Free

Milenial Memang Pasar Besar Perumahan, Tapi Banyak Syaratnya

Kaum milenial disebut-sebut sebagai pasar besar residensial terutama rumah tapak. Meski pasar besar bagi kalangan pengembang perumahan, milenial memiliki sejumlah syarat dalam menentukan pilihan rumjah yang hendak mereka beli.

M. Syahran W. Lubis

10 Mar 2022 - 22.07
A-
A+
Milenial Memang Pasar Besar Perumahan, Tapi Banyak Syaratnya

Ilustrasi pembangunan perumahan bersubsidi di Tambun, Bekasi, Jawa Barat./Antara

Bisnis, JAKARTA – Milenial selalu digadang-gadang sebagai pasar besar bagi bisnis properti terutama residensial, lebih khusus lagi rumah tapak. Melihat berbagai data, hal itu sulit untuk dibantah.

Akan tetapi, apakah karena milenial adalah pembeli rumah pertama dan membutuhkan hunian layak kemudian membuat mereka begitu saja menerima rumah apa pun “bentuknya”? Kenyataannya tidak demikian. Sejumlah pengembang mengungkapkan milenial punya kriteria yang cukup tinggi untuk rumah yang akan mereka beli.

Persoalan lainnya mengenai milenial yang hendak membeli rumah dan dianggap sebagai pasar besar adalah seberapa besar kemampuan mereka sebenarnya.

Sumber: Indonesia Property Watch

Selain itu, ada satu persoalan lainnya bagi perbankan untuk mengambil ceruk pasar milenial ini untuk dijadikan sasaran penyaluran kredit perumahan yaitu adanya kecenderungan anak muda sekarang yang tidak mau menjadi karyawan di perusahaan lain. Mereka cenderung berwirausaha sehingga tidak memiliki slip gaji sebagai syarat untuk mengajukan kredit rumah alias tidak bankable.

Deretan hal tersebut menjadi pembahasan dalam webinar “Properti Lokomotif PEN: Memaksimalkan Potensi Hunian Milenial dan MBR sebagai Andalan Pemulihan Sektor Properti” pada Kamis (10/03/2022).

Preferensi Hunian Milenial

Sumber: PT PP Properti Tbk., dari berbagai sumber

Nostra Tarigan, Deputi Komisioner bidang Hukum dan Administrasi Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), memberikan gambaran mengenai potensi besar milenial, mereka yang berusia 25 hingga 40 tahun, sebagai pasar besar properti subsektor residensial.

Menurut Tarigan, potensi demand milenial pembiayaan Tapera sangat besar, karena mencapai 34,28% dari seluruh aparatur sipil negara (ASN). Saat ini BP Tapera memang baru diizinkan untuk memberikan pembiayaan kepada ASN serta anggota TNI dan Polri.

Sumber: BP Tapera

Selain itu, potensi besar milenial sebagai pasar perumahan tampak dari data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pada 2019 terdapat sekitar 81 juta orang atau 31% dari total penduduk Indonesia merupakan milenial yang belum memiliki rumah.

Namun, di tengah kenyataan bahwa milenial merupakan pasar besar residensial, ternyata ada kendala dari sisi kemampuan finansial mereka. Hal itu merupakan salah satu penyebab banyak milenial belum mampu memiliki rumah.

Sumber: BP Tapera

Menurut Kementerian PUPR, rumah yang masih bisa dijangkau milenial adalah dengan harga Rp200 juta hingga Rp400 juta per unit. Namun, menurut, M. Nawawi, Direktur Paramount Land, rentang harga yang dapat dibeli milenial bisa mencapai Rp500 juta per unit.

Bahkan, Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengemukakan bahwa milenial masih sanggup untuk membeli hunian dengan harga mencapai Rp1 miliar. Begitu juga dengan Fajar Saiful Bahri, Direktur PT PP Properti Tbk., mengatakan rumah yang diminati milenial adalah dalam rentang harga Rp500 juta hingga Rp1,1 miliar.

