Free

Momentum Restorasi Ekonomi Global

Fenomena krisis keuangan global 2008 tak luput dari pembahasan forum G20 satu dekade berselang.

Remon Samora

1 Apr 2022 - 01.03
A-
A+
Momentum Restorasi Ekonomi Global

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama”. Kalimat bijak ini selaras dengan misi Indonesia pada Presidensi G20 tahun ini. Mengusung tema ‘Recover Together, Recover Stronger’, Indonesia seolah ingin menyampaikan sebuah pesan penting. Kepemimpinan kolektif global harus dikedepankan untuk menciptakan pemulihan ekonomi dunia yang merata dan seimbang.

Pemilihan tema pemulihan ekonomi global dinilai sangat tepat. Gelombang pandemi Covid-19 telah menghantam perekonomian semua negara. Dana Moneter Internasional menyebut pertumbuhan ekonomi dunia 2020 anjlok menjadi negatif 3,1 persen. Nasib serupa juga menimpa Indonesia. Pertumbuhan ekonomi domestik mengalami kontraksi minus 2,07 persen.

Optimisme restorasi perekonomian global patut disematkan pasca menjalani fase kelam dua tahun lalu. Dalam laporan bertajuk World Economic Outlook edisi Januari 2022, pertumbuhan ekonomi global pada 2022 diproyeksikan sebesar 4,4 persen. Senada dengan kinerja di tingkat global, pemulihan ekonomi juga tengah berlangsung di dalam negeri. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran 4,7-5,5 persen.

Dari sisi substansi, topik pemulihan ekonomi global sejatinya sejalan dengan tujuan lahirnya forum G20 23 tahun silam. Pada awalnya kelompok 19 negara utama dan Uni Eropa ini dibentuk untuk mengatasi dampak krisis ekonomi Asia 1997-1998. Kala itu sidang pembahasan hanya diperuntukkan bagi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral untuk merumuskan respon kebijakan bersama.

Fenomena krisis keuangan global 2008 tak luput dari pembahasan forum G20 satu dekade berselang. Pada tahun inilah eksistensi G20 menemukan titik balik. Pertemuan semua kepala negara G20 dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) berhasil dinisiasi untuk pertama kalinya. Alhasil peristiwa ini semakin memperkuat relevansi G20 sebagai forum ekonomi utama dunia.

Lanskap keuangan global turut berubah sejak saat itu. Forum G20 sukses mengorkestrasi paket stimulus fiskal dan moneter dalam skala masif untuk menanggulangi imbas krisis keuangan global 2008. Dana insentif fiskal sebesar 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) digelontorkan oleh negara-negara anggota. Tak ketinggalan kebijakan rekapitalisasi perbankan dan restrukturisasi aset bermasalah yang menelan biaya hingga miliaran dolar AS.

Forum G20 juga ikut berkontribusi dalam penanganan krisis ekonomi global akibat pandemi Covid-19. Sejumlah inisiatif G20 telah dijalankan dan membuahkan hasil positif. Beberapa diantaranya penangguhan pembayaran utang luar negeri bagi negara berpenghasilan rendah, injeksi dana pengendalian Covid-19 sebesar lebih dari lima triliun dolar AS, serta penurunan bea dan pajak impor untuk vaksin, alat medis dan obat-obatan.

Kesempatan emas

Indonesia tentu tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini. Peran sebagai tuan rumah KTT G20 menjadi simbol pengakuan atas pentingnya posisi Indonesia di kancah internasional. Dari perspektif regional, Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20. Tak ayal status Presidensi ini menegaskan kepemimpinan Indonesia dalam bidang diplomasi internasional dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

Momentum langka tersebut harus dimanfaatkan oleh Indonesia. Kapasitas dalam menahkodai pembahasan pemulihan ekonomi global wajib ditonjolkan. Apalagi G20 merepresentasikan 60% populasi dunia, 80% PDB global, dan 75% perdagangan internasional. Kesepakatan dalam ajang strategis ini niscaya akan menentukan arah kebijakan ekonomi dunia ke depan.

Sebagai tuan rumah KTT G20, Indonesia memiliki andil signifikan dalam menyuarakan kepentingan masyarakat dunia dan nasional. Lagi pula Indonesia mempunyai hak istimewa untuk menginisiasi agenda pembahasan. Isu-isu kontemporer seperti mendorong produktivitas, stabilitas sistem keuangan dan makroekonomi, serta pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan masih akan mewarnai subjek diskusi pada forum G20 tahun ini.

Dalam konteks kekinian, topik normalisasi kebijakan negara maju diyakini akan menjadi salah satu agenda diskusi hangat sepanjang perhelatan berlangsung. Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed telah mengawalinya pada Maret 2022. Setelah bergeming selama lebih dari tiga tahun, akhirnya The Fed mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

Keputusan ini sejatinya tidaklah mengejutkan. Laju inflasi tinggi menjadi akar penyebabnya. Inflasi tahunan Negeri Paman Sam pada Februari 2022 tercatat sebesar 7,9% atau yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Tak heran jika sejumlah pakar meyakini kenaikan suku bunga acuan The Fed masih akan berlangsung hingga tujuh kali pada tahun ini.

Amerika Serikat nyatanya tidak sendirian. Bank Sentral Inggris, Bank of England (BOE) juga ikut menempuh jalan serupa. Pada Maret 2022 suku bunga acuan Negeri Ratu Elizabeth ini kembali dinaikkan 25 basis poin. Langkah ini merupakan kenaikan ketiga kalinya secara berturut-turut. Kenaikan beruntun ini belum pernah dilakukan BoE setidaknya selama hampir dua dekade terakhir.

Tak pelak keputusan agresif kelompok negara maju ini berpotensi menjadi batu sandungan bagi upaya pemulihan ekonomi kelompok negara berkembang. Pasalnya, lonjakan suku bunga ini akan menambah beban masyarakat global. Bunga KPR, bunga kredit kendaraan bermotor, hingga bunga pinjaman modal usaha akan mengalami kenaikan juga. Implikasinya, bentrok kepentingan antara ego blok negara maju dengan aspirasi blok negara berkembang berpotensi meruncing tajam.

Pada titik inilah Indonesia wajib memosisikan dirinya sebagai mediator yang independen. Prinsip "no one left behind" harus dijunjung tinggi sebagai landasan utama sinergitas kedua kelompok negara. Tidak ada satupun negara yang benar-benar pulih sampai semua negara mengalaminya bersama-sama. Hanya dengan semangat inilah laju pemulihan ekonomi global yang inklusif akan terwujud.

Kapabilitas Indonesia sebagai komando acara bergengsi sekelas G20 jelas tidak perlu diragukan lagi. Di bawah Presidensi Indonesia tahun depan, penduduk dunia menitipkan sebuah harapan tunggal. G20 berhasil memberikan kontribusi dan menjadi bagian dari solusi atas restorasi ekonomi global.

*)Analis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Tim Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.