Monster

Minato dan Yori membangun dunia mereka sendiri dalam gerbong kereta api yang terbengkalai di hutan kota.

Farid Firdaus

10 Jan 2024 - 08.00
A-
A+
Monster

Tema Monster sangat lekat dengan kehidupan sekarang. - Foto IMDB

Bisnis, JAKARTA--Sutradara kawakan Jepang Hirokazu Kore-eda merilis film terbaru Monster yang menantang penonton dengan kerumitan drama keluarga tentang perundungan, homofobia, dan penyebaran rumor di media sosial.

Monster dibalut dengan gaya misteri, tiga sudut pandang, dan upaya Kore-eda menunjukkan sisi lain Jepang yang tidak berani ditunjukkan oleh sutradara lain.

Konflik dalam Monster dimulai saat seorang ibu bernama Saori (Sakura Ando) percaya terhadap klaim putranya Minato (Soya Kurokawa) yang mengatakan seorang guru menghina Minato dengan sebutan ‘otak babi’.

Alur film ini kemudian menelusuri bahwa gagasan ‘otak babi’ itu berasal dari karakter pendukung yang hampir tidak terlihat pada awal film, yakni Yori Hoshikawa (Hinata Hiiragi), teman sekelas Minato. Di titik ini, penonton mengetahui sebuah hubungan persahabatan yang tampak ditutup-tutupi oleh Minato.

Minato dan Yori membangun dunia mereka sendiri dalam gerbong kereta api yang terbengkalai di hutan kota. Sementara itu, sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak, sibuk menutupi situasi ‘perusak’ reputasi guru.

Tak banyak film yang benar-benar tahu cara menggambarkan gagasan bahwa terdapat anak-anak yang memiliki kepekaan lebih dari teman sebayanya. Naluri humanis Kore-eda mengeksekusi subjek tersebut dengan baik.

Kualitas Monster adalah penggunaan strategi bercerita yang tidak merubah sebuah kejadian, tetapi penonton diajak melihat lagi kejadian tersebut dari perspektif berbeda para tokohnya.

Kore-eda secara sengaja mengalihkan perhatian kita dengan topik-topik seperti intimidasi hingga bunuh diri, padahal topik sebenarnya bagaimana anak-anak bersosialisasi dan dampak perlakuan tak adil. Teknik seperti ini akan menunjukkan betapa mudahnya kita mengambil kesimpulan yang salah tentang orang lain.

Menjelang akhir film, Monster berhenti mengganggu pikiran penontonnya. Alih-alih menampilkan akhir cerita yang suram, ia menawarkan open-ending yang memberikan harapan.

Monster menggarisbawahi betapa seringnya penjelasan paling sederhana luput dari perhatian kita lantaran tertutup oleh lapisan ketakutan, prasangka, dan rasa saling curiga. Tema ini sangat lekat dengan kehidupan sekarang.

Happiness is something anyone can have.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.