi kalau sudah pulih daya belinya, saya rasa akan optimal, tidak ada masalah. Tinggal dipoles kebijakan-kebijakan yang kondusif," ujarnya.

Untuk diketahui, realisasi penanaman kapital di sektor manufaktur sepanjang kuartal I/2022 menggapai Rp103,5 triliun alias naik 17,21 persen dibandingkan dengan torehan periode yang sama tahun lalu senilai Rp88,3 triliun. 

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) mencatat industri manufaktur menempati urutan kedua penyumbang nilai investasi terbesar kuartal I/2022, dengan porsi sebesar 36,6 persen. 

Menempati urutan pertama adalah sektor jasa dengan nilai Rp124,3 triliun dan kontribusi 44 persen.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menyoroti peningkatan investasi di sektor kimia dan farmasi dan menempati urutan ke-7 dengan nilai total Rp16,9 triliun, meningkat 80 persen dibandingkan periode yang sama 2021 sebesar Rp9,34 triliun.

"Sejak pandemi Covid kita tahu bahwa obat-obat kita, bahan baku dan alat kesehatan kita impor, 90 persen. Maka janji kami bahwa kami akan mulai fokus mendorong investasi di sektor kesehatan," kata Bahlil dalam konferensi pers virtual, Rabu (27/4/2022).

Ke depan, Bahlil mengatakan sektor kesehatan akan menjadi salah satu fokus penjaringan investasi oleh pemerintah. Hal itu mengingat masih tingginya ketergantungan industri farmasi dan alat kesehatan terhadap bahan baku impor.

Sektor lain yang juga mencatatkan pertumbuhan ekspansif yakni industri makanan dengan nilai penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp9,71 triliun dan penanaman modal asing (PMA) US$685,9 juta.

Sementara itu, sektor yang menjadi juara raihan investasi pada kuartal I/2022 a.l. industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, dengan nilai Rp39,7 triliun dan pertumbuhan 14 persen secara tahunan.

Sementara itu, posisi kedua nilai investasi terbesar dicatatkan oleh sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp39,5 triliun, tumbuh 14 persen secara tahunan. 

Selanjutnya, sektor pertambangan senilai Rp35,2 triliun (12,5 persen), perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp24,9 triliun (8,8 persen), dan listrik, gas dan air Rp23,1 triliun (8,2 persen.

Sepanjang tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan total investasi senilai Rp310 triliun, setelah pada tahun lalu mengantongi Rp325,4 triliun.

SEKTOR PROSPEKTIF

Secara sektoral, industri yang diperkirakan menuai kucuran investasi dalam jumlah besar pada tahun ini salah satunya adalah plastik—khususnya di lini antara dan hilir.

Adapun, faktor pendorong penguatan investasi di industri plastik adalah kebijakan karantina wilayah (lockdown) yang diberlakukan di Shanghai, China akibat peningkatan kasus Covid-19. 

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan lockdown yang meluas di China menyurutkan pasokan plastik hilir ke pasar domestik sehingga menjadi peluang untuk industri dalam negeri berekspansi.

"Shanghai lockdown, harus segera diantisipasi pasokannya oleh industri dalam negeri. Barang-barang dari China turun [pasokannya] sehingga kesempatan industri dalam negeri untuk masuk," ujarnya.

Pada kuartal II/2022, Fajar mengharapkan utilitas kapasitas produksi plastik hilir dapat meningkat hingga 90 persen. 

Selain itu, faktor yang dapat menjadi pengungkit investasi industri plastik yakni tahun ajaran baru dengan pembelajaran tatap muka 100 persen.

Adapun, selama Ramadan dan jelang Lebaran ini, konsumsi dari layanan pesan-antar makanan minuman terpantau tumbuh cukup signifikan. Meski demikian, Fajar mengakui arus permintaan saat ini belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Namun, beberapa faktor tersebut diharapkan ke depan dapat membantu menopang pemulihan. Selain itu, industri plastik juga berharap limpahan pertumbuhan dari kimia dan farmasi.
 
 "Beberapa alat kesehatan sekarang juga beralih ke plastik. Mudah-mudahan dengan makin bagusnya pelayanan BPJS Kesehatan, industri kimia dan farmasi bisa konsisten mengembangkan produk-produk baru," ujarnya.

