Misi Pertamina Shipping Jadi Pemain Global di Logistik Maritim

Subholding PT Pertamina (Persero), PT Pertamina International Shipping kian memperkuat cengkeraman pada lini bisnis angkutan logistik kemaritiman seiring dengan rencana penambahan 15 kapal tanker medium range pada 2026 - 2027.

Rayful Mudassir

17 Jan 2024 - 10.58
A-
A+
Misi Pertamina Shipping Jadi Pemain Global di Logistik Maritim

Direktur Utama Pertamina International Shipping Yoki Firnandi (kiri) saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Maria Y Benyamin di Kantor Bisnis Indonesia, Rabu (17/1/2024).

Bisnis, JAKARTA - Subholding PT Pertamina (Persero), PT Pertamina International Shipping kian memperkuat cengkeraman pada lini bisnis angkutan logistik kemaritiman seiring dengan rencana penambahan 15 kapal tanker medium range dalam beberapa tahun ke depan.


PIS memesan kapal berbobot sekitar 50.000 ton tersebut dari perusahaan produsen kapal asal Korea Selatan Hyundai Mipo Dockyard pada Januari 2024. Penandatanganan kontrak keduanya dilakukan di sela peresmian dua kapal tanker baru PIS bertipe very large gas carrier di Mokpo, Korsel 9 Januari lalu. 


Direktur Utama PIS Yoki Firnandi mengatakan bahwa pengadaan kapal baru secara besar-besaran tersebut menjadi salah satu tonggak penting menjadi pemain global di industri maritim terutama angkutan logistik laut. 


“Kami ingin menjadi top of mind, itu menjadi kebanggan bagi kami untuk going global. Untuk itu banyak yang harus kami pacu, teknologi, aset, penguasaan pasar, akses market dan kapabilitas,” katanya saat bertandang ke Wisma Bisnis Indonesia di Jakarta, Rabu (17/1/2023). 


Baca juga:

Ekspansi Campin Pertamina Shipping

Cengkeraman Kuat Pertamina Jadi Pemain Perkapalan Global


Pertamina International Shipping setidaknya harus merogoh investasi untuk pengadaan 15 kapal MR Tanker tersebut mencapai US$717,5 juta atau sekitar US$47,8 juta per satu unit kapal. 


Direktur Keuangan PIS Diah Kurniawati menerangkan bahwa pengadaan kapal tersebut akan menggunakan dana perusahaan dan pinjaman dari perbankan. 


"Selama tiga tahun terakhir setiap [mengajukan pinjaman], kami mendapat penawaran [pinjaman bank] 3 - 7 kali lipat dari yang kami butuhkan,” katanya.


Selama ini, PIS telah mengoperasikan 61 kapal dan beroperasi di perairan internasional. Perusahaan setidaknya akan memiliki 6 kapal baru pada tahun ini dengan dua di antaranya yakni Pertamina Gas Tulip dan Pertamina Gas Bergenia telah diresmikan awal bulan ini.


Bila ditambah dengan 15 kapal yang akan dikirim pada 2026 - 2027, Pertamina International Shipping setidaknya akan memiliki 76 kapal sebagai angkutan bahan bakar energi termasuk gas hingga amonia.


Penambahan kapal menjadi salah satu respons atas proyeksi meningkatnya permintaan pada pengangkutan gas dan ammonia di pasar global. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi PIS. 


Lewat pengadaan kapal tersebut, Yoki menargetkan pendapatan PIS mencapai US$6 miliar pada 2030 dan US$8,9 miliar pada 2034. 


Sementara itu sepanjang tahun lalu, pendapatan PIS telah menyentuh US$3,3 miliar atau naik 18% dari tahun sebelumnya, dengan net profit after tax menyentuh US$304 juta, naik 48 persen dibandingkan dengan 2022.


"Kita targetkan pendapatan kita menjadi US$9 miliar dalam 10 tahun mendatang," terangnya.



Direktur Utama Pertamina International Shipping Yoki Firnandi (kiri) saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Maria Y Benyamin di Wisma Bisnis Indonesia, Rabu (17/1/2024).


Langkah strategis ini ditempuh Subholding PT Pertamina (Persero) untuk merevitalisasi armada yang digunakan. Selama ini, rerata usia kapal yang beroperasi mencapai 22 tahun yakni crude carrier, product carrier dan LPG carrier.


Ke depan, PIS kian mengembangkan lini bisnisnya dengan penambahan kapal baru yang digunakan sebagai LNG carrierhydrogen carrier, ammonia carrier serta dry bulk carrier. Peningkatan jumlah kapal milik tersebut bertujuan untuk mengimbangi demand angkut yang semakin besar dan beragam. 


Di kancah global, PIS telah melayani setidaknya 50 rute internasional dengan tujuan ke puluhan negara seperti Singapura, Malaysia, Australia, Afrika Selatan, Denmark, Korea Selatan, Spanyol, Yunani hingga Amerika Serikat.


Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati menyebutkan bahwa pembelian kapal baru pada 9 Januari lalu akan mampu mengangkut LPG dan amonia. 


Dia menilai kebutuhan terhadap gas, yang merupakan bridging fuel dalam transisi energi, akan semakin membesar. Demikian pula dengan kebutuhan terhadap amonia, yang saat ini dinilai sebagai bahan bakar campuran paling efektif untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). 


Menurut Nicke, saat ini semua negara sudah mulai realistis terhadap nasib PLTU yang tidak mungkin dimatikan atau ditutup begitu saja. Sejumlah negara bahkan telah menjalankan strategi menjaga keberlangsungan PLTU dengan mengonversi sebagian kebutuhan batu bara dengan amonia. 


“Jadi, secara bertahap emisi dikurangi tapi ketahanan energinya tetap terjaga dan itu ada pada amonia. Makanya kenapa kita pilih itu. Dan, untuk amonia, pasarnya akan besar sekali ke depannya sejalan dengan kebutuhan atau permintaan dari negara lain,” kata Nicke pada Selasa (9/1/2024).



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.