Free

Nestapa Tanah Abang Jelang Lebaran

Dalam dua tahun terakhir, geliat perdagangan di Pasar Tanah Abang menghadapi gejolak. Selain akibat lesunya daya beli masyarakat, kehadiran situs dagang-el selama dalam tiga tahun terakhir memberi pukulan bagi pusat grosir terbesar di Indonesia ini. Bagaimana ikhtiar pekerja agar tetap bertahan?

Redaksi

8 Apr 2024 - 12.37
A-
A+
Nestapa Tanah Abang Jelang Lebaran

Aktivitas di Pasar Tanah Abang dua pekan menjelang Lebaran 2024./ Bisnis-Muhammad Nishfi Azriel

Bisnis, JAKARTA - Sudah dua jam pria itu terduduk di salah satu anak tangga di sudut Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sejak pagi hingga menjelang siang, belum ada panggilan pengantaran barang untuknya. 


Hingga pukul 11.30 WIB, Sabda masih duduk di tangga menatap ke arah pertokoan. Peraduan nasib sebagai kuli angkut atau porter di Pasar Tanah Abang sudah ia lakoni sejak 13 tahun lalu. 


Sabda sempat mengenang masa-masa jaya seorang kuli angkut. Dulu, ia bisa mengantongi Rp800.000 sampai Rp1 juta sehari. Bayaran ini tentu tidak sedikit. Untuk beberapa waktu, keluarganya mendapat nafkah cukup dari pekerjaan itu. Namun kini, ia hanya mendapat setengahnya.


“Dulu saya dicari, sekarang malah saya yang harus mencari” ujar Sabda kepada Bisnis, akhir Maret lalu.


Aktivitas kuli angkut di pasar grosir terbesar di Indonesia ini dipengaruhi oleh aturan ihwal pengantaran barang. Pihak pedagang atau pemilik toko dulu dilarang membawa barang dagangannya sendiri. Namun, aturan tersebut kini ditiadakan. Alhasil, pendapatannya dari hasil pengantaran paket seketika merosot.


Berpalingnya para pedagang dari jasa porter tidak hanya disebabkan oleh penghapusan aturan tadi. Siasat ini merupakan upaya dari pedagang, walaupun fluktuatif, untuk menekan pengeluaran mereka. Semakin banyak pembeli yang mulai beralih belanja secara online melalui platform e-commerce juga menjadi sebab.


Baca juga:

Tren Baju Muslim Terkini di Pasar Tanah Abang, Siap Hunting?

Bukan Salah Shopee hingga TikTok Shop Jika Tanah Abang Sepi

Minim Dampak Pedagang Tanah Abang meski TikTok Shop Tutup

Mencari Akar Masalah Tanah Abang Sepi, Bukan Salahkan TikTok


Bukan lagi rahasia, jumlah pengguna platform e-commerce terus bertambah saban tahun. Hadirnya platform lokapasar memberikan pilihan baru bagi masyarakat dalam berbelanja. Hingga tahun 2029, pengguna platform e-commerce diperkirakan menyentuh 133,78 juta.


Permasalahan e-commerce tahun lalu tidak lain adalah mengenai fenomena Tiktok Shop. Sebabnya, barang-barang yang dijual di Tiktok Shop jauh di bawah harga yang wajar di pasar. 


Hingga akhir tahun lalu, wacana Tanah Abang terus disangkutpautkan dengan fenomena Tiktok Shop. Sempat ditutup pada awal Oktober 2023, platform itu kembali dibuka dua bulan kemudian setelah diakuisisi oleh Tokopedia.


“Percaya atau engga, ditutupnya Tiktok Shop selama dua bulan itu lumayan berpengaruh kepada pedagang di sini,” ujar Sabda.


Menjelang bulan Ramadhan, para pembeli yang datang kebanyakan berburu baju muslim serta alat-alat ibadah seperti sarung dan mukena. Secara kuantitas, pembeli yang datang menjelang Lebaran tahun lalu masih jauh lebih banyak.


“Tahun lalu jumlah pembeli masih lebih banyak,” katanya lagi.


Aktivitas kuli panggul di salah satu sudut Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat./ Bisnis-Muhammad Nishfi Azriel


BERALIH KE TIKTOK


Para pedagang di Tanah Abang bukannya menghindari berinovasi. Beberapa toko terutama di Blok A dan Blok B kerap berjualan sambil mencoba peruntungan lain dengan menjajal live streaming di Tiktok Shop.


Hasilnya, tidak semua pedagang menemukan pertumbuhan penjualan yang signifikan dengan beralih menjadi digital. Justru, penggunaan Tiktok Shop dinilai sulit untuk digunakan oleh para pemilik toko.


Kesulitan tersebut contohnya dirasakan oleh Riani yang sudah bekerja di Tanah Abang selama 12 tahun. Riani sempat menggunakan Tiktok Shop selama beberapa waktu. Menurut Riani, pembeli di Tiktok Shop cenderung sulit untuk terus menyimak live streaming.


“Saya udah pernah coba jualan dari Tiktok Shop. Susah banget buat meyakinkan mereka beli,” ujar Riani.


Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan sempat menyambangi Tanah Abang pada beberapa waktu lalu. Zulhas menyebutkan barang-barang yang dijual berada di level harga yang ekonomis. 


“Di Pasar Tanah Abang, untuk keperluan Lebaran, termasuk pakaian, kita bisa melihat modelnya bagus-bagus. Kita  melihat  pakaian  yang  dijual  berkualitas  dengan  harga  ekonomis,” ujar Zulhas dalam pernyataan resmi, Kamis (14/3/2024).


Zulhas juga mengomentari kondisi Tanah Abang yang sudah cukup ramai. Hal tersebut dinilai menunjukan pertumbuhan ekonomi ke arah positif.


“Kita bisa melihat, masih pagi, tapi Pasar Tanah Abang sudah ramai, meskipun hari Kamis. Kalau Jumat,   Sabtu,   dan   Minggu   bisa   lebih   ramai.   Ini   menandakan   geliat   ekonomi   Indonesia, Alhamdulillah,  masih  di  atas  rata-rata. Kita harus syukuri ini jika dibanding negara lain,” pungkas Zulhas.


Opini Zulhas tidak dirasakan baik oleh Sabda maupun Riani. Bagi mereka berdua, kondisi bulan Ramadhan tahun lalu jauh lebih baik dibanding tahun ini.


“Tahun lalu masih lebih baik. Kalau tahun ini penjualan lumayan hancur sih,” ujar Riani lagi.




Tidak bisa dipungkiri bahwa para pembeli yang datang berbelanja memang masih cukup padat. Meskipun ada juga konsumen yang datang dari luar Jabodetabek, mayoritas konsumen masih didominasi warga sekitar saja.


“Kalau sudah memasuki bulan Ramadhan, biasanya para pengunjung cuma orang-orang sekitar sini saja. Pembeli dari luar kota biasanya berbelanja di beberapa minggu sebelum puasa,” ujar Sabda.


Tanah Abang sedang dalam masa rumit. Menurunnya total penjualan mampu mempengaruhi semua orang yang menggantungkan hidup di sana. Sebagai pusat grosir terbesar bahkan se Asia Tenggara, Tanah Abang kerap dijadikan acuan soal grosir tekstil.


“Kita nggak bisa selalu menyalahkan regulasi. Kenapa Tanah Abang bisa turun sekarang dipengaruhi oleh banyak pihak. Yang jelas, saya yakin kok Tanah Abang masih akan terus dijadikan patokan soal perdagangan baju,” ujar Sabda. (Muhammad Nishfi Azriel)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.