Sektor lain yang juga diyakini bakal kebanjiran investasi sepanjang sisa tahun ini adalah logam dasar, serta barang logam bukan mesin dan peralatannya. Salah satu pelatuknya adalah tren penghiliran, khususnya pada komoditas nikel. 

Dalam kaitan itu, Bahlil Lahadalia mengatakan pada 2019 sektor logam dasar masih berada di urutan ke-4 penyumbang investasi terbesar di Tanah Air.

"Penghiliran kita benar-benar sedang terjadi. Jadi kita tidak terpengaruh intervensi dari negara mana pun untuk menahan penghiliran kita," kata Bahlil.

Seperti diketahui, Indonesia tengah menghadapi tuntutan di Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) yang diajukan Uni Eropa, terkait dengan pelarangan ekspor nikel. 

Dengan cadangan nikel terbesar di dunia yang saat ini mencapai 25 persen, potensi penghiliran untuk menghasilkan nilai tambah perlu dikembangkan di dalam negeri.

"Kita tidak boleh gentar sedikit pun," ujarnya.

Upaya penghiliran nikel yang tengah dikejar saat ini yakni pembangunan ekosistem kendaraan listrik dimulai dengan pengembangan pabrik baterai.

Pada kesempatan itu, Bahlil juga menyebut sejumlah nama perusahaan global yang belakangan telah sepakat untuk menggelontorkan investasi di Indonesia terkait baterai listrik. 

Sejumlah perusahaan tersebut antara lain, BASF, VW, dan Britishvolt, yang menyusul perusahaan asal China Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL).

Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Bimo Wijayanto (kanan) bersama Direktur Utama PT Trinitan Metals and Minerals Tbk, Petrus Tjandra (kiri) melakukan prosesi memasukan bijih nikel untuk diolah dengan teknologi STAL.


 
SEKTOR LESU

Tidak seberuntung industri plastik dan logam dasar, sektor kimia dasar justru diproyeksikan tidak terlalu banyak dilirik investor. 

Ketua Umum Asosiasi Industri Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan aliran investasi ke sektor tersebut relatif masih stagnan karena utilitas kapasitas produksi yang belum membaik.

"Sepertinya kenaikan ini dipicu oleh investasi di petrokimia saja, sedangkan di kimia dasar, kapasitas masih rendah karena impact perang dan juga inflasi serta kenaikan bahan baku," katanya. 

Secara kinerja, utilitas kapasitas produksi pada kuartal II/2022 ini justri turun di kisaran 40 persen hingga 60 persen, atau kembali ke awal masa pandemi pada 2020. Pada tahun lalu rata-rata utilitas kapasitas produksi sudah berada di kisaran 60 persen hingga 80 persen.

Penurunan utilitas tersebut disebabkan naiknya harga bahan baku dan permintaan yang juga belum mengalami perbaikan.

"Permintaan sektor riil sepertinya melemah karena dampak inflasi dan lain-lain, ditambah arus kas industri juga tight karena bahan baku naik banyak," ujarnya.

Pada momentum jelang Lebaran ini, industri kimia dasar justru tak menikmati peningkatan permintaan. 

Utilitas kapasitas produksi juga diperkirakan belum akan membalik karena banyak industri meliburkan aktivitas produksi jelang Lebaran karena stok yang masih tinggi.

Tahun ini Michael membidik pertumbuhan industri sebesar 5 persen hingga 7 persen. Adapun, realisasi kinerja industri pada tahun lalu diperkirakan tumbuh antara 3 persen hingga 5 persen.

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menjelaskan industri manufaktur masih diterjang sejumlah aral dari banyak sisi hingga saat ini, yang kemungkinan besar dapat menahan laju ekspansi pada kuartal kedua.

Ketua Industri Manufaktur Apindo Johnny Darmawan mengatakan proyeksi Bank Indonesia (BI) bahwa Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) dapat memecahkan rekor historis tertinggi di level 56,06 persen pada kuartal II/2022 dinilai tidak masuk akal.

Terlebih, pelaku industri juga terus berhadapan dengan tekanan inflasi dan kendala rantai pasok bahan baku yang belum mereda dalam menjalankan bisnisnya.

