New Oil

Who has the data has the power!

Ana Noviani

30 Mar 2023 - 06.36
A-
A+
New Oil

Logo aplikasi media sosial TikTok yang dikelola oleh ByteDance - Foto Bloomberg-Brent Lewin

Bisnis, JAKARTA - Sosok Shou Zi Chew mendadak menjadi perbincangan hangat dalam sepekan terakhir. Banyak orang yang penasaran terhadap sosok bos Tiktok yang selama lebih dari 5 jam ‘diinterogasi’ oleh parlemen Amerika Serikat.

Chew duduk di kursi Chief Executive Officer TikTok sejak 2021. Kariernya yang cemerlang di dunia teknologi dimulai setelah Chew menyelesaikan studi Master of Business Administration di Harvard Business School pada 2010.

Berawal dari Facebook, Chew menyeberang ke Xiaomi pada 2015 hingga 2019. Dua tahun berselang, pria kelahiran Singapura itu ‘dibajak’ oleh pendiri ByteDance Zhang Yiming untuk menjabat sebagai Chief Financial Officer.

Singkat cerita, teman kuliahnya itu kemudaian mempercayakan posisi CEO Tiktok kepada Chew saat pengguna aktif bulanan platform berbagi video pendek itu diestimasi Business of Apps mencapai 812 juta.

Pandemi dan pesatnya digitalisasi turut mendorong jumlah pengguna aplikasi TikTok di seluruh dunia menembus 1,6 miliar pengguna aktif hingga kuartal III/2022. Angka fantastis itu setara dengan lebih dari lima kali lipat jumlah penduduk Indonesia.

Di hadapan Kongres AS, Chew menyebut TikTok memiliki kurang lebih 150 juta pengguna aktif di negeri Paman Sam. Masifnya jumlah pengguna TikTok yang mencapai 50% dari total populasi membuat parlemen AS ketar-ketir.

Duduk perkaranya tak terlepas dari sengitnya rivalitas AS vs China untuk menjadi negara dengan ekonomi nomor wahid di dunia. TikTok yang notabene merupakan anak usaha Bytedance dikhawatirkan menyelewengkan data penggunanya untuk kepentingan Beijing.

Menepis tudingan anggota kongres AS, Chew berkali-kali menegaskan Pemerintah China tidak memiliki akses terhadap data aplikasi TikTok. Dia menambahkan TikTok punya pangkalan data di server AS yang dimiliki oleh Oracle Corp.

Di era digital ekonomi, data menjadi aset sekaligus amunisi yang amat berharga. Presiden Joko Widodo mengamini hal tersebut.

Data disebut Jokowi sebagai ‘new oil’ yang harganya tak terhingga. Kepala negara juga menegaskan kedaulatan dan keamanan data dalam negeri harus jadi perhatian bersama.

Bagi investor pasar modal, data juga menjadi pisau analisis yang penting. Sebelum mengoleksi saham emiten, investor perlu lebih dulu melakukan riset dan mengumpulkan data terkait perusahaan yang diincar.

Data penting yang perlu dicermati a.l. laporan keuangan, pemilik dan manajemen emiten, hingga prospek industri. Selanjutnya, data transaksi saham juga dapat dicermati.

Seperti kutipan populer Tim O’Reilly, “Who has the data has the power!”


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.