Meraup Berkah dari Limbah Pengolahan Ikan Patin 

Limbah industri pengolahan ikan patin tersebut terdiri atas bagian kepala 12,0%, tulang 11,7%, sirip 3,4%, kulit 4,0%, duri 2,0%, dan isi perut atau jeroan 4,8%. 

Fatkhul Maskur

3 Des 2021 - 16.38
A-
A+
Meraup Berkah dari Limbah Pengolahan Ikan Patin 

Minyak ikan patin yang diekstrak dari hasil samping pengolahan ini memiliki profil asam lemak jenuh 48,84% dan asam lemak tak jenuh 51,16%, serta menjadikannya sebagai sumber energi dan asam lemak esensial yang cukup tinggi. - Foto KKP

Bisnis, JAKARTA – Industri pengolahan berbahan baku ikan patin (Pangasius hypophthalmus) bertumbuh seiring dengan peningkatan hasil budidaya. Limbah industri memiliki proporsi 30%-40% dari berat ikan. 

Ikan patin merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya strategis di Indonesia. Peluang ekspor yang terbuka lebar menjadi alasan pemerintah memacu produksi patin melalui pembangunan kampung-kampung budidaya berbasis potensi dan kearifan lokal. 

Upaya ini membuahkan hasil. Pada 2020, jumlah produksi patin di Indonesia mencapai 408.539 ton, meningkat dari capaian pada 2018 yang tercatat sejumlah 391.151 ton.  

Seiring dengan hal itu, industri pengolahan perikanan pun berkembang, yang juga menyisakan hasil samping (limbah), berupa tulang, kulit, sirip, kepala, sisik, jeroan, maupun cairan, yang diperkirakan memiliki proporsi 30%-40% dari total berat ikan. 

Limbah tersebut terdiri atas bagian kepala 12,0%, tulang 11,7%, sirip 3,4%, kulit 4,0%, duri 2,0%, dan isi perut atau jeroan 4,8%. 

Limbah tersebut tentu bukan tak memiliki nilai ekonomi. Namun siapa sangka, potensi limbah perikanan sangatlah besar, tetapi pemanfaatannya masih terbilang relatif kecil. 

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) sebagai unit eselon 1 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mengembangkan riset dan inovasi dalam rangka mendukung beragam terobosan, khususnya terkait dengan pengembangan budidaya perikanan untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan.

Sejak 2021, BRSDM melalui Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2BKP) telah mengembangkan riset ‘Pemanfaatan Hasil Samping Industri Pengolahan Ikan Patin sebagai Bahan Produk Pangan dan Non Pangan’.

Plt. Kepala BRSDM, Kusdiantoro menjelaskan bahwa pada umumnya proses pengolahan patin di Indonesia menghasilkan produk filet sekitar 35%. Sementara hasil samping dari proses pengolahan filet patin mencapai sekitar 65 persen seperti kepala, tulang ekor, daging belly, isi perut, lemak abdomen, kulit dan hasil perapian (trimming) masih belum dimanfaatkan secara optimal. 

Bagian-bagian ini bernilai jual rendah, bahkan hanya menjadi limbah, yang dapat menurunkan kesehatan lingkungan. 

Dari hasil riset yang dilakukan oleh Tim Peneliti BBRP2BKP, menunjukkan kandungan lemak dari hasil samping tersebut bisa mencapai 30% sehingga dapat dijadikan sebagai sumber potensial minyak ikan.

"Minyak ikan dari hasil samping pengolahan patin mengandung asam lemak Omega 3 (EPA, DHA, Linolenat) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan suplemen pangan dikarenakan kandungan asam lemak esensialnya yang sangat baik bagi kesehatan tubuh," katanya seperti dikutip dalam keterangan pers KKP, Jumat (3/12/2021). 

Menurutnya, minyak ikan itu membantu memelihara kesehatan jantung, mencegah penyumbatan pembuluh darah, menjaga kesehatan kulit hingga mengurangi gejala depresi dan alergi. Selain itu, padatan yang tersisa dari ekstraksi minyak ikan patin juga dapat digunakan sebagai ingredient pakan setelah diproses menjadi tepung ikan.
 
Kepala BBRP2BKP Hedi Indra Januar menyampaikan bahwa UKM dapat menerapkan konsep ekonomi biru dalam proses produksinya untuk mengatasi masalah lingkungan, sekaligus meningkatkan pendapatan dari nilai tambah dari pengolahan limbah tersebut, dan sebagai koridor inisiasi untuk program prioritas pengembangan kampung budidaya perikanan.

Peneliti BBRP2BKP Ema Hastarini mengatakan bahwa minyak ikan patin yang diekstrak dari hasil samping pengolahan ini memiliki profil asam lemak jenuh sebesar 48,84% dan asam lemak tak jenuh sebesar 51,16% serta menjadikannya sebagai sumber energi dan asam lemak esensial yang cukup tinggi. Sementara tepung ikan yang dihasilkan merupakan sumber protein dan asam amino dengan kadar protein mencapai 40,90% hingga 74,06%.

Hingga kini, teknologi hasil riset pemanfaatan hasil samping industri patin pun telah didiseminasikan kepada 30 UKM, pembudidaya, dosen Politeknik AUP Dumai, dan penyuluh Perikanan di Desa Koto Mesjid, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Di mana Desa Koto Mesjid merupakan salah satu kampung budidaya patin yang produksinya bisa mencapai 360-400 ton per bulan. 

Inovasi teknologi hasil riset berupa prototipe alat pengolahan minyak dan tepung ikan juga telah diserahkan kepada Politeknik AUP Dumai, dengan harapan dapat mendukung teaching factory yang dikembangkan oleh Politeknik AUP untuk menciptakan lulusan yang siap pakai dan berdaya saing di dunia kerja nantinya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.