"Boleh-boleh saja pemerintah memproyeksikan [PMI-BI] 56 persen, tetapi menurut saya itu berat, dengan adanya hambatan-hambatan terutama adanya konflik Rusia-Ukraina yang sangat berpengaruh," kata Johnny.

Menurutnya, kendala pasok bahan baku telah dirasakan sejumlah sektor, seperti industri baja yang banyak mendapatkan suplai input dari Rusia. Pada saat bahan baku dari dalam negeri menjadi tumpuan, keran ekspor ke Eropa terbuka dengan harga yang lebih tinggi.

Selain itu, pasokan gandum sebagai bahan baku industri makanan juga terancam surut jika perang tak kunjung usai. 

Ukraina dan Rusia diketahui menyumbang 30 persen kebutuhan gandum dunia. Sementara itu, Indonesia mengimpor 26,8 persen atau 3,07 juta ton gandum dari Ukraina pada tahun lalu.

Johnny juga melihat daya beli masyarakat Indonesia belum sepenuhnya pulih dan justru bakal tertekan kenaikan PPN menjadi 11 persen, dan peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Kenaikana pajak ini cukup memberatkan, menekan daya beli meskipun dibantu dengan BLT [bantuan langsung tunai]," katanya.

Indikasi pelemahan pemulihan manufaktur sebelumnya juga ditunjukkan pada capaian Purchasing Managers's Index (PMI) manufaktur pada dua bulan terakhir. Pada Maret 2022 angkanya mencapai 51,3, naik tipis dari bulan sebelumnya 51,2.

Melemahnya PMI manufaktur pada Februari dinilai karena ketidakpastian kelanjutan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan bermotor roda empat, sedangkan kenaikan tipis pada Maret juga terdorong pembelian menjelang pemangkasan insentif PPnBM.
 
 "April ini seharusnya meningkatnya jauh karena ada Lebaran, tetapi kelihatannya impact-nya tidak terlalu besar," ujar Johnny.

Lebih lanjut, dia tidak menampik beberapa sektor industri makin memutar kencang roda produksi di tengah gejala pemulihan permintaan. 

Guna mempertahankan momentum ekspansi sejumlah sektor tersebut, Johnnya menilai pelaku usaha masih memerlukan insentif dari pemerintah.

"Kalau mau menjaga momentum ini, pemerintah harus memikirkan insentif, bukan BLT. Namun, di lain pihak pemerintah lagi pusing kepala, karena utang bertambah," kata Johnny.

Menurut Johnny, penaikan PPN meski hanya satu persen menjadi 11 persen akan menekan daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Belum lagi jika nantinya pemerintah memberlakukan pajak karbon dan kenaikan tarof dasar listrik yang juga diwacanakan pada tahun ini.

"Kami menghormati lah asumsi pemerintah, kalau tahun lalu saja bisa 56 lebih [PMI manufaktur], kenapa tahun ini tidak bisa.  Di sisi lain, faktor-faktor X keluar, salah satunya Rusia dan Ukraina," jelasnya.
 
 Pada tahun lalu, pemerintah memang menggelontorkan sejumlah insentif untuk menggenjot konsumsi. Salah satu yang dinilai berhasil yakni PPnBM mobil Ditanggung Pemerintah.
 
 Selain itu, ada pula insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sektor perumahan yang masih berlaku sampai September 2022. 

Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis/Abdullah Azzam

TERTAHAN INFLASI

Sepandangan dengan pelaku industri, kalangan ekonom pun menilai proyeksi PMI-BI menjadi 56,06 persen pada kuartal II/2022 bakal sulit direalisasikan lantaran kinerja industri manufaktur pada akan tertahan laju inflasi dan pasokan bahan baku yang belum mereda.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohamad Faisal menaksir PMI-BI Pada kuartal kedua tahun ini bahkan belum akan menyentuh angka 55 persen, meski masih akan ekspansif terdorong naiknya permintaan jelang Lebaran. 

"Saya rasa untuk meningkat sangat tinggi sampai 56 persen kemungkinannya kecil karena faktor kenaikan harga komoditas, dan juga ada inflasi dari PPN dan lain-lain," kata Faisal.