Kriteria Tinggi

Meski milenial menjadi sasaran developer perumahan, mereka tidak begoitu saja “menyerah” atau menerima apa adanya hunian yang ditawarkan. Kaum milenial memiliki banyak persyaratan sebelum menentukan rumah yang akan mereka beli.

Nawawi menyatakan milenial tidak menekan diri mereka sendiri untuk membeli rumah yang berlokasi di tengah kota. Namun, mereka menggarisbawahi pentingnya ketersediaan berbagai fasilitas yang mendukung segenap aktivitas mereka.

Menurut Nawawi, milenial membidik hunian smart home dan dibangun dengan menerapkan konsep properti “hijau” atau berwawasan lingkungan. “Mereka menginginkan ruang terbuka serta di lingkungan sekitarnya terdapat sekolah atau fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau klinik. Milenial juga membidik rumah yang multifungsi dan fleksibel meski tetap sederhana.”


Konsep rumah tumbuh juga dapat menjadikan harga rumah semakin terjangkau bagi pasar milenial. Seperti di kota mandiri Paramount Petals yang berlokasi di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, kata Nawawi, konsumen hanya membeli satu lantai, tetapi bisa mengembangkannya menjadi dua lantai.

Nawawi memerinci bahwa dari 500 unit hunian di Paramount Petals yang telah terjual, sekitar 62% pembelinya adalah milenial dengan 73% berusia 27 hingga 39 tahun.

Fajar Saiful Bahri juga menyebutkan bahwa kemampuan finansial milenial untuk membeli rumah biasanya dimungkinkan ketika mereka berusia minimal 25 tahun.

Senada dengan Nawawi, Fajar pun membeberkan bahwa milenial sangat mengedepankan kelengkapan fasilitas rumah yang hendak mereka beli.

Untuk itu, anak perusahaan BUMN PT PP tersebut—yang berkode emiten PPRO—menyediakan berbagai fasiloitas seperti lapangan futsal, taman, dan kolam renang di rooftop, jogging track, bike track, serta coworking space.

Tidak bankable

Salah satu masalah untuk menangkap milenial sebagai pasar perumahan atau residensial adalah mereka umumnya tidak bekerja sebagai karyawan, melainkan lebih pada usaha mandiri yang menyebabkan mereka tidak memiliki slip gaji sebagai dokumen yang dipersyaratkan untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah.

Milenial Pasar Besar Perumahan

Meski demikian, Nostra Tarigan punya jalan keluarnya yaitu calon pembeli rumah memanfaatkan pendanaan dengan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) yang disediakan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian PUPR.

Sebagaimana tertera dalam laman resmi Kementerian PUPR, Dana BP2BT adalah bantuan pemerintah yang diberikan satu kali untuk pembayaran uang muka atas pembelian rumah atau sebagian biaya atas pembanguna rumah swadaya melalui BP2BT yang disalurkan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), yang dalam konteks ini milenial termasuk di dalamnya.

Selain itu, kata Tarigan, BP Tapera nantinya bisa menjadi solusi untuk mengtatasi masalah milenial atau MBR yang tidak berpenghasilan tetap. Caranya, peserta menabung selama setahun di BP Tapera dan kemudian itu dijadikan semacam “jaminan” untuk disampaikan kepada bank calon kreditur.

Mengenai kesiapan BP Tapera untuk membiayai perumahan bersubsidi, Tarigan mengemukakan jumlah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bakal mencapai Rp23 trilun untuk tahun ini yang dialokasikan untuk pemilikan 200.000 unit rumah. Namun, dia mengatakan BP Tapera berencana memaksimalkan dana itu hingga bisa membiayai 226.000 unit.

Agaknya milenial memang merupakan pasar besar perumahan. Namun, tidak mudah begitu saja untuk menggarap npasar ini, ada persyaratan yang harus dipenuhi agar sesuai dengan kebutuhan mereka serta kemudahan dalam pembiayaan pemilikan hunian.

Jika bisa dipenuhi, itu menjadi bagian dari upaya menekan jumlah backlog (kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan) perumahan yang sekarang berada di angka 12,75 juta unit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: M. Syahran W. Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.