Milenial Bidik Rumah Tepi Kota, Utamakan Kelengkapan Fasilitas

Kaum milenial sekarang merupakan pasar terbesar bagi pebisnis properti. Penghasilan mereka relatif stabil dan kemudahan akses serta pmeningkatnya fasilitas membuat mereka memilih properti dengan harga terjangkau di tepi perkotaan.

Yanita Petriella

9 Nov 2021 - 21.48
A-
A+
Milenial Bidik Rumah Tepi Kota, Utamakan Kelengkapan Fasilitas

Perumahan bersubsidi merupakan incaran milenial./Kementerian PUPR

Bisnis, JAKARTA – Milenial tak lagi mengincar rumah di tengah kota. Kaum Saat ini mereka yang kelahiran antara 1983 dan 2000 ini cenderung mempertimbangkan kemudahan akses transportasi—bukan lagi lokasi—dan fasilitas di sekitar perumahan sebelum memutuskan untuk membeli hunian.

Investment Storyteller dan Co-Founder Ternakuang.id Felicia Putri Tjiasaka mengungkapkan terjadi pergeseran tren dalam cara milenial membeli rumah. Jika sebelumnya pusat kota menjadi sasaran mereka mencari rumah, kini yang terjadi sebaliknya.

“Pusat kota bukan lagi pertimbangan utama milenial dalam membeli properti. Meski lokasinya agak jauh, asal dekat dengan akses transportasi, fasilitas lengkap, apalagi kalau di lokasinya banyak yang bisa dilakukan untuk berbagai aktivitas, itu menarik milenial,” ujarnya pada Selasa (9/11/2021).

Hunian yang diminati milenial adalah yang memiliki harga kurang dari Rp1 miliar dengan sistem uang muka atau down payment (DP) dapat dicicil. “Tren ini yang terjadi di kalangan milenial, harga rumah di bawah Rp1 miliar, dan DP bisa dicicil.”

Berdasarkan riset tren properti yang dilakukan Inventure dan Alvara pada 8–18 Juni 2021 terhadap 532 responden milenial di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, dan Balikpapan, konsumen berminat membeli properti yang dilengkapi dengan fasilitas transportasi publik.

Sebagian besar responden (56,2%) tertarik membeli rumah di daerah pinggiran atau dekat dengan pusat kota asalkan dilengkapi fasilitas transportasi publik, karena akses transportasi menjadi selling point.

Selain itu, data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) Kuartal III/2021 menyebutkan bahwa konsumen makin tidak keberatan dengan lokasi hunian yang cukup jauh dari pusat kota selama sarana transportasi umum dan akses tol tersedia di sekitarnya

Country Manager Rumah.com Marine Novita menuturkan rumah tapak masih mendominasi pencarian properti di Jabodetabek, meliputi 90% pencarian properti di Rumah.com.

Mayoritas pencarian pun ditujukan ke Jakarta Selatan sebanyak 21%. Meski begitu, target pencarian konsumen kini semakin luas dan merata. Tren pencarian properti di wilayah pinggiran meningkat, seperti Kabupaten Bogor naik 3%, Kabupaten Bekasi 2%, serta Kota Tangerang 1% Kota Bogor masing 1%.

Direktur Paramount Land M. Nawawi menyadari bahwa segmen terbesar saat ini adalah milenial yaitu 30% dari populasi Indonesia atau sekitar 81 juta orang.

Menurutnya, memiliki rumah di usia muda bukan mustahil diwujudkan, asalkan sudah ada pendapatan tetap dan realistis dengan rumah yang akan dibeli.

“Saat ini banyak pilihan hunian dan promo KPR bank yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan kaum milenial. Memahami kebutuhan tersebut, kami menghadirkan kota mandiri baru di barat Jakarta [Tangerang], yaitu Paramount Petals untuk beragam kebutuhan dan tipe hunian,” tuturnya.

STABILITAS FINANSIAL

Begitu pula dengan hasil Riset Tren Pasar Properti semester I/2021 perusahaan teknologi yang bergerak di bidang properti (PropTech) Lamudi.co.id, yang menyebutkan bahwa selama 5 tahun terakhir demografis pencari properti di usia 25–45 tahun meningkat, dipimpin kelompok di rentang usia 25–34 tahun.

Kelompok demografi ini naik 781% sejak 2016 hingga semester I/2021, dan menjadi 30% dari pengguna platform, baik melalui smartphone, desktop, ataupun perangkat lainnya. Sementara itu, pembeli berusia 18–24 tahun berada di peringkat kedua, berlomba ketat di 26,7%, selanjutnya kelompok usia 35–44 tahun di 20,6%.

Sumber: Kementerian Komunikasi dan Informatika

Riset tersebut menyebutkan bahwa kelompok usia 18–24 tahun adalah mereka yang ada dalam tahap mencari atau scouting, belum memiliki kekuatan ekonomi, tetapi bercita-cita memiliki rumah sendiri.

Kelompok usia 25–34 tahun mayoritas telah mencapai stabilitas finansial dan baru membina rumah tangga atau mulai berkeluarga. Pasalnya, hunian menjadi kebutuhan yang krusial bagi grup keluarga baru ini.

Kemudian, pencari ketiga terbanyak berasal dari kelompok usia 35–44 tahun yang sebagian besar telah berpengalaman dalam jual beli properti, namun terus berusaha mencari investasi yang lebih baik lagi.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida memproyeksikan industri properti tetap tumbuh pada 2022. Saat ini pangsa pasar properti sebesar 70% merupakan milenial, karena pendapatan mereka stabil.

Sumber: Indonesia Property Watch

Dia mengemukakan bahwa potensi milenial membeli properti relatif besar. Kemampuan kelompok ini memenuhi gaya hidupnya selama ini, karena ditopang penghasilan yang cukup memadai.

“Kalau penghasilannya digabung dengan pasangan, daya beli mereka jauh lebih besar lagi. Jadi mestinya generasi milenial mampu mencicil rumah Rp2,5 juta sampai Rp3 juta per bulan,” paparnya.

Totok yakin industri properti tumbuh dengan sentimen positif, seperti suksesnya program vaksinasi Covid-19 yang akan memicu pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun mendatang. “Apalagi ada UU Cipta Kerja yang memangkas birokrasi perizinan, sehingga menciptakan lingkungan yang ramah bisnis.”

REI menargetkan penjualan properti mencapai Rp500 triliun hingga akhir 2021, seiring dengan perpanjangan kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) menjadi 31 Desember 2021, dengan catatan tidak ada gelombang ketiga kasus penularan Covid-19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Syahran Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.