Free

Minim Kontribusi Ekspor Kendaraan Niaga

Porsi ekspor kendaraan niaga sekitar 8% dari total pengiriman sepanjang 2023. Pasarnya besar potensi untuk didongkrak.

Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra

12 Feb 2024 - 19.40
A-
A+
Minim Kontribusi Ekspor Kendaraan Niaga

Truk niaga keluaran Isuzu. /Isuzu

Bisnis, JAKARTA — Meski ekspor mobil secara utuh atau completely built up (CBU) mencapai rekor sepanjang 2023, porsi dari kendaraan komersial masih terlalu rendah. Oleh karena itu, perlu terobosan sehingga bisa terdongkrak.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan ekspor CBU mencapai 505.134 unit sepanjang 2023, naik 8,7% dari 473.602 unit dibandingkan 2022.

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengatakan ekspor kendaraan niaga masih berkisar 40.000 unit atau sekitar 8% dari total ekspor yang dilakukan sepanjang 2023.

Baca juga: Laju Lambat Penjualan Mobil Awal 2024 Tertahan Efek Pemilu

Menurutnya, para agen pemegang merek (APM) perlu mendapatkan kuota atau perizinan dari para prinsipal masing-masing untuk melakukan ekspor.

Hal ini pun sedang digodok oleh Gaikindo bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk bisa mengirimkan lebih banyak unit ke luar negeri.

“Kami datang minta izin perwakilan Indonesia untuk bisa ekspor ke lebih banyak negara lain,” ujarnya di Jakarta, Rabu (7/2/2024).

Dia juga mengatakan sudah mengadakan diskusi dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang untuk bisa mengekspor kendaraan niaga bermerek China yang diproduksi secara lokal.

 

 

Demi mencapai hal tersebut, kendaraan niaga yang diproduksi lokal harus memenuhi standard dunia. Oleh karena itu, uluran tangan dari Kemenperindibutuhkan untuk mengadakan uji kendaraan.

“Harus dibantu Kemenperin untuk ada tempat tes sehingga sebelum lahir sudah memenuhi standar baik dalam negeri maupun ekspor,” jelasnya.

Di satu sisi, kendaraan niaga di Indonesia masih menggunakan standar emisi Euro 4 yang tertinggal dari negara lain seperti kawasan Asia Tenggara lainnya, apalagi Jepang. 

Baca juga: Standar Euro 4 Hambat Ekspor Truk dan Mobil Niaga

Minimnya ketersediaan bahan bakar yang memenuhi standar emisi Euro 4 dan 5, disebut menjadi salah satu kendala mengungkit standar emisi kendaraan komersial di Indonesia.

“Kadang-kadang ini mempersulit kendaraan itu sendiri, karena apabila digunakan untuk Euro 4 akan menyebabkan masalah kendaraan tersebut,” tuturnya.

Peralihan menuju Euro 5 pun juga dinilai tidak mudah karena bahan bakar dengan standar emisi tersebut akan lebih mahal meskipun lebih bersih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.