Faisal melanjutkan, kenaikan harga komoditas sejauh ini telah memberikan tekanan yang signifikan pada ongkos produksi yang juga berdampak pada profitabilitas industri. Di sisi lain, ada pula tekanan dari kenaikan PPN menjadi 11 persen mulai April 2022.

"Memang akan meningkat dibandingkan kuartal I, tetapi untuk mencapai 56 persen sulit," lanjutnya.
 
 Dia juga mengatakan survei dalam PMI-BI umumnya hanya melibatkan pelaku industri besar dan menengah saja. Hal itu kemungkinan yang menyebabkan adanya distorsi karena tak menyertakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sementara itu, pada paruh kedua tahun ini diharapkan perang Rusia-Ukraina sudah mereda sehingga dapat menurunkan tekanan pada rantai pasok dan bahan baku. 

Meski demikian, laju permintaan setelah kuartal II/2022 akan kembali ke posisi normal seiring berlalunya momentum Lebaran.

Faisal mengatakan manufaktur memiliki peluang tetap tumbuh ekspansif pada semester kedua mendatang. Namun, permintaan yang kembali melandai akan menahan proyeksi ekspansi ke titik maksimal.  

"Pada semester kedua mungkin konflik sudah selesai, kemungkinan tekanan ke biaya produksi akan lebih rendah, tetapi [PMI-BI] untuk sampai ke 55 persen setelah kuartal dua itu juga berat," kata Faisal.


Untuk diketahui, Bank Indonesia awal pekan ini mengumumkan PMI-BI pada kuartal I/2022 mencatatkan angka 51,77 persen, naik dari triwulan sebelumnya 50,17 persen.

Bank sentral juga memperkirakan peningkatan kinerja manufaktur bakal berlanjut di kuartal ini dengan angka PMI sebesar 56,06 persen. Estimasi tersebut terbilang ambisius, mengingat PMI-BI tidak pernah menyentuh di atas 55 persen sebelumnya.

"Peningkatan PMI-BI didorong seluruh komponen pembentuknya terutama volume produksi, diikuti volume pesanan, volume persediaan barang jadi, dan jumlah karyawan," tertulis dalam pernyataan Bank Indonesia.

Pada kinerja kuartal I/2022, peningkatan terjadi pada mayoritas subsektor dengan indeks tertinggi pada kertas dan barang cetakan sebesar 56,36 persen, menyusul kemudian makanan, minuman, dan tembakau 53,47 persen, serta tekstil, barang kulit dan alas kaki sebesar 53,29 persen.

Perkembangan PMI-BI tersebut juga sejalan dengan kegiatan sektor manufaktur pada hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang positif dan meningkat dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 0,84 persen.

Volume produksi tercatat meningkat pada berada pada level ekspansi dengan indeks sebesar 53,81 persen, lebih tinggi dari 51,84 persen pada triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan permintaan dan ketersediaan sarana produksi yang memadai.

Sementara itu, pada kuartal II/2022 mayoritas subsektor juga diperkirakan meningkat dengan indeks tertinggi pada makanan, minuman, dan tembakau sebesar 58,46 persen, menyusul kertas dan barang cetakan 56,70 persen, dan tekstil, barang kulit dan alas kaki 56,29 persen.

Adapun, volume produksi diperkirakan kembali meningkat dengan indeks sebesar 59,85 persen sejalan dengan meningkatnya permintaan.

Sementara itu yang mengalami penurunan yakni komponen kecepatan penerimaan barang input, yang pada kuartal I/2022 tercatat sebesar 45,22 persen lebih rendah dari 46,24 persen pada triwulan sebelumnya. 

Penurunan tersebut disebabkan kendala logistik akibat kelangkaan kontainer dan biaya pengapalan yang tinggi.

Pada kuartal II/2022 kecepatan penerimaan barang input diindikasikan membaik dengan indeks sebesar 47,91 persen, meski masih berada pada area kontraksi atau di bawah 50. (Reni Lestari)

Editor: Wike Dita Herlinda
company-logo

Lanjutkan Membaca

Menyelamatkan Investasi Manufaktur Sepanjang Sisa 2022

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