Multifinance Menuju Arah Pemulihan, Fase Ekspansi Berlanjut

Industri pembiayaan mulai menuju arah pemulihan yang cukup positif. Piutang pembiayaan mulai beranjak naik setelah beberapa tahun terakhir terpukul pandemi Covid-19. Pelaku multifinance cukup optimistis ekspansi bisnis akan menguat, meskipun masih ada faktor yang perlu diwaspadai.

Asteria Desi Kartikasari
Apr 29, 2022 - 1:20 PM
A-
A+
Multifinance Menuju Arah Pemulihan, Fase Ekspansi Berlanjut

Multifinance/Istimewa

Bisnis, JAKARTA—  Industri pembiayaan atau multifinance mulai menunjukan tajinya, setelah dua tahun mengalami kontraksi akibat pandemi  Covid-19. Piutang pembiayaan mulai beranjak naik dalam kurun waktu lima bulan terakhir. 

Kondisi tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang  mencatatkan piutang pembiayaan sampai dengan Maret 2022tumbuh 2,83persen atau Rp374 triliun. Pelaku industri cukup optimistis perusahaan dapat melanjutkan ekspansi. Jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu, angka pertumbuhan hingga Maret 2022 tercatat sebesar 2,68 persen.

Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan sektor jasa keuangan hingga kuartal pertama tahun ini tetap terjaga dan bertumbuh seiring dengan peningkatan fungsi intermediasi di sektor perbankan dan industri keuangan nonbank (IKNB), serta menguatkan pasar domestik. 

“Kondisi stabilitas ini bersama terkendalinya pandemi yang meningkatkan aktivitas sosial ekonomi masyarakat telah mendorong pertumbuhan perekonomian nasional meskipun terdapat peningkatan tensi geopolitik di Eropa dan normalisasi kebijakan moneter,” dikutip dalam keterangan resminya Jumat (29/4/2022).

Khusus sektor IKNB, Anto mengatakan peningkatan piutang pembiayaan terutama didorong oleh jenis pembiayaan modal kerja dan investasi dengan mayoritas sektoral mengalami pertumbuhan positif.

Meskipun telah mencatatkan sinyal positif, sektor ini memang belum sepenuhnya pulih. Lembaga pengelola informasi perkreditan, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) menilai fenomena pemulihan kondisi debitur industri pembiayaan kendati belum sepenuhnya kembali seperti sedia kala.

Direktur Utama IdScore Yohanes Arts Abimanyu mengatakan hal ini tampak dari peningkatan portofolio kredit multifinance mitra yang telah meningkat.  Portofolio kredit  multifiannce anggota IdScore telah mengalami tren peningkatan sejak September 2022. “Portofolio kredit anggota telah mencapai Rp303,65 triliun,” katanya.

Adapun nilai tersebut tercatat lebih besar dari rata-rata bulanan di era pandemi sekitar Rp293 triliun. IdScore mencatat nilai itu meningkat 1,63 persen secara bulanan, dan meningkat 3,36 persen secara tahunan.

Dia memproyeksi adanya tren peningkatan portofolio kredit multifinance pada akhir 2022 sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan peningkatan penjualan kendaraan bermotor. 

Meski begitu, dia mengimbau pelaku pembiayaan untuk tetap hati-hati, sebab profil risiko debitur secara umum masih belum pulih. 

Sementara, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno mengungkap pulihnya sektor multifinance terdorong karena pulihnya rasio-rasio kinerja industri dari masa-masa gelap era pandemi Covid-19, terutama rasio yang menggambarkan pembentukan laba.

“Jadi tahun ini terbilang sangat memungkinkan bagi setiap multifinance membidik target kinerja lebih baik ketimbang tahun lalu,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (26/4/2022).

Misalnya, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang biasanya berkisar 79 persen pada periode normal, kini menyentuh 78,48 persen per Februari 2022.

Selain itu, return on asset (ROA) alias rasio laba terhadap aset, telah kembali ke level rata-rata periode normal senilai 4,82 persen. Adapun, return on equity (ROE) atau rasio laba bersih terhadap total ekuitas juga pulih beriringan, kembali ke 12,04 persen , kendati pada periode normal bisa berada di kisaran 14,5 persen.

Sementara itu, pembiayaan bermasalah (nonperforming financing/NPF) pun mencapai 3,25 persen, sedikit lagi menyentuh rata-rata periode normal yang biasanya di kisaran 2,5 persen. Terakhir, gearing ratio (GR) yang berada di 1,94 kali menjadi satu-satunya yang masih belum menggeliat, akibat masih adanya fenomena kesulitan memperoleh pendanaan buat para multifinance kecil di daerah.

Suwandi mengungkap kualitas pembiayaan terbilang akan bisa dengan mudah dipertahankan para pemain masing-masing karena APPI mencatat seluruh pemain telah bergabung dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) besutan otoritas sejak April 2019.

