Mubadala dan Harbour Energy Lanjutkan Eksplorasi Laut Andaman

Mubadala Energy dan Harbour Energy berencana melanjutkan kegiatan pengeboran empat sumur eksplorasi di Laut Andaman, dengan perkiraan investasi mencapai US$360 juta, setara dengan Rp5,5 triliun (asumsi kurs Rp15.290 per dolar AS).

Ibeth Nurbaiti

28 Agt 2023 - 16.08
A-
A+
Mubadala dan Harbour Energy Lanjutkan Eksplorasi Laut Andaman

Fasilitas pengeboran sumur Timpan-1 di Blok Andaman yang dilakukan Premier Oil Andaman Ltd. Istimewa/Dok. SKK Migas

Bisnis, JAKARTA — Mubadala Energy bersama perusahaan minyak dan gas asal Inggris, Harbour Energy, berencana melanjutkan kegiatan pengeboran empat sumur eksplorasi di Laut Andaman, yang terbentang di Blok Andaman II dan South Andaman. 

Adapun, Harbour Energy lewat anak usahanya Premier Oil di konsesi Andaman memegang hak partisipasi (participating interest/PI) sebesar 40 persen untuk wilayah kerja (WK) Andaman II. Premier Oil menjadi operator pada blok tersebut, sedangkan BP dan Mubadala Energy mengimpit saham minoritas. 

Sementara itu di blok South Andaman, Premier Oil memegang hak partisipasi minoritas 20 persen, sedangkan Mubadala Energy bertindak sebagai operator dengan hak partisipasi 80 persen.

Baca juga: Potensi Migas Aceh, dari Andaman, Singkil Hingga Meulaboh

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan investasi empat sumur eksplorasi di Laut Andaman yang akan dikerjakan oleh Harbour Energy bersama Mubadala Energy tersebut mencapai US$360 juta, setara dengan Rp5,5 triliun (asumsi kurs Rp15.290 per dolar AS). 

Rencananya, perluasan sumur eksplorasi yang ditajak itu bakal menyasar prospek layaran di Blok South Andaman, yang dioperasikan Mubadala Energy. Pengeboran eksplorasi berikutnya dilanjutkan pada prospek Halwa dan Gayo di Blok Andaman II. Sementara itu, pengeboran ke-4 akan dilakukan kembali di South Andaman selepas hasil pengeboran Layaran ditentukan.

“Kalau terjadi temuan [discovery] dan dilanjutkan dengan sumur delineasi, diharapkan PoD [plan of development] masing-masing lapangan sudah dapat dibahas dan disetujui di 2026/2027, onstream di 2029/2030,” kata Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah SKK Migas Benny Lubiantara kepada Bisnis, Minggu (27/8/2023). 

Baca juga: Pesona Andaman Gairahkan Hulu Migas, Aceh Bakal Jadi Primadona

Menurut Benny, ambisi perluasan sumur eksplorasi itu tengah dikejar untuk mengonfirmasi potensi sumber daya atau recoverable reserves P50 gas yang ditaksir mencapai sekitar 4 triliun kaki kubik (trilliun cubic feet/Tcf) hingga 5 Tcf di laut dalam tersebut. 


Momentum eksplorasi itu mendapat gaungnya setelah tajak sumur pertama di Timpan-1, Blok Andaman II pada tahun lalu sukses mengalirkan tambahah sumber daya kontigen (2C) 80 mmboe dan potensi gas (multi-TCF play) yang signifikan.

Kendati demikian, Benny menegaskan bahwa rencana PoD dari dua blok itu masih bersifat dinamis mengikuti hasil eksplorasi dari beberapa sumur yang akan ditajak Oktober 2023 hingga tahun depan. 

“Tentu saja ini masih estimasi kasar. Dalam realitasnya nanti, tentunya sangat dinamis. Intinya ketika data dari kegiatan eksplorasi ini sudah memadai untuk jadi PoD, semua proses akan kita akselerasi,” ujarnya. 

Baca juga: Indonesia Harus Cepat, Migas Andaman Bakal Jadi Rebutan

Sementara itu, Chief Executive Officer Harbour Energy, Linda Z Cook lewat keterbukaan informasi menyebutkan bahwa perusahaannya melihat kemajuan dari kesempatan investasi strategis di luar Inggris seperti di Indonesia.

“Ini akan berpotensi menambah keberlanjutan cadangan kita, dan membantu pengembalian untuk pemegang saham dan diversifikasi perusahaan,” kata Linda dikutip Minggu (27/8/2023). 

Sebagai gambaran, pada pertengahan 2022 Harbour Energy lewat anak usahanya, Premier Oil, berhasil mengangkut gas sebesar 27 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) dan 1.884 barel kondensat per hari (bopd) pada kedalaman bor 13.818 kaki di bawah laut.

“Perusahaan migas internasional telah membuktikan keseriusan mereka untuk menggarap potensi eksplorasi yang high risk, tentunya ini menunjukan bahwa daya tarik investasi kita masih menjanjikan,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam keterangannya, Minggu (6/8/2023). 

Baca juga: Nasib Tak Pasti Blok Tuna Ditinggal BUMN Migas Rusia

Menurut Dwi, komitmen eksplorasi itu menjadi angin segar bagi pemerintah dan juga pemangku kepentingan industri hulu migas lantaran potensi laut dalam di beberapa kawasan saat ini belum banyak tersentuh.


Kendati demikian, potensi sumber daya gas di Blok Andaman, Aceh yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dan Thailand, diperkirakan mencapai 6 Tcf di masing-masing Blok Andaman I, II, dan III, sehingga disebut menjadi temuan terbesar yang ada di dunia saat ini.

Berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), temuan potensi sumber daya gas di Andaman II murni mengandung gas tanpa bauran karbon dioksida atau Co2 yang membuat proyek lapangan makin kompetitif di tengah isu transisi energi.

Tidak tertutup kemungkinan, potensi migas Blok Andaman akan memicu terjadinya konflik jika nantinya terjadi tarik menarik antarnegara yang berada di wilayah tersebut. Terlebih Blok Andaman digadang-gadang memiliki potensi sumber daya gas yang melimpah, bahkan disebut bakal menjadi yang terbesar di dunia. (Nyoman Ary Wahyudi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.