Meredam Risiko Inflasi Pangan

Risiko kenaikan inflasi yang dipicu oleh merambatnya harga pangan mulai mengemuka seiring dengan berkurangnya pasokan di sejumlah daerah akibat musim kemarau berkepanjangan sebagai dampak dari El Nino.

Redaksi

23 Sep 2023 - 06.49
A-
A+
Meredam Risiko Inflasi Pangan

Ilustrasi inflasi atau kenaikan harga bahan-bahan pokok. Pelanggan memilih barang kebutuhan di salah satu ritel modern di Depok, Jawa Barat, Minggu (30/7/2023). JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha

Risiko kenaikan inflasi yang dipicu oleh merambatnya harga pangan mulai mengemuka seiring dengan berkurangnya pasokan di sejumlah daerah akibat musim kemarau berkepanjangan sebagai dampak dari El Nino. 

Kenaikan harga ini tampak dari gejolak harga sejumlah komoditas pangan, terutama beras yang menurut perhitungan Bank Indonesia sudah naik 4,4% pada September 2023. Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar kenaikan harga pangan tidak berdampak terhadap inflasi.

Adalah Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman saat pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur pekan ini menjelaskan kenaikan harga beras dipengaruhi musim dan fenomena iklim El Nino yang akan berlangsung lebih lama dari prakiraan awal.

Akan tetapi, risiko kenaikan harga pangan ini diyakini masih dalam kendali agregat sasaran 3 +/- 1 persen pada tahun ini sejalan dengan upaya bank sentral untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah guna memastikan inflasi tetap terkendali. 

Bahkan bank sentral meyakini inflasi bisa ditekan pada kisaran 2,8 persen pada tahun 2024.Harian ini menilai tingkat inflasi rendah yang terjadi hingga kini belum menjadi jaminan kondisi itu akan terus bertahan karena masih banyak tantangan yang bakal dihadapi pemerintah. 

Isu ketahanan pangan domestik memang relevan membayangi rantai pasokan pangan akibat dinamika geopolitik. Di luar itu, beberapa faktor eksternal seperti konflik Rusia-Ukraina yang belum berakhir, dampak El Nino, masih ketatnya kebijakan moneter dan likuiditas dapat berdampak pada kena-ikan suku bunga, menjadi risiko yang tetap perlu diantisipasi.

Apalagi tren suku bunga ting-gi diperkirakan bertahan dalam waktu yang lebih lama setelah The Fed menunda rencana kena-ikan suku bunga acuannya di level 5,25—5,5 persen dalam per-temuan FOMC terkini pada 20 September 2023.

Selain itu, faktor lain yang tak kalah penting untuk dicermati berasal dari risiko kenaikan harga energi yang berisiko naik setelah Arab Saudi dan Rusia sepakat memangkas produksi hingga akhir tahun. 

Ditambah lagi cadangan minyak di Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil shale oilteratas mulai memperlihatkan tanda-tanda penurunan. Impitan terhadap harga energi akan makin terasa karena dua raksasa ekonomi terbesar dunia yakni AS dan China mulai bangkit yang imbasnya dapat menaikkan harga karena permintaan meningkat, sementara pasokan turun. 

Bahkan beberapa lembaga keuangan meyakini harga komoditas energi itu bakal kembali ke kisaran US$100 per barel dalam waktu yang tak terlalu lama. Dari dalam negeri, munculnya fenomena pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir juga perlu mendapat atensi. 

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang cenderung melemah ini dikhawatirkan dapat memicu inflasi atas barang impor. Untuk harga pangan memang Tanah Air tengah berada dalam risiko perubahan cuaca akibat El Nino yang menyebabkan pasokan pangan terbatas. 

Situasi ini yang mendorong kalangan pengusaha seperti Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia mendesak pemerintah melipat-gandakan pasokan beras di ritel modern guna membantu menjinakkan gejolak harga beras di pasaran.

Karenanya, BI dan pemerintah diharapkan dapat menjalankan strategi menekan risiko inflasi dengan beragam cara, salah satunya dengan memantau pasokan, melakukan operasi pasar murah dan mendorong kerja sama antardaerah. 

Kerja sama ini ditekankan agar seluruh pemangku kepentingan di daerah maupun pusat senantiasa bekerja sama dan bersinergi dalam memenuhi pasokan bahan pangan. Daerah yang kelebihan pasokan diharapkan dapat bekerja sama dengan daerah yang memerlukan pasokan. 

Agar kerja sama ini dapat berjalan, tentunya akurasi data pasokan ini menjadi penting karena inflasi di suatu daerah bisa saja terjadi karena distribusi yang tidak merata. Ada kalanya suatu daerah memiliki pasokan beras melimpah namun harga beras di beberapa daerah justru mengalami kenaikan akibat kekurangan supply.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.