Lalu, sebagian besar pemain juga telah terhubung dengan sistem daftar agunan atau asset registry yang terekam ke dalam PT Rapi Utama Indonesia (RAPINDO), badan usaha yang seluruh sahamnya dimiliki oleh APPI, yang memberikan akses verifikasi data, nomor telepon, riwayat pembiayaan nasabah, selain tentunya daftar aset agunan itu sendiri.

“Memasuki tahun ini, debitur bagus daya belinya sudah kembali pulih. Sementara itu, debitur yang bergiat di sektor yang lambat pulih dari pandemi Covid-19 pun masih bisa ikut restrukturisasi. Hasilnya, pemain multifinance bisa lebih fleksibel dalam berekspansi,” tambahnya.


REKOR

Sejalan dengan ekspektasi kinerja industri pada tahun ini, emiten pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFI Finance/BFIN) mencatatkan rekor nilai pembiayaan baru (booking) per kuartal sejak perusahaan berdiri.

Direktur Keuangan sekaligus Corporate Secretary BFI Finance Sudjono mengungkap pada kuartal I/2022, realisasi pembiayaan baru senilai Rp4,8 triliun, tercatat meningkat 61,8 persen secara tahunan dan tumbuh 10,9 persen secara kuartalan.

“Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, serta peningkatan kebutuhan dan konsumsi jelang Ramadan dan Lebaran juga turut mendukung kinerja perseroan sepanjang kuartal I/2022 lalu,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (27/4/2022).

Menurut Sudjono, kendati awal tahun masih sempat dibayangi gelombang virus Covid-19 varian baru, kinerja BFIN bisa melesat seiring dengan pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat, keberhasilan program vaksin, serta kembalinya aktivitas pelaku usaha di beragam lini industri.

Peningkatan nilai booking ini turut mengatrol jumlah total piutang yang dikelola BFIN menjadi Rp15,6 triliun, naik 14,3 persen dibandingkan kuartal I/2021. Sementara itu, nilai aset dilaporkan sebesar Rp16,4 triliun, tercatat tumbuh 15,4 persen secara tahunan.

Rasio pembiayaan bermasalah perusahaan yang menggarap segmen multiguna mobil dan motor, mobil bekas, dan alat berat ini pun tetap stabil di angka 1,06 persen , sementara NPF neto sebesar 0,26 persen.

Dengan kondisi ekonomi dan kinerja yang membaik, BFIN pun mulai menurunkan cadangan kerugian piutang dari sebelumnya 7,6 persen  pada kuartal I/2021 menjadi 5,4 persen pada kuartal I/2022.

Untuk piutang pembiayaan yang dikelola berdasarkan jenis aset, komposisi mobil (bekas dan baru) mendominasi sebesar 70,7 persen , disusul oleh alat berat dan mesin sebesar 12,5 persen.


Dari sisi laba bersih, mengumpulkan Rp396 miliar atau naik 72,5 persen secara tahunan. Pertumbuhan laba bersih berasal dari pendapatan yang mencapai Rp1,2 triliun atau tumbuh 18,4 persen secara tahunan. Sementara itu, pos biaya turun 3,6 persen.

Per 31 Maret 2022, sisa nilai piutang dari kontrak yang melakukan restrukturisasi atau relaksasi terkait pandemi Covid-19 tersisa 6,9 persen dari keseluruhan nilai piutang pembiayaan yang dikelola, atau turun secara signifikan dari nilai persentase tertinggi 35,5 persen pada September 2020.

Sebagian besar dari piutang relaksasi tersebut dalam tahap pembayaran normal. Adapun, 1,3 persen sisanya masih dalam program relaksasi.

“Diharapkan piutang relaksasi atau restrukturisasi ini dapat dituntaskan sepenuhnya di 2022, mengingat sejak akhir 2021 kurva-nya sudah terus menurun,” ungkap Sudjono.

Sekadar informasi, BFI Finance menyalurkan Rp13,67 triliun sepanjang tahun lalu, tercatat naik 79,8 persen secara tahunan dari Rp7,6 triliun. Tahun ini, BFIN menargetkan mampu tumbuh di kisaran 10–15 persen.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Mandiri Utama Finance, Stanley Setia Atmadja sebelumnya mengakui tantangan terbesar saat ini, yaitu potensi lesunya kredit otomotif akibat tekanan inflasi dan tren pelemahan daya beli masyarakat setelah Lebaran.

Akan tetapi, seiring dengan pengalaman MUF selama dua tahun belakangan menghadapi tantangan pandemi Covid-19, Stanley masih meyakini bahwa 2022 terbilang lebih mudah untuk bertumbuh.

“Sampai saat ini keyakinan kami masih 100 persen dari target, baik dari volume pembiayaan maupun profitabilitas,” ujarnya.

Sebagai informasi, sampai Maret 2022 alias sepanjang kuartal I/2022, MUF sudah menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp3,7 triliun. Target sepanjang tahun ini dipatok tumbuh 5-6 persen secara tahunan dari Rp12,3 triliun.

(Reporter: Aziz Rahardiyan)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Multifinance Menuju Arah Pemulihan, Fase Ekspansi Berlanjut

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